Senyum di BIL Fest: Manis, Sinis atau Bikin Miris?

Sepanjang BIL Fest berlangsung aku bertemu dengan banyak orang. Mulai dari teman-teman panitia yang datang dengan raut wajah harap-harap cemas, pengunjung yang tersenyum semringah saat membeli tiket masuk, aku lihat juga ada pengunjung yang menoleh ke kanan-kiri seperti menilai acara ini, sampai para pengisi acara yang datang dan menikmati jeruk yang selalu disediakan teman-teman bagian konsumsi (tidak lupa dengan beberapa botol air mineral, gelas berisi teh atau kopi, juga asbak). Aku menduga-duga isi kepala mereka saat datang ke event yang baru debut ini sehingga aku cenderung memperhatikan sekitarku dan membuka diri untuk terlibat dalam berbagai obrolan dengan siapapun.

Aku sempat mengobrol dengan seorang pengunjung yang datang sendiri. Perempuan yang usianya beberapa tahun di atasku. Waktu itu kami duduk bersebelahan di salah satu sesi talkshow yang berlangsung pagi atau siang hari –aku agak lupa, aku ingatnya itu di salah satu hari di akhir pekan– , kami terlibat dalam obrolan singkat sambil berbisik-bisik, lalu setelah agak panjang obrolan itu baru aku ingat untuk mengajaknya berkenalan. Dia seorang guru di suatu sekolah di daerah Banyumas, saat dia sebut profesinya itu aku hampir memekik dan menatapnya kagum, lalu dia secara jujur menyampaikan iri tak tersirat ketika aku jawab pertanyaannya tentang almamater tempatku kuliah. Katanya dulu dia bercita-cita menjadi mahasiswi Sastra Indonesia. Aku sampaikan juga rasa kagumku kepadanya karena aku selalu melihat “mahasiswa pendidikan” sebagai orang-orang kuat yang harus dihadapkan dengan berbagai ilmu tentang pengajaran di proses belajarnya sendiri. Ketika aku tanya daerah tempat tinggalnya dan agak kaget mendengar nama daerah yang bagiku cukup jauh, aku merasa diapresiasi oleh guru muda ini yang bagiku juga mengapresiasi kerja keras teman-teman panitia. Dia datang untuk meramaikan event yang bisa saja belum memenuhi ekspektasinya. Sebelum kami berpisah karena aku harus kembali ke ruang transit, aku menyampaikan maaf dan izin pergi yang ditanggapinya ramah. Saat itu aku mungkin baru menyadari suatu hal: “oh, jadi begini rasanya diapresiasi padahal cuma lewat senyum manis?”.

Di kesempatan tak sengaja lainnya aku mengobrol dengan dua orang pria berusia di atas 40 atau 50 tahun –ini perkiraanku saja. Waktu itu malam hari setelah seorang pengisi acara baru pamit pergi. Aku yang baru selesai mendampingi pengisi acara itu terlibat obrolan dengan dua orang bapak tersebut. Mereka menanyakan beberapa hal tentang acara ini, lalu (seperti biasa) menanyakan almamater tempatku kuliah, sampai menanyakan status kepemilikanku atas sosok yang disebut pacar. Aku tanggapi setiap pertanyaan yang muncul meskipun beberapa terlalu menyenggol ruang privasiku. Sampai kedua bapak ini menyampaikan apresiasinya sambil melihat lampu-lampu yang dipasang teman-teman logistik, “untuk debut, (event ini) sudah cukup bagus lah.” Aku menyampaikan terima kasih setelahnya sambil melihat ke sekitarku yang semakin sepi. Aku masih terus menanggapi kedua bapak tersebut sambil mengingat-ingat pesan Mba Rahmi sehari sebelum event ini berlangsung; “walaupun ini apa adanya tapi kita harus tetap punya harga diri.” Jadi aku tersenyum saja menerima segala penilaian dan kritik yang aku dengar saat itu. Meskipun satu dua kali aku menerima senyum sinis tetapi aku berterimakasih untuk berbagai saran yang menurutku cukup membangun untuk BIL Fest yang akan datang. Bagiku mereka menaruh kepedulian untuk masa depan literasi di Banyumas.

Obrolan tak sengaja selanjutnya terjadi ketika aku menemani dua orang pengunjung yang mencari toilet. Sambil menunggu salah satu dari keduanya di dalam toilet aku berbincang dengan pengunjung yang satunya. “Ini kan Banyumas International Literacy Festival, nah Internasionalnya itu di mana?” Pertanyaan yang sudah aku hafal jawabannya karena beberapa kali mendengar Mba Rahmi presentasi tentang BIL Fest dan berulang kali membolak-balik halaman katalog sponsor untuk kepentingan membuat surat undangan. “Itu doa, Bu.” Aku rasa waktu itu beliau masih bingung dengan jawabanku. “Kata ‘internasional’ dalam nama acara kami ini bukan pembuktian kalau literasi di Banyumas ini sudah baik atau berkelas internasional. Ini doa kalau suatu saat nanti literasi kita bisa sebaik yang sekelas internasional, Bu.” Aku susul dengan satu dua celetukan untuk mencairkan suasana yang agak serius sebelumnya. Kataku, setidaknya dari percaya diri dengan adanya diksi ‘internasional’ tersebut nantinya tidak perlu repot kalau harus menyelenggarakan festival literasi sewaktu literasi di Banyumas sudah bertaraf internasional, karena dari jauh hari sudah dirintis walaupun modalnya hanya doa dan harapan. Obrolan kami selesai saat aku mengantarkan para pengunjung itu menonton talkshow lalu aku pamit dan ditimpali dengan senyum sebelum aku pergi.

Dari berbagai obrolan tersebut ada juga orang-orang yang menutupnya dengan kalimat penyemangat untukku. Orang-orang yang hanya terlibat percakapan denganku selama tiga menit, orang-orang yang aku tidak ketahui namanya (atau yang sempat berkenalan tapi aku lupa), orang-orang yang aku coba dekati karena terlihat kebingungan, atau orang-orang yang tidak sengaja berpapasan. Aku sampai membuat teori (tidak ilmiah) mendadak, tentang pembagian jenis senyum yang aku klasifikasi menjadi tiga: senyum manis, senyum sinis, dan senyum miris. Senyum manis yang berarti kebaikan dan ketulusan, senyum sinis yang berarti sindiran dan saran, senyum miris yang lebih kepada rasa malu dan kasihan.

Sewaktu aku memiliki waktu cukup luang untuk duduk-duduk sendiri di tengah lokasi BIL Fest berlangsung, mungkin saat itu aku mengklasifikasikan senyum-senyum yang aku lihat selama BIL Fest berlangsung, siapa pemilik senyum yang manis, sinis, dan miris. Anehnya aku tidak kunjung menemukan siapa pemilik senyum miris dari berbagai senyum yang aku lihat. Aku coba membayangkan senyum miris dalam pikiranku, harapannya itu mempermudah, ternyata tetap aku tidak menemukan.

Namun, pada akhirnya aku menemukan jawabannya: memang tidak ada senyum miris yang aku jumpai di BIL Fest. Orang-orang datang hanya membawa senyum manis atau senyum sinis. Senyum orang-orang yang mengapresiasi bazar buku yang menguras tenaga di malam hari sebelum pembukaan acara, senyum orang-orang yang bertepuk tangan dan berfoto bersama di setiap akhir sesi talkshow, senyum orang-orang yang berkumpul bersama keluarga atau sahabatnya di tikar-tikar dekat beberapa lembaran gambar dan komik dipajang. Seandainya aku melihat senyum sinis pun, buatku itu adalah bentuk kritik untuk acara dan panitia yang serba debut dan memang perlu banyak masukan dan evaluasi, senyum-senyum itu lahir dari kejujuran merespon realisasi ide BIL Fest yang secara sarkas didengar dari kalimat “Internasional, kok, begini?” Kedua senyum itu memiliki persamaan: sama-sama menunjukkan kepedulian. Senyum manis peduli dengan apresiasi tulusnya, sedangkan senyum sinis peduli lewat kritik sarannya, yang jelas tidak ada senyum miris walaupun mungkin beberapa pihak menilai literasi di daerah ini masih miris.

Terlepas dari teori tidak ilmiahku soal senyum itu, aku selalu penasaran dan ketagihan melihat senyum orang-orang yang membaca banner di sketsel yang berada di panggung BilFest. Banner yang tidak lebar (yang entah dipasang oleh Mas Neo, Daniel, Mas Tiko, Mas Irfan, Mas Fajrul, atau lainnya) bertulis kutipan dari Mba Rahmi selaku founder sekaligus project director BilFest. “BIL Fest bukan pembuktian bahwa literasi masyarakat Banyumas sudah berskala internasional, BIL Fest adalah doa.” Aku membayangkan berapa kali dalam sehari orang-orang menyebut “BIL Fest”, secara tak langsung mereka sedang mendoakan cita-cita literasi berskala internasional itu tercapai hanya dengan menyebut nama eventnya.

Seandainya hingga saat ini sudah ada ratusan bahkan ribuan tulisan “BIL Fest” dibaca-disebut-didengar, berarti sudah berapa banyak doa yang secara sengaja maupun tidak sengaja dirapal dan dipanjatkan?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top