
Cangkir Rindu

***
Jarak Dusta
Di balik pukul tujuh yang dulu hangat,
jarak berubah menjadi jeda yang membeku.
Janji-janji kecil perlahan kehilangan tempat,
sementara kata-kata manis yang dikira menenangkan
malah menyusup menjadi racun yang halus.
Namun kebenaran selalu menemukan celah;
bukan cinta yang pudar, hanya kepercayaan yang digoyahkan.
Saat langkah yang ditunggu akhirnya kembali,
terbongkarlah wajah lain yang bersembunyi,
yang menusuk justru dari dekat.
***
Cokelat
Cawan hangat itu masih menyimpan sisa percakapan kita,
Olesan manis di lidahku mengingatkan pada tawa yang pelan.
Kenyataan jarak kini bagai jarum yang perlahan menjahit waktu,
Engkau pergi, meninggalkan aroma yang tak habis dari ingatan.
Larut malam kerap membawa kembali bayangan sederhana itu,
Ada sunyi yang singgah setiap kali kukecap pahit manisnya,
Terakhir kali, segelas cokelat jadi saksi perpisahan yang tak kita ucapkan.
***
Bisik Hening
Pagi berdiam di balik jendela,
heningnya menyapu sisa gelisah semalam.
Udara tenang, langkah terasa ringan,
seakan dunia memberi jeda.
Tapi malam berisik tanpa suara,
pikiran menyalakan lampu di dalam kepala.
Tanggung jawab menepuk bahu,
mengingatkan: ada yang belum selesai.
***
Afifah Dwi Wardani lahir di Tangerang bulan April 2005. Ia adalah mahasiswa S1 Sastra Indonesia dengan minat besar pada dunia kepenulisan. Karyanya telah terbit dalam e-proceeding nasional melalui artikel berjudul “Sikap Mahasiswa Angkatan 2023 terhadap Bahasa Jawa pada Lingkungan Multilingual di Fakultas Ilmu Budaya Unsoed.” Afifah dapat dihubungi melalui Instagram @afifahdwrdn.




