
Balada Sarangan
(Penyucian Jiwa)
Kabut Lawu turun perlahan,
menyapu jalan menuju telaga.
Air bening itu seperti mata Tuhan
yang menatap ke dalam segala rahasia.
Seorang raja datang dalam diam,
membawa tubuh yang letih oleh dunia.
Ia duduk di tepi air,
melepas nama, pangkat, dan segala gelarnya.
Angin lewat membawa bisik
tentang dosa-dosa yang jatuh menjadi embun.
Ia menunduk, membasuh wajahnya,
namun yang jernih justru hatinya sendiri.
“Wahai Diri,” katanya lirih,
“bukankah hidup ini perjalanan pulang?
Mengapa engkau takut pada gelap,
padahal cahaya tersembunyi di dalamnya?”
Telaga beriak,
seakan menjawab dalam bahasa sunyi:
“Yang perlu kau sucikan bukan airnya,
melainkan bayangan yang kau bawa ke dalamnya.”
Ia pun diam,
membiarkan waktu luruh seperti daun di permukaan air.
Dalam diam itulah,
ia mendengar zikir bumi yang tak pernah berhenti.
Menjelang senja,
matahari meredup di balik Lawu.
Ia bangkit dengan langkah ringan
karena yang berat telah ditinggalkannya di dasar telaga.
2025
***
Balada Tawangmangu
(Penglepasan Duniawi)
Di lereng Lawu, angin membawa harum pinus,
kabut turun, membungkus sunyi lembah.
Seorang raja berdiri di tepi jurang,
memandang dunia yang pernah ia kuasai
dengan mata yang kini pasrah.
Di sini ia melepaskan jubah kebesaran,
menanggalkan keris dan mahkota,
menyandarkan tongkatnya pada batu,
dan bersujud di atas rumput yang gemetar.
“Wahai Langit,” serunya,
“aku telah menundukkan manusia,
namun gagal menundukkan diriku sendiri.
Kini, biarlah aku menjadi hamba
yang kalah oleh kasih-Mu.”
Burung-burung beterbangan di kabut,
doa yang mencari arah.
Ia memandang lembah,
melihat kerajaan-kerajaan kecil di hatinya roboh satu-satu.
Lalu ia tersenyum:
“Beginilah fana,” katanya,
“ketika segalanya kembali menjadi kosong,
dan kosong itulah rumah sejati.”
Angin menggulung jubahnya,
membawa namanya pergi jauh.
Tinggallah tanah dan batu,
yang diam-diam menyimpan sujud seorang raja
yang telah menanggalkan dunia.
2025
***
Balada Lawu
(Sang Raja yang Pamit)
Ia mendaki dalam sunyi,
kabut menutup jalan,
tanah lembab oleh embun yang berdoa.
Setiap langkah adalah zikir,
setiap napas adalah takbir.
Di Hargo Dalem ia berhenti,
menatap langit yang menyala lembut.
“Wahai Yang Abadi,” katanya pelan,
“aku telah melihat wajah dunia,
dan kini ingin melihat wajah-Mu.”
Gunung bergetar halus,
awan menunduk di kaki langit.
Dari kejauhan para pertapa berkata:
ia tidak mati, hanya pamit,
menjadi cahaya yang menjaga arah angin.
Dari Hargo Dalem cahaya itu naik,
menembus kabut menuju Hargo Dumilah,
meninggalkan jejak sunyi di batu-batu,
dan wangi dupa di setiap desir angin.
Sejak itu, setiap kabut di lereng Lawu
mengandung doa dan napas raja.
Burung dan daun berbisik lirih:
telah pulang ia,
yang meleburkan kuasa ke dalam kasih,
yang memerintah langit dengan diamnya.
2025
***
Balada Brawijaya yang Menjadi Angin Lawu
Di atas kabut Lawu,
angin berputar membawa suara yang tak bernama.
Bukan doa, bukan ratap,
melainkan napas yang telah kehilangan tubuhnya.
Dulu ia raja,
namun kini ia hanya desir
yang menyentuh daun dan batu
tanpa meninggalkan bayangan.
Ia telah lupa akan mahkota,
bahkan lupa pada nama yang disematkan kepadanya.
Yang tersisa hanyalah cahaya tipis
berputar di puncak gunung
seperti ingatan yang berzikir.
Kadang terdengar langkah di antara cemara,
kadang sekadar hembus halus
yang menggeser kabut dari lembah ke lembah.
Itulah dia, yang dahulu memerintah dunia,
kini hanya meniupkan keheningan ke dalam dada pendaki.
Orang-orang berkata:
“Brawijaya telah menjadi angin.”
Namun siapa tahu?
Mungkin ia telah menjadi jiwa Lawu sendiri
yang menyimpan rahasia antara fana dan abadi.
Ketika malam jatuh di puncak Hargo Dumilah,
dan bintang-bintang membuka matanya,
kadang terdengar gemerisik seperti ucapan:
“Kekuasaan hanyalah debu yang
berpura-pura kekal.
Yang sejati adalah tunduk.”
Maka setiap peziarah yang
berhenti sejenak
akan merasakan napasnya disentuh oleh kelembutan asing,
dan dada mereka tiba-tiba terang
tanpa tahu dari mana datangnya cahaya.
Sebab sejak hari itu,
Lawu tidak lagi sunyi
ia bernapas dengan nama seorang raja
yang telah melebur menjadi angin,
menjaga dunia dengan diam.
2025
***
Zikir Sarangan
Kabut turun di atas telaga,
menyapu permukaan air yang bernapas pelan.
Riak-riak bergetar,
seperti tasbih yang berderai
dari jari langit.
Gunung mematung,
namun di dadanya gema tak henti berdentang:
Subhanallah…
Alhamdulillah…
Allahu Akbar…
Seekor burung melintas,
sayapnya menorehkan ayat di permukaan air.
Waktu berhenti,
ikut bersujud
dalam kesejukan yang mengalir dari bumi.
Tak ada imam, tak ada makmum,
hanya semesta yang berdiri berjajar,
menghadap arah yang sama.
Angin menjadi khatib,
air menjadi muazin,
dan cahaya subuh menetes dari daun ke hati.
Di tepi danau seorang peziarah duduk,
menyimak desir angin sebagai ayat,
dan gema air sebagai kitab tak tertulis.
Ia tahu:
zikir adalah napas semesta,
dan manusia hanyalah satu suara
yang belajar menyebut nama Tuhan
setelah seluruh alam lebih dulu mengucap-Nya.
2025
***
Lagu Cinta di Tepi Sarangan
Embun jatuh di rambut pagi,
danau bernapas pelan,
bayangan dua insan terpantul di air,
seperti doa yang saling mencari asalnya.
Ia menatapnya dalam diam,
seolah seluruh kata telah terucap
sebelum bibir mengenalnya.
Cinta pun menjadi zikir,
menyebut nama Tuhan melalui tatapan.
Angin mengelus daun cemara,
suara air menimang kata kasih,
dan waktu berhenti sebentar
menyaksikan dua hati
yang tak ingin saling memiliki,
tetapi saling menemukan.
“Jika aku jauh,” katanya,
“ingatlah, cintaku bukan milikku
ia adalah cahaya yang mengalir
dari Yang Satu.”
Dan ia menjawab lirih:
“Cinta bukan datang dari mata,
tetapi dari napas yang mengenal arah pulang.”
Danau itu mendengarkan,
menyimpan rahasia dalam gelombang lembutnya.
Burung-burung pun berhenti berkicau,
mendengar cinta yang berzikir dalam sunyi.
Maka, di tepi Sarangan yang bening,
dua insan itu lenyap dalam cahaya sore,
menjadi sepasang bayang
yang saling mencari di permukaan air
seperti jiwa dan rindunya,
yang tak pernah selesai menyebut nama Tuhan.
2025
***
Abdul Wachid B.S. penyair yang lahir 7 Oktober 1966 di Lamongan Jawa Timur. Ia mendapatkan penghargaan tertinggi Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 7 Oktober 2021 untuk buku esainya, Sastra Pencerahan (Penerbit Basabasi, 2020). Selain sastrawan, ia menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.




