
Ada pepatah lama yang bilang: “jangan menggali lubang untuk dirimu sendiri.” Tapi rasanya, pepatah itu kini bukan sekadar peringatan moral, melainkan kenyataan ekologis yang tragis. Kita, manusia zaman kini—khususnya mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan—tengah sibuk menggali lubang kehancuran ekologis yang kita sendiri akan jatuh ke dalamnya. Mereka yang katanya elite, yang mestinya menjaga bumi, justru menjadi biang kerok kerusakan. Ironisnya, sejumlah ormas agama pun kini tampak asyik bermain di arena “abu-abu” ini: membungkus keserakahan dengan jubah moralitas, meminjam nama Tuhan untuk menjustifikasi pembantaian terhadap alam.
Kerusakan yang kita saksikan hari ini bukan muncul dari ruang hampa. Ia hasil dari tumpukan keputusan politik dan ekonomi yang rakus.
Hutan dijual dengan harga murah, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah industri, dan tanah digali hingga rahimnya kosong tak bersisa. Semua ini dilakukan atas nama pembangunan dan kesejahteraan. Tapi jika kita mau jujur, yang sejahtera siapa? Bukan petani, bukan nelayan, bukan masyarakat adat—melainkan segelintir oligarki yang mengatur lalu lintas proyek dan izin tambang. Ironisnya lagi, di belakang meja rapat mereka, ada juga para tokoh agama yang seolah melupakan ayat-ayat tentang amanah menjaga bumi. Ketika kehancuran datang, mereka malah berdiri di atas mimbar menyebut bencana itu sebagai “azab Tuhan”. Padahal, yang meneken izin tambang itu manusia, bukan Tuhan.
Banyak orang menyebut bencana sebagai takdir. Tapi mari kita pertanyakan, apakah kita memang ditakdirkan untuk hidup di dunia yang rusak karena ulah kita sendiri? Atau sebenarnya kita hanya sedang menutup mata, enggan bertanggung jawab? Retorika seperti “ujian dari Allah” atau “azab atas dosa umat” menjadi jalan pintas yang licik, menghindari analisis struktural dan tanggung jawab sosial. Mereka yang berbicara di balik dalil seringkali adalah mereka yang punya akses pada kekuasaan, dan dengan mudahnya mengalihkan fokus dari para pelaku sebenarnya. Sungguh menyedihkan jika agama hanya dijadikan alat pembius moral, padahal dalam sejarahnya, para nabi justru menjadi penggugat utama terhadap ketidakadilan, termasuk ketidakadilan terhadap alam.
Mari kita ingat bahwa alam bukan makhluk pasif. Ia menyimpan hukum kausalitas yang tak terbantahkan. Kamu menebang hutan, banjir datang. Kamu mencemari sungai, wabah menyebar. Kamu merampok bumi, bumi akan menggeliat. Kalau alam saat ini tampak seperti musuh, mungkin karena kita sudah terlalu lama memperlakukannya sebagai objek untuk dieksploitasi. Bahkan syair lama Ebiet G. Ade terasa makin relevan: “mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita.” Atau lebih tepatnya: mungkin alam sudah terlalu lelah bersahabat dengan manusia. Dan dalam kelelahan itu, ia mulai mengirimkan isyarat: cukup sudah!!!
Kini, pertanyaannya sederhana tapi genting: mau sampai kapan kita berpura-pura tidak tahu? Dunia ini bukan warisan elite penguasa, bukan pula proyek investasi jangka pendek. Dunia ini adalah titipan, dan seperti semua titipan, ia menuntut tanggung jawab.
Jika para pemuka agama, pejabat publik, dan masyarakat sipil terus diam atau bahkan ikut bermain dalam sistem kotor ini, maka tak salah jika kita katakan bahwa kita sedang menggali kubur sendiri.
Dan jangan keliru, kubur itu bukan cuma neraka akhirat, tapi neraka ekologis yang sudah mulai terasa: suhu bumi yang makin panas, air yang makin sulit, udara yang kian tak layak dihirup. Jadi sebelum semuanya terlambat, mari akui kesalahan, bongkar kemunafikan, dan hentikan penggalian lubang kehancuran ini. Sebab kalau tidak, kita benar-benar akan terkubur di dalamnya—dengan dosa, dengan diam, dan dengan tangan yang tak sempat lagi berbuat apa-apa.

Alvin Qodri Lazuardy, sedang berproses menjadi pendidik, penulis, dan penggerak literasi Islam-lingkungan. Ia berfokus pada kajian worldview Islam, filsafat pendidikan Islam, ekoliterasi, dan kepesantren. Aktif menulis di bilfest.id, suaramuhammadiyah.com, pwmjateng.com, Ibtimes.id serta mengelola Alfuwisdom Publishing di Yogyakarta.





apakah ada contoh daerah di Indonesia yang berhasil mempertahankan kelestarian alam meskipun menghadapi tekanan dari pihak berkuasa atau korporasi?