
Di antara Matcha dan Cahaya
Pagi yang merekah dengan perlahan
Berhiaskan rupa yang memanjakan mata
Kusandarkan raga yang letih ini
Di atas barisan bambu kecokelatan
Dalam diam kusesap matcha penuh perasaan
Ia hadir dengan sangat sopan
Membawa ketenangan yang sempat hilang
Terdampar oleh insan yang sejati
Angin pun datang menyapa
Membisikkan salam darinya
Menggetarkan hati yang lama terkurung
Oleh harapan yang terlalu angkuh
Namun pagi kian mencubit
Menghapus kepastian darinya
Hanya pemilik matahari yang dapat diandalkan
Untuk meneduhkan rasa yang bergejolak ini
***
Lili di bawah Guyuran Kamis
Tak sopan sekali dia datang
Dengan seenaknya dia membawa tangisan
Mengguyur kamis yang sedang merekah
Tanpa kabar, tanpa kompromi
Membawa rintik rindu yang riuh
Tak dapat terbendung oleh amarah
Hanya lili yang memeluk rengkuh tangisan
Tanpa membuat goresan luka sedikitpun
Dengan kelembutannya
Ia memeluk erat kesetian
Biarlah sejenak ia menetap dalam kenyamanan
Menyelinap penuh membasahi kelopak
Hingga rindu meredam tanpa kegaduhan
Dan hanya meninggalkan doa dalam diam
***
Menjemput Keindahan di Kota Satria
Langkah kecil yang tertatih
Menyusuri jalan kota satria
Berjumpa lampu merah
Dan menyapa polisi yang tidur terlelap
Dingin menyelimuti perjalanan ini
Namun indah tak kunjung bersua
Apakah ia tersipu malu?
Atau enggan untuk menyapa
Tenang…
Tabebuya akan segera tampak
Dia datang bagai senja
Yang menggendong maghrib dengan suka cita
Merekah indah menemuimu
Maka sambutlah dengan memuji-Nya
***
Ego Kerikil
Di antara bebatuan karang
Kerikil ini berada sembarang
Tersapu oleh ombak yang datang
Terbawa angin terbang melayang
Lantas bagaimana?
Dia akan tetap menjadi dirinya
Sekuat palu mengetuknya
Takkan menjadikannya segumpal liat
Lemah karena-Nya
Kuat juga karena-Nya
Rabb-Mu sungguh paling berbakat
***
Mengetuk Langit bukan Gawai
Notifikasi itu tak lagi kudengar
Kini rindu kupeluk dalam sabar
Kuselimuti kesetiaan
Agar cinta tak menjelma gelisah
Dalam maya ku melihatmu
Kugenggam rasa dalam doaku
Mengetuk langit bukan gawai
Menitipkan nama dihadapan pemilik hati
Biarlah jarak ini tetap sunyi
Cukup doaku yang selalu gaduh
Hanya pada-Mu kutitipkan segalanya
Karena Engkau yang paling tahu
Ke mana hati ini harus berlabuh
***
Ajeng Wulan Hidayah lahir di Kebumen, bulan Juli tahun 2003. Ajeng yang meruakan alumni PGMI UIN SAIZU Purwokerto ini, tinggal di Mangunweni, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Bisa di sapa melaui Instagram @_ajengwull




