Paradigma Kehidupan Slow Living: Hidup Itu Perjalanan Bukan Pelarian

Awal mula saya tergugah menulis sedikit opini ini adalah karena saya baru saja menuntaskan membaca buku tipis tapi penuh daging karya Sabrina Ara dengan judul “Slow Living, Hidup Bukanlah Pelarian, tapi Perjalanan”. Sepertinya, konsep slow living memang mulai jadi ‘tren’ sekaligus ‘kebutuhan’ di zaman yang serba instan ini. Barangkali ada beberapa kalangan yang rasanya baru mendengar istilah tersebut. Atau bisa jadi beberapa orang pernah mendengarnya sekilas tapi belum tahu persis maknanya. Mari kita belajar bersama.

Apa hakikat slow living?

Secara singkat slow living dapat dimaknai sebagai sebuah pandangan hidup yang menganggap bahwa melakukan segala sesuatunya dengan tempo lambat atau tidak tergesa-gesa lebih baik ketimbang sebaliknya. Paradigma ini kontradiktif dengan gagasan yang mengatakan bahwa yang lebih cepat selalu lebih baik. Makna lambat di sini bukan berarti melakukan segala sesuatunya selambat siput, melainkan dengan kecepatan yang paling tepat dan tidak tergesa-gesa.

Sebenarnya konsep slow living mengajarkan pada kita sesuatu yang sangat manusiawi. Yaitu agar kita tidak grasa-grusu dan menikmati semuanya yang ada dalam hidup. Sebagian besar dari kita pasti sudah tidak asing dengan kalimat yang berisi nasihat lama; alon-alon asal kelakon. Benar sekali. Dengan berjalan lambat kita bisa lebih memikirkan secara mendalam atas langkah apa yang sebaiknya kita ambil. Kita juga bisa rehat sejenak dan merenungkan kembali apa sebenarnya yang kita cari dalam kehidupan ini. Kita relatif jauh lebih menghargai momen yang ada bersama keluarga dan teman-teman. Karena hidup ini bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai garis finish. Hidup adalah perjalanan, bukan pelarian. Namanya perjalanan tentu harus ditempuh dengan cara ‘berjalan’ bukan ‘berlari’, kan?

Benarkah sibuk sama dengan produktif?

Tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan zaman yang serba cepat saat ini menuntut manusia untuk ikut-ikutan ngegas juga agar tidak tertinggal. Imbasnya, lahirlah manusia-manusia yang super sibuk dan workaholic alias gila kerja. Manusia jenis ini menganggap bahwa kesibukan adalah tanda dari keproduktifan seseorang. Semakin sibuk, maka semakin tinggi produktifitas, dan semakin bagus pula citra dirinya di mata keluarga dan masyarakat. Orang yang sibuk derajatnya sama dengan orang sukses. Sementara orang yang sejenak rebahan sambil menikmati waktu sendiri seringkali dicap sebagai pemalas. Is that definitely true?

Pertama, perlu digarisbawahi mengenai perbedaan antara sibuk dan produktif itu sendiri. Apakah benar jika kita ingin produktif maka kita harus rela menjadi manusia paling sibuk sedunia? Bagaimana jika kesibukan itu justru ‘membunuhmu’ secara perlahan? Karena dengan segudang kesibukanmu itu sejatinya ia tidak akan membawamu ke mana-mana selain terjebak pada kelelahan, kepenatan, frustasi, dan rasa yang tidak akan pernah puas sampai kapanpun. Orang sibuk berbeda dengan orang produktif. Orang sibuk cenderung mengambil semua pekerjaan tanpa melihat tingkat prioritas dari pekerjaan tersebut. Sementara orang produktif hanya akan memilah pekerjaan yang sekiranya bermanfaat dan paling ‘tepat’ untuknya.

Kedua, santai bukan berarti bermalas-malasan. Belum lama ini saya sempat ditanya salah seorang teman, “lagi gabut, ya?” Lalu saya otomatis menjawab, “iya, maafkan aku yang gabut ini.” Percakapan sederhana, tapi sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diambil. Sebelumnya, saya akui diri saya memang cenderung penganut aliran ‘makin sibuk, makin produktif’. Sehingga saya merasa malu ketika saya ketahuan gabut atau tidak melakukan suatu kesibukan. Saya merasa diri saya tidak berguna. Tetapi, kemudian teman saya itu bilang memang apa salahnya dengan gabut? Apakah kita tidak boleh bersantai sejenak? Apakah kita harus sibuk sepanjang waktu? Benar juga. Tidaklah berdosa jika kita ingin bersantai sejenak. Sebagaimana kata-kata Fiersa Besari; Setiap kata butuh spasi. Setiap mobil butuh rem. Setiap rumah butuh ruang. Kita pun butuh jeda.

Ketiga, sibuk adalah pilihan. Tidak ada yang memaksa kita menjadi orang sibuk. Meski pengaruh zaman dan masyarakat bisa jadi menekan kita untuk menjadi manusia sibuk, tapi kendali penuh atas diri kita sejatinya tetap akan menjadi milik kita. Lantas, mengapa kita tidak memilih menjadi orang yang santai dan lebih menikmati hidup yang kita punya? Mengapa tidak mengambil nafas sejenak dan manfaatkan waktu yang ada untuk orang-orang tersayang? Just remember; keputusan selamanya ada di tanganmu.

Gaya hidup slow living yang prestisius.

Sebenarnya dengan memiliki gaya hidup slow living membuat seseorang sejatinya lebih produktif. Karena orang yang terlalu sibuk menjejalkan seluruh pekerjaan cenderung tidak khusyuk dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Sebaliknya, orang-orang yang memilih menikmati waktunya dan pekerjaannya secara sadar dan mindfulness pasti jauh lebih baik dan mendamaikan. Sayangnya, tidak semua orang paham indahnya gaya hidup slow living yang sebenarnya sangat prestisius di zaman yang ambisius ini.

Beberapa cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk menerapkan gaya hidup slow living yaitu: 1) prioritaskan yang penting, 2) lakukan segala sesuatu secara bertahap, dan 3) fokus pada tujuan awal.

Pertama, prioritaskan yang penting. Of course, seharusnya yang paling paham akan kebutuhan kita adalah diri sendiri. Jangan membebani diri dengan sesuatu di luar kemampuanmu. Ambil saja sesuatu yang bisa kita lakukan secara maksimal. Bukan sesuatu yang justru membuat kita kehilangan fokus dan lelah sendiri.

Kedua, lakukan segala sesuatu secara bertahap. Benar. Hidup perlu proses. Tidak mengapa kita belum mapan. Tidak mengapa kita belum punya rumah. Tidak mengapa kita belum belum bisa memberikan yang terbaik untuk orang tua. Dan masih banyak ‘belum’ yang lainnya. Tenang saja, namanya juga proses, kan?

Ketiga, fokus pada tujuan awal. Terkadang karena kita sibuk membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain, kita menjadi lupa dengan tujuan awal. Misalnya kita sedang membangun rumah. Kita mulai membangun sedikit demi sedikit dengan cara membeli tanahnya terlebih dulu, baru setelahnya membeli bahan baku pasir, dan seterusnya. Ketika melihat orang lain, mungkin dia bisa membangun rumah sehari jadi karena ada modal dan juga kemauan. Lantas, orientasi kita tiba-tiba berubah yang awalnya ‘aku ingin membangun rumah’ menjadi ‘aku ingin seperti si A yang membangun rumah sehari jadi’. Hal ini justru terkadang membuat kita kurang bersyukur dan menghambat proses yang sedang dijalani. Kuncinya adalah fokus saja pada tujuan awalmu. Tidak perlu memedulikan orang lain yang bahkan belum tentu mau peduli padamu.Itulah sedikit gambaran mengenai slow living.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan membuat pikiran kita semakin terbuka bahwa sejatinya hidup ini pantas untuk kita nikmati. Tidak apa memiliki banyak kekurangan. Tidak apa menjadi tidak sempurna. Tidak apa belum menjadi yang terbaik. Karena hidup bukanlah untuk menjadi yang terbaik, tapi lakukan saja yang terbaik dalam hidup. Slow down. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu berlari. Karena sekali lagi; hidup adalah perjalanan bukan pelarian.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top