
Pesta di Rumah Duka dan Puisi Lainnya
// Tawamu itu sumbang, kawan. / Seperti lonceng retak yang dipukul pakai palu. / Semakin keras bunyinya, / semakin orang tahu ada yang pecah di dalam dadamu. //

// Tawamu itu sumbang, kawan. / Seperti lonceng retak yang dipukul pakai palu. / Semakin keras bunyinya, / semakin orang tahu ada yang pecah di dalam dadamu. //

// Aku rindu orkestra kecil di atap seng itu, / gesekan daun kering dan retak tanah sebagai nadanya, / saat butir air pertama turun mengeja namamu / yang telah lama berkarat di dasar jiwa. //

Cintaku ibaratkan hujan yang paling tabah / memilih untuk jatuh di atas batu karang itu. / Ia tahu, airnya tak akan pernah meresap / hanya akan mengalir lewat, lalu hilang ke laut.

Mungkin hatimu sedang dalam mode pesawat / atau sinyal simpatiku tak cukup kuat menembus dinding egomu. / Aku sudah mencoba mengirim pesan lewat jalur darat, laut, dan udara / tapi sepertinya semua kurirku dicegat di depan pintu hatimu.

Tiap bulan slip gajiku seperti surat cinta
penuh dengan daftar potongan mesra.