Seni Memaknai BIL Fest: dari Kepala Turun ke Hati

Sejujurnya, sebelum tulisan ini saya buat, banyak sekali kata-kata berterbangan di kepala. Saking bingungnya, harus bagaimana saya menyusun kalimat demi kalimat agar isi kepala ini sedikit lebih tertata? Hingga akhirnya, BIL Fest memberi ruang untuk bercerita tanpa bersuara. Sebagai orang yang terbata-bata ketika berbicara –karena terlalu banyak yang ingin diungkapkan, ini menjadi salah satu cara bagi saya untuk menguraikan banyak hal dari yang ingin saya sampaikan.

Bisa dikatakan, saya adalah salah satu dari beberapa orang yang mengikuti perjalanan panjang BIL Fest dari awal. Sekali lagi, perjalanan panjang. Terlibat dan melihat bagaimana proses BIL Fest yang tentunya tidak mudah bagi saya –seorang pemula yang juga sedang belajar memaknai literasi.

Dimulai 7 Januari 2025, awal perbincangan dan diskusi beberapa orang tim inti BIL Fest terkesan dalam dan serius, dan setelahnya, mulai terbangun kekuatan yang menjadi pijakan pertama BIL Fest untuk melesat lebih jauh lagi. Singkat cerita, dari perumusan ide-ide dan konsep itu, kami sepakat untuk memaknai bahwa BIL Fest bukanlah pembuktian, melainkan sebuah proses dan do’a.

Awalnya saya masih berpikir proses dan doa seperti apa yang sebenarnya ingin disampaikan dari BIL Fest ini, meskipun sudah berkali-kali saya menyimak Mba Rahmi (Project Director) menyampaikan gagasan ini ke semua orang. Bukan karena saya menganggap enteng dan masuk kuping kanan keluar kuping kiri, hanya saja saya ingin menemukan itu di tengah-tengah proses BIL Fest sesuai dengan pemahaman versi saya sendiri.

Dua, tiga, empat bulan lamanya mengikuti alur, membuat dokumen ini dan itu, memikirkan persiapan-persiapan, bertemu dengan banyak kepala berikut isi kepalanya yang bermacam, saya masih saja terpaku untuk terus berpikir, “Habis ini terus ngapain lagi?”, “Terus kalo udah begini emang gak seharusnya begini aja?”, “Udah H- berapa ini?” dan bla bla bla.

Ketakutan dan kegelisahan akan ketidaksempurnaan itu terus muncul di pikiran saya, hingga akhirnya saya melihat Project Director yang ternyata begitu berani dan tetap optimis, meski saya yakin sempat terbersit secuil rasa pesimis yang datang karena respon tidak menyenangkan dari beberapa pihak.

Dari sana saya mencoba merenungi. Rasa takut dan pesimis datang dari kepala yang terlalu sibuk memikirkan kegagalan dan ketidaksempurnaan yang mungkin terjadi, sedangkan optimis datang dari hati yang kuat meyakini adanya keberhasilan dan kesuksesan yang juga sedang menanti di depan sana.

Tanpa disadari, segala aspek kehidupan yang terjadi disekitar kita sebenarnya selalu diiringi dua pilihan tadi, dan semua tergantung pada sudut pandang mana yang ingin kita ambil.

Sama halnya dengan BIL Fest. Adalah keputusan yang bijak untuk tetap memilih optimis, karena proses dan kekuatan yang dibangun dengan susah payah, yang dibelakangnya banyak orang yang juga bahu membahu, semangat-menyemangati, dan dukung mendukung tidak bisa digugurkan begitu saja. Alhasil, BIL Fest terwujud. Jagad Banyumas Raya sudah mencatat, Kamis-Rabu, 12-18 Juni 2025 adalah bentuk perayaan dari rasa optimis itu. Kita semua berhasil, kita semua merayakannya.

Akhirnya, saya menemukan itu. Saya menemukan maksud dari proses dan doa itu. Perjalanan dalam menyempurnakan ide dan konsep untuk membuat gebrakan awal literasi di Banyumas sebagai proses, serta optimisme yang dibangun sebagai doa adalah kombinasi yang pas dan luar biasa ketika saya memaknainya. Terbukti dengan banyaknya keajaiban-keajaiban yang datang untuk BIL Fest ketika segala sesuatunya dijalani dengan hati, bukan hanya kepala atau pikiran saja.

Sudah berapa kali menggarap event, sejauh ini ternyata saya hanya berfokus pada konsep dan teknis, begitu ikut terjun menggarap BIL Fest, ternyata suatu event tidak cukup dengan konsep dan teknis saja, keyakinan dan rasa percaya dari hati menjadi pelengkapnya.

Berkali-kali kami (dan saya yakin kita semua) menyadari bahwa literasi adalah hal yang membosankan dan tidak menarik, tapi BIL Fest memberi sudut pandang yang segar dan berbeda akan literasi itu sendiri, terkhusus di Banyumas Raya.

Terealisasinya BIL Fest memberi kepuasan tersendiri bagi saya, dan bagi penikmatnya, biarlah mereka menjawab dengan pandangan mata yang takjub akan perjalanan BIL Fest dan bagaimana kesan di hati mereka tentang BIL Fest.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top