
Satu, dua, lima. Bahkan aku sampai lupa, berapa kali aku menjejakkan kaki di Terminal Bulu Pitu tiap tahunnya. Seolah menjadi rutinitas yang sudah kujalani selama tujuh tahun terakhir. Bahkan jika tiap sudut terminal bisa berbicara, mungkin akan ada yang menitikkan air mata saat tidak mendapatiku hadir di tempat ini pada waktu tertentu. Sebuah tempat dengan suara bisingnya yang khas, aroma kecut bercampur asap knalpot, dipadukan asap rokok yang semakin memperjelas betapa khasnya tempat ini.
Untuk yang ketiga kalinya aku menghela napas, menatap sudut kiri atas ponselku. Memastikan bahwa angka yang tertera sudah benar-benar di angka sebelas. Ya, sebelas lebih sebelas siang. Di tanggal sebelas, bulan sebelas juga. Sungguh angka yang sangat cantik. Jangan mengira jika ini juga tahun 2011, tahun itu sudah jauh terlewat. Saking jauhnya, aku kesulitan mengingat, apa saja yang aku lakukan di tahun itu, momen bahagia apa yang aku alami di tahun itu.
Bus dengan tulisan Jogja-Purwokerto yang aku tunggu keberangkatannya akhirnya mulai bergerak meninggalkan terminal. Masih ada lebih dari seratus kilometer lagi untukku tiba di tempat tujuan. Sebuah tempat yang selama tujuh tahun ini menjadi tempat pulang dari penat dan bisingnya hiruk pikuk dunia.
“Permisi.”
Kepalaku kontan mendongak, mendapati sosok berperawakan tinggi dan sedikit berisi. Ada bayangan yang kukenal dalam sorot matanya, meskipun tak kujumpai kehidupan di sana. Segera aku menyingkirkan sebuah tas kecil yang sebelumnya aku letakkan di bangku sebelah, kemudian kembali menatap ke luar jendela. Langit di luar tampak kelabu, serupa dengan hatiku.
Rintik gerimis seolah ikut membasahi hati, dingin dan menusuk. Pemandangan jalanan kota membuatku memalingkan wajah, tidak ada yang berubah, tidak ada yang menarik.
“Pergi ke Jogja?”
Hanya anggukan yang bisa aku berikan, lidah seolah kelu. Setelah mencoba, akhirnya aku bisa bersuara. “Kamu?”
“Sama.”
Setelahnya hening. Kuamati sosok itu melalui ekor mata. Seketika ingatanku tertuju pada sesuatu, sontak kepalaku bergerak dan menatapnya lekat.
“Apa?”
Kenapa sosoknya begitu serupa dengan seseorang yang tak pernah kembali dari tugasnya? Seseorang yang mengatakan ‘tunggu aku seratus hari lagi’ dan aku melakukannya. Seseorang yang hingga saat ini kuanggap abadi bersama deburan ombak.
“Ada yang aneh?” tanyanya lagi.
Aku menjawab dengan gelengan, “Salah orang,” lanjutku. “Mirip dengan seseorang?” tebaknya.
“Sedikit.” Namun aku kembali menatapnya untuk memastikan, bahwa kemiripan itu hanya sedikit dan sosok yang disampingku bukan dirinya.
Bermenit-menit setelahnya, aku hanya diam. Kepala begitu penuh dengan asumsi, menduga- duga banyak hal. Lagi-lagi pemandangan luar jendela menarik perhatian, rintik gerimis berubah menjadi tetesan air yang semakin sering intensitasnya.
“Tidak semua hal di dunia ini berjalan seperti apa yang kamu mau, setidaknya kamu pernah berusaha dan mencoba.”
“Apa itu juga berlaku terhadap sebuah janji?” tanyaku.
“Jangan terlalu percaya pada orang lain, sebelum mempercayai diri sendiri.”
“Lima ratus hari, mendekap angan yang bahkan tidak akan pernah nyata. Omong kosong yang menghabiskan waktu.”
Ada jeda, sebelum aku kembali mendengar suara. “Lantas, mengapa masih diteruskan jika seratus hari janji itu tidak pernah terjadi? Mengapa masih bertahan hingga hari ke lima ratus?”
Aku kontan terdiam. Berusaha mencerna baik-baik. Seketika aku menarik napas, seolah baru saja kehilangan awan mendung di kepala. Benar apa yang diucapnya. Untuk apa aku terus bertahan di angan itu jika hari ke seratus sudah kulewati?
Segera aku membalikkan badan, mendapati bangku sampingku kosong. Bahkan tas kecil yang tadi kusingkirkan, kembali tergeletak di kursi. Kemana perginya sosok itu?
Apa sosok itu hanya ilusi? Seperti kebahagiaan semu yang selama ini aku rangkai, sembari menunggu janji di seratus hari.

Isnanur Karomah, seorang gadis 23 tahun yang gemar mengekspresikan diri melalui narasi monolog. Karya recehnya bisa dibaca di platform baca tulis Wattpad, Teenlit, maupun akun Instagram pribadi. Dapat dihubungi melalui akun Instagram @snnwrk maupun email isnakpenulis@gmail.com.




