
Santi dengan umurnya yang mulai memasuki enam puluhan, masih dengan tekad yang sama. Bertahun-tahun duduk termenung di antara manusia penuh euforia. Teras kayu yang lapuk dan kaki yang seolah-olah ingin berhenti menjadi kaki. Jika diizinkan oleh Tuhan, Santi menginginkan kakinya diganti saja dengan ekor ikan. Agar ia bisa berenang dengan makhluk Tuhan lain yang bukan bernama manusia. Setiap harinya hanya bermain, muncul ke permukaan lalu kembali menyelam menemui kesedihan yang sepakat kalah dengan kebahagiaan. Bergumul dengan terumbu karang, menyelami dasar-dasar kehidupan yang tak pernah luput dari perasaan. Andai saja.
Setiap hari ketika masyarakat mulai melakukan aktivitas yang sempat terhenti oleh malam, mata sayu itu selalu dipandang orang-orang. Pun setiap hari beras yang ditanak para tetangganya dibungkus dengan daun pisang lalu ditaruhnya di samping Santi. Mereka memberikannya tanpa banyak kata yang terucap seperti sekadar basa basi, sedang apa Yu? Bukan karena mereka tak pernah mau berbicara atau terlalu enggan mengobrol lebih lanjut dengannya. Mereka kelu mendengar jawaban yang keluar dari mulut Santi,
“Aku lagi nunggu untuk bertemu Tuhan atau bertemu suamiku.”
Layaknya sebuah apel yang dipetik empunya, diusap untuk memastikan agar apel ranum itu bersih. Lalu ditancapkannya pisau itu untuk menuju puncak kenikmatan. Santi adalah apel. Dibelainya penuh belas kasih oleh tetangganya, namun ia tahu bahwasanya hidup itu telah berhenti sejak suaminya pamit meninggalkan rumah. Perlakuan tetangganya bukan menjadikan dia lebih baik namun sebaliknya. Ia merasa hidupnya terlalu sedih untuk dilihat hingga mereka turut bersimpati.
Hari-harinya diisi oleh sunyi, duduk termenung di teras rumah menunggu janji yang tak pernah dipadamkan olehnya. Walaupun si pemberi janji mungkin sudah memadamkan, sengaja atau tidak. Santi memiliki dua doa: suaminya kembali atau mati saja. Aku akan pergi sebentar, mungkin setahun dua tahun, kalimat itu terngiang selalu, menghantui.
Terkadang ia juga menyajikan teh hangat di pagi hari. Bukan untuk diminum dan menghapus dahaga, melainkan bentuk kerinduan yang tak bisa diutarakan. Saya janji akan kembali, rasanya busuk sekali kata-kata itu. Seperti belati yang menancap, sakit.
“Setelah menikah, kita akan mempunyai dua anak laki-laki dan perempuan. Jika masa tua sudah menjemput kita, rasanya akan sangat menyenangkan untuk duduk di teras sembari melihat cucu dari anak-anak kita bermain dan tertawa.”
“Bisa saja kamu. Tehnya diminum dulu, takut dingin.”
Seteguk dua teguk. Rasanya hangat, bukan hanya tehnya namun suasananya. Dinginnya udara pagi hari tak mampu mendinginkan hangatnya mereka. Namun hangat di waktu ini seolah sirna oleh dinginnya janji-janji kala itu. Suaminya pamit meninggalkannya, katanya akan membawakan takdir yang lebih baik untuk Santi. Nyatanya, kepergian itu hanya membuatnya sepi, ia pergi sebelum keturunan yang diimpikan tertanam di rahim. Dapat dikatakan sekarang hanya sebatang kara.
Tuhan, aku lelah menunggu
Sudah banyak tetangga yang mengajaknya bersosialisasi, seperti membuat makanan untuk kenduri dusun, mengobrol di rumah tetangga dengan buah rujakan di atas nampan, pun berbelanja sayur di warung Yu Dar pagi hari. Ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya yang sudah dihiasi uban. Sebenarnya Santi sangat ingin melakukan kegiatan tersebut tanpa ada bayang-bayang suaminya. Namun apa daya, ingatannya seolah mencekalnya untuk hal itu.
“ Yu Santi!”
Tetangganya memanggil dan ia hanya menulikan pendengaran. Tetap mengaduk teh hangat untuk disajikan hingga menjadi dingin.
“Yu, aku lihat suamimu, di pasar Senen tadi!”
Sendok yang berputar terhenti. Dadanya bergemuruh, seolah-olah ledakan telah terjadi di dalam sana. Ia berpikir untuk apa mempercayai omongan tetangganya itu. Tapi kali ini, sisi lain dirinya memberontak. Segera ia membuka pintu dan menghampiri tetangga.
“Ayo ikut aku.”
Becak itu membawa dua penumpang. Satu penumpang dengan usaha keras untuk membuat Santi percaya serta Santi sendiri yang masih tak sepenuhnya percaya. Pengendara becak pun turut bersemangat mengayuh becaknya setelah tahu beritanya. Sepuluh menit di hari ini adalah hari terpanjang baginya. Puluhan tahun menunggu suami kembali ke pelukan seperti tak berarti dengan panjangnya pikiran, hati dan apa pun yang akan terjadi.
Pasar Senen sangat ramai hari ini, seperti pikiran dan hati Santi. Tubuhnya seolah segar serta rindu itu terbawa oleh ramainya Pasar Senen.
“Kang Tedjo!”
Santi tergopoh-gopoh mendekati suaminya. Rambutnya sama-sama telah beruban, luruh air mata keduanya ingin segera mempercepat waktu untuk kembali mendekap separuh hidupnya.
“Santi!”
Mobil bermuatan sayur menghantam tubuh Santi, kencang. Ia terpental hingga beberapa meter. Tedjo Wirana, panggil saja Kang Tedjo yang berstatus suami Santi itu termenung. Ia menyalahkan Tuhan sembari mendekati istrinya itu. Darah terlihat jelas di matanya. Dengan bergetar, diraih tubuh lemas itu dan mengangkat menuju mobil yang menabrak. Untung saja pengemudi mobil mau bertanggungjawab.
Sepuluh menit kali ini giliran menjadi waktu terpanjang untuk Kang Tedjo. Melihat pujaannya tergeletak lemas. Tak ada lagi mata berbinar-binar seperti di seberang jalan tadi. Tak ada lagi senyum yang dinantinya kali ini. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja ia tak ceroboh dalam bekerja, kecelakaan fatal itu tak pernah terjadi hingga ia lupa dengan ingatannya. Puluhan tahun ia hidup bersama teman sepekerjaannya yang bahkan tak tahu alamat lengkapnya Kang Tedjo. Kalaupun para tuan dan puan bertanya kenapa tak bisa memberikan kabar kepada Santi, oh ayolah sedikit dimengerti bahwa saat itu belum banyak telepon, kalaupun ada paling segelintir orang berduit. Fakta menyebalkannya, jaringan tak mampu menjamah dusun Santi, berkabar melalui surat juga tak ada yang tahu alamatnya. Hanya Kang Tedjo yang tahu alamatnya dan sekali lagi bahwa ia lupa ingatan. Bersyukur saja temannya bermurah hati untuk merawat hingga ingatan Kang Tedjo pulih. Setelah ingatannya benar-benar pulih, dua bulan kemudian ia pulang dan membawa kata maaf dengan begitu besarnya. Belum sempat terucap kata maaf itu, tubuh istrinya limbung oleh mobil yang melaju kencang.
“Santi, maaf.”
Tiga hari mata Santi tertutup rapat, detak jantungnya lemah. Tedjo meminta maaf berkali-kali, serak rasanya. Setelah ingatannya pulih, justru ia kembali dibuat sakit. Hatinya, kepalanya dan semuanya tanpa terkecuali. Ia menunggu tangan yang digenggamnya dengan lembut itu membalas dengan genggaman yang sama. Seolah Tuhan turut bersedih, tangan lemas itu mendapatkan kekuatannya untuk menggenggam balik. Tangis pecah, rindu sirna, dan rasa sakit pun kecewa itu hilang begitu saja.
“Walaupun tubuhku seolah mati Kang. Aku mendengarmu berbicara. Suaramu seperti merayuku untuk kembali. Aku memaafkanmu,” kata Santi dengan sedikit terbata.
Pelukan mengencang, tangis semakin pecah. Uang yang dibawa Tedjo tak ada artinya dengan rindu yang dibayar lunas hari ini. Pelukan itu benar-benar erat. Air mata seperti tak akan kering.
“Lailahailallah.”Pelukan Santi melemah, tangan yang merengkuh tubuh yang dinantinya itu jatuh pada ranjang rumah sakit. Tuhan mengambil Santi dari tangan Tedjo. Kali ini, Tuhan mengabulkan kedua doa Santi sekaligus, bertemu suaminya dan tentunya Tuhan saya ingin bertemu denganmu.
Dodi Wardani, yang akrab disapa Dodi atau Ardani, adalah lulusan sekolah kuliner yang memiliki ketertarikan kuat dalam dunia menulis. Ia dikenal sebagai sosok kreatif yang gemar menuangkan isi pikirannya yang liar dan imajinatif ke dalam karya tulis. Berdomisili di Cipete, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Dodi terus mengembangkan dirinya di bidang kuliner sekaligus literasi. Jika ingin menyapanya bisa melalui akun Instagram @dodiiiiar.




