Apresiasi Sejarah: Jalan Melawan Krisis Identitas

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya”.

Begitulah semboyan Presiden Soekarno menekankan agar kita sebagai generasi penerus selalu mempelajari, mengingat, dan menghargai sejarah bangsa. Tentu ada beragam cara untuk mengingat sejarah selain membaca buku-buku sejarah. Mendiskusikan sejarah dengan cara yang relevan untuk semua generasi juga bisa dilakukan.

Bulan November merupakan momentum bersejarah yang patut untuk dikenang, terutama mengenang perjuangan para pahlawan yang telah berjasa menghadirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tanpa keberadaan mereka, tentu kenyamanan yang kita rasakan hari ini tidak mungkin terjadi. Untuk itulah, penghargaan pada para pahlawan tidak hanya sebagai pengingat sejarah, tetapi juga sebagai pengingat perjuangan yang harus terus dilanjutkan hingga generasi mendatang.

Purbalingga: Land of Heroes

Komunitas Literasi Purbalingga, Historia Perwira, dan Maos Sareng telah dan akan terus mengupayakan wadah diskusi sejarah yang relevan. Terbukti pada 27 November 2025, telah terlaksana diskusi sejarah bertemakan pahlawan mewarnai sudut kota Purbalingga. Melalui diskusi tersebut, bersama mengungkap wawasan kedaerahan dimana Purbalingga telah banyak melahirkan sosok pahlawan yang sangat berjasa. Rangkaian Purbalingga Land of Heroes diawali dengan pameran tokoh-tokoh pahlawan yang lahir di Purbalingga. Menyajikan wawasan terkait nama, tempat lahir, kontribusi, hingga peristiwa kepahlawanannya yang bisa kita petik hikmahnya. Pameran berlangsung sejak tanggal 12 – 30 November 2025 bertempat di Kedai Pojok, Taman Kota “Usman Janatin” Purbalingga.

Diskusi dimeriahkan oleh tiga orang narasumber. Pertama, Kang Igoen, seorang penulis dan pemerhati sejarah. Kang Igoen yang juga inisiator Historia Perwira mempersilakan café miliknya (Kedai Pojok) sebagai lokasi pameran Pahlawan Purbalingga dan puncaknya sebagai tempat diskusi. Kang Igoen banyak memberikan poin utama mengenai keberadaan pahlawan-pahlawan nasional yang lahir di Purbalingga. Lengkap dengan latar sejarah dan kontribusinya, Kang Igoen memberikan wawasan baru bagi peserta yang hadir. Setidaknya ada delapan nama pahlawan nasional yang dipaparkan, antara lain Jenderal besar Soedirman, Mayjen Soengkono, Sersan KKO Usman Janatin, Lettu Koeseri Joedosoebroto, Prof. Soegarda Poerbakawatja, R. Goeteng Taroenadibdata, Dr. Gan Koen Han, Komisaris Noto Sumarsono, dan Penatus Arsawikrama.

Kedua, Bayu Kisnandi, seorang aktivis muda yang cukup vokal dalam menyuarakan aspirasi masyarakat melalui organisasi dan aksi. Bayu mengutip peristiwa sejarah di Desa Pepedan, Kecamatan Karangmoncol dimana kala itu para gerilyawan tengah beristirahat, ada seseorang/sekelompok masyarakat yang mengadu ke militer Belanda di Wirasaba sehingga terjadilah serangan mendadak. Poin yang ingin disampaikan adalah para pahlawan pada masa itu punya beban yang luar biasa untuk melawan status quo, kondisi dimana keadilan tidak merata dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Sebuah pertanyaan menarik muncul “bayangkan kita hidup di zaman penjajahan, apakah kita termasuk yang mendukung penguasa saat itu atau menjadi pihak yang melawan status quo?” Untuk itulah pentingnya membaca kembali sejarah, terutama bagi aktivis muda yaitu memahami betul apa yang harus diperjuangkan saat ini.

Ketiga, Kang Afit, seorang pemerhati sejarah dan pendiri penerbit buku Rayya Creativa. Kang Afit secara bersemangat memprovokasi peserta yang mayoritas pemuda dan aktivis ini untuk kembali mencermati sejarah Purbalingga. Hal yang digarisbawahi oleh Kang Afit adalah penetapan hari jadi Kabupaten Purbalingga yang memiliki dasar sejarah yang tidak tepat. “Jane ya ora patut, tanggal semeno (18 Desember) ulang tahune” protes Kang Afit. Sejarah yang melatarbelakangi ditetapkannya hari jadi Kabupaten Purbalingga bertepatan dengan hari di saat daerah Purbalingga pada tahun 1830 “diserahkan” kepada Kolonial Belanda oleh Keraton Surakarta, sebagai balas budi atas bantuan untuk mengalahkan pasukan Pangeran Diponegoro. “Setiap tahun masyarakat purbalingga merayakan hari dimana kepala kita diinjak oleh belanda sebagai wilayah kekuasaannya” sambung Kang Igoen.

Semakin malam diskusi semakin hangat. Beberapa peserta yang hadir juga berkesempatan untuk mengutarakan apa yang dirasakan dan dipikirkan. Seperti Bimba, seorang guru PAI di sekolah Muhammadiyah yang mengeluhkan bagaimana murid-muridnya saat ini tidak banyak mengetahui sejarah nasional maupun sejarah ke-Muhammadiyah-an. Bimba menilai bahwa anak muda saat ini menghabiskan perhatiannya pada sesuatu yang kurang dan bahkan tidak berfaedah. Begitu juga Yoga, seorang fresh graduate S2 UI, mengapresiasi diskusi sejarah ini. Sejarah punya kekuatan untuk membentuk karakter dan identitas diri. Sebagai anak Purbalingga sudah seharusnya membumikan nilai sejarah daerah.

Apresiasi Sejarah versus Krisis Identitas 

Gen Z sebagai generasi yang sangat cakap teknologi, terpontang-panting dihadapan cepatnya perkembangan media sosial. Media sosial memungkinkan seorang anak terpapar informasi secara cepat dan banyak. Kondisi ini jika tidak dibarengi dengan pondasi pemahaman akan budaya sendiri berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan dalam pembentukan identitas diri. Seorang remaja yang belum mampu memilah mana yang baik dan buruk akan mengamalkan secara semena-mena apa yang ada di media sosial. Hal ini diperparah dengan adanya algoritma validasi dan atensi yang memberi “dopamine” lebih bagi seorang remaja (bahkan siapapun) untuk terus mengonsumsi apa yang ada di dunia maya. Dampak negatif yang dibiarkan tak tersaring inilah yang menjadi pemantik krisis identitas pada gen z.

Mengapresiasi sejarah menjadi satu-satunya jalan untuk melawan krisis identitas. Sejarah tidak hanya tentang menggali fakta-fakta peristiwa pada masa lampau, tetapi yang lebih penting adalah menggali nilai-nilai universal yang dapat menjadi petunjuk laku. Apresiasi sejarah dapat dilakukan dengan membaca buku sejarah, melihat video sejarah, dokumenter, hingga diskusi bertemakan sejarah. Tidak hanya untuk menyalurkan nilai-nilai yang terkandung, apresiasi sejarah juga digunakan untuk rebranding suatu daerah. Citra yang baik suatu daerah akan berdampak pada moral masyarakatnya. Tak jarang, memberinya rasa semangat dan tujuan hidup.

Upaya inilah yang sedang disajikan oleh Komunitas Literasi Purbalingga, Historia Perwira, dan Maos Sareng. Diskusi Purbalingga Land of Heroes menjadi langkah serius tapi santai untuk nyelentik orang-orang asli Purbalingga agar lebih mengenal Purbalingga dengan lebih bangga. Rasanya banyak yang sudah muak ketika orang Purbalingga tidak banyak dikenal secara utuh, tidak jarang yang hanya dikenali dari bahasanya yang ngapak dan parahnya hanya dikenal sebagai tempatnya Sumanto

Ayo Purbalingga! sudah saatnya sadar dan berubah.

1 komentar untuk “Apresiasi Sejarah: Jalan Melawan Krisis Identitas”

  1. Pingback: Di Purbalingga Bersama Tim Peduli Lingkungan Menumbuhkan Kepedulian - Temenan BIL Fest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top