Hujan Jatuh di atas Batu dan Puisi Lainnya

Pohon Beringin di Halaman Rumahmu

Aku pohon beringin di halaman rumahmu
yang tumbuh tanpa pernah kauminta.
Tugasku hanya satu: menatap jendela kamarmu
dari pagi hingga pagi tiba.

Daun-daunku jelmaan ribuan mata yang tak pernah tidur
mengawasi setiap bayang langkahmu yang lewat.
Akar-akarku bagaikan jari jemari yang menjulur
merayap di bawah tanah, memeluk fondasimu sangat erat.

Kuberikan kau teduh dari silau matahari yang jahat
kutawarkan rantingku untuk burung-burungmu bernyanyi.
Perlahan, aku menjadi pagarmu lalu menjadi atapmu
hingga kau tak bisa membedakan, mana rumahmu mana aku.

Mungkin kau tak pernah menyiramku dengan air cinta
tapi tak masalah, aku akan terus tumbuh di sini.
Hingga suatu saat kausadar, kau tak sanggup pergi
sebab seluruh duniamu telah kuikat dengan akar sunyi.

Yogyakarta, 11 Agustus 2025

***

Lilin di Mejamu

Aku lilin yang kau nyalakan
saat lampu di ruanganmu tiba-tiba padam.
Tubuhku meleleh perlahan, menjadi tiada
demi memberimu cahaya untuk membaca.

Kau puji terang apiku yang menari-nari
kau nikmati hangatnya yang mengusir sepi.
Tapi, kau tak pernah melihat lelehanku pasrah
menggenang di kaki seperti air mata.

Setiap tetes tubuhku yang hilang adalah napasku
yang kuhela demi melihat wajahmu lebih lama.
Aku tahu, aku semakin pendek dari waktu ke waktu
tapi aku rela asal gelap tak sempat menyentuhmu.

Nanti saat pagi datang atau lampumu kembali menyala
kau akan meniupku hingga aku kembali buta.
Dan aku akan diam di sana, di dalam gelapku sendiri
menunggu kapan lagi kau akan membutuhkan apiku.

Yogyakarta, 11 Agustus 2025

***

Hujan Jatuh di atas Batu

Cintaku ibaratkan hujan yang paling tabah
memilih untuk jatuh di atas batu karang itu.
Ia tahu, airnya tak akan pernah meresap
hanya akan mengalir lewat, lalu hilang ke laut.

Setiap pagi, siang, bahkan senja ia terus datang
membasahi punggung batu yang diam dan dingin.
Batu itu tak pernah meminta, pula tak berterima kasih
hanya sebatas ada, menerima tanpa peduli.

Angin bertanya pada hujan, “Mengapa kau jatuhkan dirimu di situ?”
Hujan menjawab lirih, “Aku tak punya pilihan lain.
Langitku hanya ada di atas batu itu.”

Ia putuskan terus jatuh, lagi, lagi, dan lagi.

Barangkali ia tak berharap membuat batu itu basah
hanya ingin memastikan, di dunia yang kering ini
ada satu hal yang paling setia menemaninya
meski ia tahu, ia hanya sedang memeluk sunyi.

Yogyakarta, 11 Agustus 2025

***

1 komentar untuk “Hujan Jatuh di atas Batu dan Puisi Lainnya”

  1. Pingback: Pre-Order Buku Manuskrip Jeda: Undangan Berhenti Sejenak dan Menemukan Ketenangan - Temenan BIL Fest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top