
Layar itu berkedip merah dua kali. Wahyu menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan layar itu. Dia berada dalam sebuah bilik kaca yang tidak tertutup di bagian belakang. Antrean di belakangnya mengular panjang hingga keluar gedung. Udara di dalam ruangan itu sumpek dan berhawa keputusasaan yang dipendam rapat-rapat.
Mesin di depannya kembali mengeluarkan bunyi, atau lebih tepatnya suara. Suaranya sintetis dan tenang. Suara itu meminta Wahyu untuk mengulangi prosedur pemindaian biometrik emosi.
“Mohon hadapkan wajah Anda pada panel sensor,” kata mesin itu, “dan pastikan tingkat ketulusan Anda berada di atas ambang batas tujuh puluh persen.”
Wahyu menunduk sedikit, memposisikan wajahnya di depan permukaan kaca yang telah buram. Cahaya biru memulai pemindaian, bergerak lambat dari dagu hingga dahinya.
“Pemindaian selesai,” ujar mesin itu lagi. “Analisis ketulusan sedang diproses. Mohon tunggu. Jangan jauhkan wajah Anda.”
Seorang wanita tua di belakang Wahyu batuk keras. Wahyu tetap diam, matanya terpaku pada animasi progres di layar yang berhenti di angka empat puluh dua persen.
“Maaf,” kata mesin itu. “Ketulusan tidak terverifikasi. Niat baik Anda terdeteksi mengandung unsur keterpaksaan sebesar lima puluh satu persen. Permohonan subsidi air bersih ditolak. Silakan coba lagi dalam waktu dua puluh empat jam.”
Badan Wahyu tegak, wajahnya menjauh terlepas dari sensor. Matanya menatap lubang tiket yang tidak mengeluarkan apa-apa. Tidak ada suara kertas dicetak. Tidak ada tanda persetujuan.
Seorang petugas berseragam biru tua mendekat. Kulitnya pucat seperti orang yang jarang melihat matahari.
“Ada masalah apa?” tanya petugas itu tanpa melihat Wahyu.
“Mesin ini menolak saya,” kata Wahyu. Suaranya serak. “Katanya bilang niat baik saya kurang.”
Petugas itu akhirnya menoleh. Dia menatap Wahyu dari atas ke bawah. Tatapannya berhenti pada sandal jepit Wahyu yang bernoda lumpur kering.
“Mesin itu tidak pernah salah,” kata petugas itu. “Algoritmanya dirancang untuk memfilter parasit sosial. Hanya warga yang benar-benar berniat baik bagi masyarakat yang berhak atas sumber daya publik. Aturannya seperti itu.”
“Saya hanya ingin jatah air,” kata Wahyu. “Saya haus. Ini kebutuhan biologis, bukan niat sosial.”
“Justru itu yang terpenting,” balas petugas itu cepat. “Pemerintah menyadari bahwa memberikan sumber daya kepada individu yang egois hanya akan mempercepat disfungsi sosial. Kebijakan terkait keharmonisan sosial memastikan bahwa setiap liter air yang diberikan akan menjadi kekuatan bagi warga yang berniat baik. Apakah Anda merasa punya niat baik hari ini?”
Wahyu tidak menjawab pertanyaan itu. Di belakangnya, ratusan orang berdiri dengan wajah lesu. Mereka semua memegang kartu identitas biometrik, menunggu giliran untuk dihakimi oleh sensor kaca yang dingin.
“Saya sudah mencoba tersenyum,” kata Wahyu pelan.
“Berarti senyum Anda senyum palsu,” potong petugas itu. “Sensor ekspresi mikro mampu membedakan kontraksi otot zygomaticus major yang asli dengan yang dipaksakan. Anda tidak bisa menipunya. Mesin itu juga melihat aliran darah di bawah kulit wajah Anda dan mengukur pupil Anda.”
“Jadi saya harus benar-benar bahagia untuk mendapatkan air?” tanya Wahyu.
“Bukan bahagia,” koreksi petugas itu. “Tulus. Anda harus merasa bersyukur kepada pemerintah sebelum pemerintah memberikan hak Anda.”
Wahyu kembali menghadap mesin. Dia memasukkan kartu identitasnya lagi ke dalam slot mesin.
“Silakan pilih jenis layanan,” kata mesin itu.
Wahyu menekan opsi Subsidi Dasar.
“Verifikasi ulang diperlukan,” kata mesin itu. “Terdeteksi pola stres pada subjek. Silakan lakukan kalibrasi ulang.”
Layar berubah warna. Kini warnanya menjadi hijau. Teks instruksi muncul dengan huruf yang terlalu kecil untuk dibaca. Wahyu menyipitkan mata.
“Bacalah kalimat berikut dengan suara lantang dan penuh keyakinan,” perintah mesin itu.
Muncul tulisan di layar: Saya adalah unit fungsional yang berdedikasi pada harmoni sosial dan stabilitas negara. Saya menerima air ini sebagai amanah untuk bekerja lebih keras.
Wahyu menarik napasnya dalam-dalam. Udara di ruangan itu terasa semakin tipis.
“Saya adalah unit fungsional,” ucap Wahyu.
“Volume suara tidak memadai,” potong mesin itu. “Keraguan terdeteksi pada intonasi suku kata keenam dan ketujuh. Ulangi.”
Rahang Wahyu mengeras sendiri tanpa sadar.
“Saya adalah unit fungsional yang berdedikasi,” ulang Wahyu, kali ini lebih keras.
“Terdeteksi amarah pada spektrum suara,” kata mesin itu lagi. “Amarah adalah emosi kontra-produktif. Poin penalti ditambahkan. Ambang batas kelulusan dinaikkan menjadi delapan puluh lima persen.”
Orang-orang di antrean mulai bergumam. Terdengar bunyi ketidaksabaran pada lantai. Orang-orang mengeluh dengan mulut dan kaki mereka. Wahyu mencoba fokus kembali.
“Tenangkan diri Anda,” saran mesin itu. “Stres meningkatkan kadar kortisol. Warga dengan kortisol tinggi membebani sistem kesehatan nasional. Permohonan Anda berisiko ditolak permanen.”
Wahyu memejamkan mata. Dia mencoba mengatur napasnya. Namun, rasa takut akan penolakan membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
“Detak jantung meningkat,” lapor mesin itu. “Indikasi ketidakjujuran atau kepanikan. Apakah Anda sedang menyembunyikan sesuatu?”
“Tidak,” jawab Wahyu cepat.
“Jawaban terlalu cepat,” analisis mesin itu. “Waktu respons di bawah standar deviasi kejujuran rata-rata. Penalti tambahan.”
Layar berkedip merah lagi. Kartu identitas Wahyu dimuntahkan keluar dari slot, tapi hanya setengah. Wahyu mencoba menariknya, tapi kartu itu tertahan oleh mekanisme pengunci di dalam.
“Kartu ditahan untuk peninjauan manual,” kata mesin itu. “Silakan hubungi administrator sektor di lantai empat puluh dua. Bawa serta bukti kontribusi sosial terbaru berupa rekaman video interaksi positif dengan minimal tiga orang asing.”
Wahyu menatap kartu yang terjepit itu. Dia menariknya pelan, tapi kartu itu tidak bergeming.
“Petugas,” panggil Wahyu.
Petugas biru itu berjalan mendekat dengan langkah malas. Dia melihat pesan di layar dan menggelengkan kepala.
“Red flag,” gumam petugas itu. “Anda pasti punya catatan buruk terkait manajemen emosi.”
“Saya hanya ingin air,” kata Wahyu. Tangannya gemetar di samping tubuhnya.
“Sistem mendeteksi bahwa memberi Anda air saat ini tidak akan menghasilkan output produktivitas yang sepadan,” jelas petugas menggurui. “Apabila Anda dalam kondisi mental seperti ini, Anda tidak akan dapat bekerja maksimal. Anda akan mengeluh. Keluhan menyebar seperti virus jahat.”
“Jadi saya harus mati kehausan supaya tidak mengeluh?”
“Tidak perlu berlebihan,” kata petugas itu. “Anda tidak akan mati. Anda hanya perlu memperbaiki sikap. Pergilah ke zona meditasi di Blok C. Habiskan dua jam di sana. Tonton video yang telah disediakan Kementerian Sosial. Setelah gelombang otak Anda sinkron dengan frekuensi alpha, Anda boleh kembali ke sini.”
Wahyu mencoba menarik kartunya lagi. Kali ini dia menggunakan tenaga lebih.
“Jangan dipaksa,” ujar petugas itu. “Merusak aset negara adalah tindak pidana kelas dua. Hukuman minimalnya adalah isolasi selama tiga bulan.”
Wahyu melepaskan kartunya. Dia mundur selangkah.
“Bagaimana saya bisa ke lantai empat puluh dua tanpa kartu identitas untuk mengakses lift?” tanya Wahyu.
Petugas itu terdiam sejenak. “Itu dilema prosedural,” kata petugas itu akhirnya. “Anda butuh kartu untuk naik melapor, tetapi kartu Anda ditahan karena Anda harus melapor.”
“Lalu?”
“Ajukan permohonan surat jalan sementara,” jawab petugas itu. “Loketnya ada di gedung sebelah.”
“Untuk masuk gedung sebelah butuh kartu identitas,” sanggah Wahyu.
Petugas itu mengangguk pelan. Wajahnya tidak menunjukkan empati.
“Betul juga,” kata petugas itu. “Sistem memang dirancang ketat untuk mencegah warga ilegal. Kalau begitu, Anda harus menunggu di sini sampai ada petugas patroli keliling yang berwenang mengeluarkan mandat secara manual. Mereka biasanya lewat setiap hari Senin.”
“Hari ini Selasa,” kata Wahyu.
“Sayang sekali,” kata petugas itu. “Berarti Anda harus menunggu enam hari lagi.”
“Mustahil saya menunggu di sini selama enam hari tanpa air,” kata Wahyu. Suaranya mulai meninggi, tetapi dia segera menahannya.
“Anda bisa minum dari keran di toilet umum,” saran petugas itu.
“Air keran itu belum diproses,” bantah Wahyu. “Kadar logam beratnya tinggi.”
“Tapi gratis kan,” kata petugas itu. “Dan tidak butuh verifikasi ketulusan. Risiko kesehatan ditanggung sendiri. Itu pilihan yang adil bagi mereka yang menolak berpartisipasi dalam harmoni sosial.”
Mesin di depan mereka tiba-tiba bersuara lagi, memotong percakapan.
“Sesi telah kedaluwarsa,” kata mesin itu. “Silakan ambil kartu Anda.”
Kartu Wahyu jatuh ke lantai yang kotor. Wahyu membungkuk untuk mengambilnya. Debu menempel di ujung jarinya saat dia memungut kartu plastik tipis itu.
“Nah,” kata petugas itu. “Anda beruntung. Glitch sistem. Mesin mereset dirinya sendiri.”
Wahyu berdiri tegak. Dia membersihkan kartu itu dengan kain celananya.
“Bisa saya coba lagi?” tanya Wahyu.
“Tentu,” kata petugas itu. “Tapi riwayat penolakan tadi sudah tercatat di basis data pusat. Ambang batas Anda mungkin sudah naik jadi sembilan puluh persen.”
Wahyu menatap layar yang kini kembali menampilkan menu awal yang bersih dan ramah. Logo senyum digital berkedip pelan, seolah mengejeknya.
“Silakan masukkan kartu identitas,” undang mesin itu dengan nada riang yang baru.
Wahyu ragu. Dia menatap beku kartu di tangannya. Dia mengangkat tangannya perlahan, mendekatkan kartu ke slot mesin. Mesin itu mendengung pelan.
“Deteksi keraguan pra-transaksi,” ucap mesin itu tiba-tiba, bahkan sebelum kartu menyentuh bibir slot. Sensor jarak jauh rupanya masih aktif. “Analisis postur tubuh menunjukkan ketidakyakinan. Apakah Anda meragukan sistem?”
Wahyu menarik tangannya kembali seolah tersengat listrik.
“Tidak,” bisik Wahyu.
“Katakan dengan lantang,” perintah mesin itu. “Sistem adalah sahabat warga.”
“Sistem adalah sahabat warga,” ulang Wahyu. Suaranya datar, tanpa jiwa.
“Ironi terdeteksi. Ironi adalah bentuk pemberontakan pasif-agresif. Akun dibekukan sementara selama lima menit untuk pendinginan emosional,” mesin itu memberikan vonis.
Layar menjadi hitam total. Kemudian, sebuah jam hitung mundur digital berwarna putih muncul di tengah layar. 04:59. 04:58. 04:57…
Wahyu tidak beranjak. Matanya gelap menatap angka yang terus berkurang, detik demi detik, menunggu waktu saat dia diizinkan kembali untuk membuktikan bahwa dia adalah warga yang cukup baik untuk meminum air yang layak. Angka di layar berubah menjadi 04:49. Lalu berhenti.
Wahyu berdiri mematung. Wanita tua di belakangnya mendesah keras. Waktu pun ragu untuk bergerak maju di tempat seperti ini.
Setyo W. Nugroho, lahir di Klaten tahun 1991. Pekerjaan sehari-harinya adalah menelaah kebijakan-kebijakan publik terkini dan merekomendasikan penguatan pengawasan yang diperlukan. Dapat disapa melalui Instagram @perahumabuk.




