
Suatu ketika saya mengikuti workshop “Metode Tahfidz” yang diadakan oleh sebuah kelompok kerja. Sepulang dari workshop itu ganjalan dalam benak saya, semakin gede saja rasanya. Ganjalan ini harus saya keluarkan, biar tidak bisulan.
Beberapa tahun belakangan, banyak kita lihat “iklan” promosi sekolahan yang menjadikan Hafalan Al-Qur’an sebagai branding mereka. Jika boleh saya bertanya, branding yang dilakukan itu apakah Hafalan Al-Qur’an menjadi bagian dari proses pembelajaran, hasil dari pembelajaran ataukah setelah selesai sekolah, akan menjadi penghafal Al-Qur’an. Itu yang menjadi ganjalan dalam benak saya.
Tanpa bermaksud untuk menafikkan Al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam -agama saya. Tapi fokus saya adalah menggunakan Hafalan Al-Qur’an sebagai branding sebuah lembaga pendidikan.
Dalam workshop yang saya ikuti, pemateri mengulas banyak hal. Karena beliau pelaku, bukan sekadar teoritis di atas power point. Beliau seorang hafidz dan pengajar yang berhasil dalam mengajar hafalan Al-Qur’an.
Salah satu yang menyentak saya adalah, tentang branding Hafalan Al-Qur’an dalam sekolah formal yang sempat beliau lontarkan dalam membuka materi workshop itu.
“. . . jangan-jangan program Hafalan Al-Qur’an ini hanya untuk menarik minat calon siswa saja. Dan terkesan main-main. Bagaimana tidak main-main. Branding yang dilakukan hanya di atas kertas dan formalitas saja. Tanpa diikuti kualitas dari berbagai aspek. Di antara dari kualitas itu adalah, kualitas pengajar Al-Qur’an, waktu pelaksanaan, sarana dan prasarana pendukung yang ada”.
Memang sih, meskipun sebagai branding untuk menarik orang tua siswa. Tapi pelaksanaannya kadang hanya memakai waktu yang pendek dan yang tersisa. Pengajarnya juga tidak diajak merumuskan tujuan besarnya. Dan sarana pendukung yang sama sekali tidak ada.
Semakin terasing
Siapa yang semakin terasing? Ya, Al-Qur’annya yang menurut saya malah terasing. Karena menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan iklan saja. Hanya untuk umpan yang dikaitkan di kail-kail promosi. Tanpa memahami esensi Al-Qur’an itu sendiri. Tanpa menjadikan Al-Qur’an sebagai Ruh dalam kehidupan. Padahal, salah satu nama lain Al-Qur’an adalah Ruh. Dan banyak orang tua siswa yang termakan umpan itu.
***
Metode Hafalan Al-Qur’an diseminarkan dan di-workshop-kan hanya untuk formalitas pelaksanaan program kerja saja. Diikuti bukan guru yang memang mengajar Al-Qur’an. Yang ikut hanya itu-itu saja. Guru spesialis pelatihan, bimtek dan workshop. Namun pulangnya tidak berdampak apa-apa. Tanpa ada follow-up yang nyata yang harapannya dibawa sampai pada proses pendidikan di kelas.
Dalam praktiknya mungkin menghafal Al-Qur’an hanya dilakukan selama 1 jam pelajaran itu saja (30-45 menit). Selebihnya, kita menjadi makhluk yang tidak kenal dengannya (Al-Qur’an).
Memang benar adanya, Islam datang dengan keterasingan dan akan kembali dalam keterasingan.
Di luar jam pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an, kita jauh dari makna Al Qur’an itu sendiri. Al-Qur’an yang Kalam Ilahi, sebagai petunjuk kehidupan dunia dan akhirat, tinggal kertasnya saja. Hafalannya hanya di bibir saja, tanpa merasuk ke hati dan menjadi pijakan dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi jika golnya adalah sekadar hafal, ya monggo-monggo saja. Apalagi akan keren jika status WA kita atau orang tua siswa, adalah foto anaknya membawa piala juara Tahfidzul Qur’an. Memang, mengajarkan tentang Al-Qur’an kepada siswa adalah sebuah kebaikan. Namun, niat dan caranya juga harus baik dan benar. Cara yang Qur’ani.
Bahkankah yang berat adalah, mengajarkan tentang Al-Qur’an tanpa dikabarkan. Biar yang diajari yang akan bercerita ke masyarakat. Tapi itu berat. Tidak usah branding-branding-an. Ajarkan Al-Qur’an sebagaimana mestinya sebuah kewajiban dan hak umat Islam. Bukan untuk branding-branding-an. Al-Qur’an sebagai ruh setiap jengkal proses pendidikan.
Menjadikan Hafalan Al-Qur’an sebagai branding pendidikan, tapi realita di lapangan hanya sekadarnya saja. Apa tidak takut nanti kalau ditanya oleh Auditor Yang Maha Kuasa? Saat kalam-Nya hanya dipakai untuk umpan saja. Yungalah. . .

Editor in Chief bilfest.id | Pekerja Teks Komersial.




