Pekan Literasi Masyarakat Banyumas: dari Human Library sampai Ngobrol Hati ke Hati

Pekan Literasi Masyarakat Banyumas (PLMB) merupakan sebuah inisiatif strategis yang digagas oleh Yayasan Banyumas International Literacy Foundation (BIL Foundation). Program ini lahir dari kebutuhan akan ruang literasi yang inklusif, kreatif, dan berkelanjutan di tengah masyarakat Banyumas. Mengingat masih rendahnya minat baca, ketimpangan akses pendidikan, serta tantangan sosial seperti banyaknya anak muda berstatus NEET (Not in Education, Employment, or Training), Pekan Literasi hadir bukan hanya untuk merayakan buku, tetapi juga untuk membangun ekosistem literasi yang mampu menyentuh dimensi kehidupan sehari-hari masyarakat

Pada agenda ke-2 PLMB ini, BIL Foundation menggandeng Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Purwokerto. PLMB akan diadakan di Griya Abhipraya Kota Lama Banyumas hari Sabtu 27 September 2025. Kolaborasi ini merupakan upaya untuk menghidupkan literasi dan ruang kreatif, sekaligus mendukung program re-integrasi klien binaan (eks narapidana) Bapas Purwokerto dengan masyarakat umum. Sekaligus terlibat dalam mengembalikan kepercayaan publik kepada eks narapidana.

Akan ada apa saja di Pekan Literasi?

Salah satu kegiatan unik yang dihadirkan adalah Human Library atau perpustakaan manusia. Berbeda dengan perpustakaan konvensional, Human Library menghadirkan “buku hidup”, yaitu individu dengan pengalaman tertentu yang dapat dibaca melalui percakapan langsung.

Konsep ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendengar kisah inspiratif, memahami sudut pandang baru, dan mengurangi prasangka sosial. Dengan pendekatan ini, literasi tidak lagi dipahami hanya sebagai membaca teks tertulis, tetapi juga membaca kehidupan manusia. Human Library di Pekan Literasi Banyumas menjadi ruang dialog yang mempertemukan masyarakat dengan tokoh lokal, penyintas, akademisi, maupun praktisi yang memiliki cerita berharga. Melalui interaksi tersebut, pengunjung dapat memperluas wawasan, membangun empati, sekaligus menumbuhkan kesadaran sosial.

Selain Human Library, Pekan Literasi juga menjadi panggung peluncuran buku “Jatuh Berkali-kali Tapi Masih Berusaha Menjadi Utuh”, karya penulis muda Banyumas, Sahal Fikri penerima Ahmad Tohari Awards 2025.

Kegiatan peluncuran buku memiliki dampak yang signifikan. Pertama, memberikan ruang aktualisasi bagi penulis lokal yang sering kali kekurangan wadah untuk menampilkan karyanya. Kedua, mempertemukan penulis dengan pembaca secara langsung, sehingga terjadi interaksi yang memperkaya kedua belah pihak. Ketiga, melahirkan jejaring antar komunitas literasi, kampus, dan pemerintah daerah untuk bersama-sama membangun ekosistem literasi Banyumas yang lebih kokoh

Dimensi penting lainnya dari Pekan Literasi Banyumas adalah penyediaan layanan konsultasi psikologi. Kehadiran program ini berangkat dari kesadaran bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan aspek intelektual, tetapi juga kesehatan mental. Banyak anak muda yang menghadapi tekanan sosial, keresahan identitas, hingga tantangan ekonomi, yang jika tidak tertangani bisa mendorong mereka terjebak dalam kondisi NEET atau kehilangan arah. Melalui konsultasi psikologi, peserta diberikan ruang aman untuk berbagi cerita, mendapatkan bimbingan profesional, serta menemukan solusi atas masalah yang mereka hadapi. Peserta bisa ngobrol dari hati ke hati. Dan bisa jadi bisa terobati saat mendengar kisah para klien (eks narapidana) dalam menjalani kehidupannya.

“Berbeda dengan perpustakaan konvensional, Human Library menghadirkan “buku hidup”, yaitu individu dengan pengalaman tertentu yang dapat dibaca melalui percakapan langsung.”

Integrasi antara literasi dan kesehatan mental ini sangat relevan di era sekarang. Membaca buku, mendengar cerita dari Human Library, dan menulis karya sastra memang mampu menumbuhkan kesadaran diri. Namun, dengan tambahan layanan konseling, Pekan Literasi Masyarakat Banyumas menawarkan dukungan yang lebih menyeluruh: pengembangan diri yang utuh, baik secara intelektual maupun emosional. Hal ini sejalan dengan visi BIL Foundation yang menekankan literasi sebagai keterampilan hidup, bukan sekadar aktivitas akademis.

Secara keseluruhan, Pekan Literasi Masyarakat Banyumas bukan hanya sebuah festival, melainkan sebuah gerakan kultural. Human Library menghadirkan literasi dialogis berbasis pengalaman hidup, peluncuran buku memperkuat karya kreatif lokal, dan konsultasi psikologi menyediakan ruang perawatan diri yang inklusif. Ketiga program ini saling melengkapi dalam membangun masyarakat literat yang tidak hanya cerdas membaca, tetapi juga berdaya secara sosial dan sehat secara mental.

Dengan semangat kolaborasi bersama komunitas, kampus, dan pemerintah daerah -dalam hal ini adalah Bapas Kelas II Purwokerto. Pekan Literasi Banyumas berpotensi menjadikan Banyumas sebagai pusat literasi dan kreativitas anak muda yang inklusif serta berkelanjutan. Lebih dari itu, inisiatif ini memberikan kontribusi nyata terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas, pengurangan kesenjangan, dan pembangunan komunitas yang berkelanjutan.

Berminat ikut Pekan Literasi Masyarakat Banyumas? Bisa isi form disini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top