Bisik Hening dan Puisi Lainnya

Cangkir Rindu

***

Jarak Dusta

Di balik pukul tujuh yang dulu hangat,
jarak berubah menjadi jeda yang membeku.
Janji-janji kecil perlahan kehilangan tempat,
sementara kata-kata manis yang dikira menenangkan
malah menyusup menjadi racun yang halus.

Namun kebenaran selalu menemukan celah;
bukan cinta yang pudar, hanya kepercayaan yang digoyahkan.
Saat langkah yang ditunggu akhirnya kembali,
terbongkarlah wajah lain yang bersembunyi,
yang menusuk justru dari dekat.

***

Cokelat

Cawan hangat itu masih menyimpan sisa percakapan kita,
Olesan manis di lidahku mengingatkan pada tawa yang pelan.
Kenyataan jarak kini bagai jarum yang perlahan menjahit waktu,
Engkau pergi, meninggalkan aroma yang tak habis dari ingatan.
Larut malam kerap membawa kembali bayangan sederhana itu,
Ada sunyi yang singgah setiap kali kukecap pahit manisnya,
Terakhir kali, segelas cokelat jadi saksi perpisahan yang tak kita ucapkan.

***

Bisik Hening

Pagi berdiam di balik jendela,
heningnya menyapu sisa gelisah semalam.
Udara tenang, langkah terasa ringan,
seakan dunia memberi jeda.

Tapi malam berisik tanpa suara,
pikiran menyalakan lampu di dalam kepala.
Tanggung jawab menepuk bahu,
mengingatkan: ada yang belum selesai.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top