
Gerakan penanaman 1.113 pohon oleh Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Banyumas pada tanggal 25 Oktober 2025 menjadi tonggak penting yang merefleksikan keterpaduan antara ekologi, budaya, dan literasi di Banyumas. Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan Perhutani Situ, Gerumbul Derak, Desa Karangkemojing, dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-113 dan mengusung tema “Merawat Bumi, Merajut Kebersamaan dalam Harmoni Kebhinekaan.”
Melalui penanaman bibit pohon seperti alpukat, durian, pete, dan pucung di kawasan tangkapan air, aksi ini menekankan pentingnya konservasi alam, mitigasi bencana, serta penciptaan lingkungan yang sehat dan lestari.
Gerakan tersebut bukan hanya sekadar tindakan lingkungan, melainkan juga merupakan refleksi nilai budaya Banyumas yang telah lama dikenal akan tradisi gotong royong, kepedulian terhadap alam, dan penghormatan terhadap sumber daya air seperti Kali Penaruban. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat seperti petani, tokoh agama, organisasi wanita, dan pemerintah setempat menunjukkan budaya kolektif dan spirit kebersamaan yang menjadi ciri khas Banyumas. Penanaman pohon dalam jumlah besar yang dilakukan secara komunal ini sejalan dengan nilai budaya adat Banyumas, di mana upaya menjaga kelestarian bumi juga berarti menjaga warisan dan identitas budaya.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi sarana literasi ekologi dan spiritual bagi masyarakat. Melalui tausiyah, diskusi, serta aksi nyata di lapangan, masyarakat Banyumas diajak untuk memahami pentingnya pelestarian lingkungan, memelihara siklus air, serta menanamkan nilai-nilai agama yang menegaskan bahwa menjaga alam adalah bagian dari amal saleh dan tanggung jawab spiritual. Perpaduan antara literasi lingkungan dan budaya ini didukung oleh inisiatif komunitas dan agenda literasi di Banyumas yang terus berkembang, menjangkau aspek baca-tulis, digital, hingga praktik-praktik menjaga keberlanjutan ekosistem lokal.
Aksi penanaman pohon oleh PDNA Banyumas merupakan bukti nyata bahwa ekologi, budaya, dan literasi di Banyumas berjalan selaras. Inisiatif ini memperlihatkan bahwa pelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pelestarian budaya dan penguatan literasi masyarakat. Melalui kolaborasi lintas komunitas serta semangat berinovasi, Banyumas menegaskan identitasnya sebagai daerah yang mampu membangun masyarakat berwawasan lingkungan, berbudaya kuat, dan literat; serta siap menghadapi tantangan masa depan melalui harmoni antara manusia, alam, dan pengetahuan.
Dhamar Bondan Utomo, lahir di Cilacap bulan Oktober 2003, merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman. Berdomisili di Desa Sidareja, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap, ia memiliki ketertarikan besar pada dunia olahraga serta aktif dalam kegiatan nonakademik melalui Himpunan Mahasiswa Cilacap. Meski belum memiliki karya tulis yang dipublikasikan, Dhamar terus mengembangkan diri baik di bidang akademik maupun organisasi. Ia dapat dihubungi Instagram @dhamarbondanutomo.




