Ruwatan Sukerta: Ajakan Merawat Budaya dan Kearifan Lokal Banyumas

Sebagai salah satu orang yang menuntut ilmu di Banyumas saya merasa Kota Banyumas merupakan salah satu kota yang terkenal dengan budaya yang masih kental dan masih asli dengan tata caranya yang tradisional. Sebagai kota yang masih kental dengan adat dan budayanya, Banyumas secara aktif masih terus memamerkan budayanya yang beragam. Hal ini terlihat dalam berbagai kebudayaan, seperti mitoni, ngupati, cowongan, begalan, dan masih banyak lagi.

Ada juga tradisi yang masih terus dilaksanakan oleh masyarakat Banyumas untuk melestarikan warisan leluhur dan memberikan pengetahuan kepada generasi mendatang. Salah satu tradisi yang akan kita bahas adalah mengenai tradisi “Ruwatan Sukerta”. Tradisi ini biasanya dilakukan dan dimasukkan ke dalam sebuah festival yang setiap tahunnya dilaksanakan oleh Masyarakat Banyumas. Festival itu adalah “Festival Banjoemas Kota Lama”. 

Di Tengah gemuruhnya modernitas, Ruwatan Sukerta menjadi sebuah ritual tradisi Jawa yang sering kali dipandang sebelah mata oleh generasi muda jaman sekarang. Ketika saya mempelajarinya lebih jauh, saya menyadari bahwa Ruwatan Sukerta bukan hanya sekedar upacara tradisional, tradisi ini merupakan sebuah warisan turun temurun yang kaya akan makna, dan memberikan pengetahuan kepada manusia mengenai keseimbangan, kesadaran, serta hubungan antara dunia lahir dan batin.

Kata-kata “ruwatan” berarti “membersihkan” seseorang dari kesialan atau malapetaka. Tidak hanya mengusir sial, tradisi ini juga mengajarkan masyarakatnya untuk memahami kehidupan, bahwa manusia,alam dan budaya saling terhubung dalam satu lingkaran yang sama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa “Ruwatan Sukerta” mengandung tiga hal besar didalamnya, yaitu ekologi, literasi, dan budaya

Literasi Budaya Dengan Menjaga Warisan dan Penceritaan

Bagi saya, salah satu hal yang menarik dalam tradisi ini adalah ketika tradisi ini dapat menjadi medium literasi budaya dalam menghubungkan generasi muda dengan tradisi lisan, melalui ritual dan cerita yang disampaikan secara turun-temurun. Melalui literasi non teks (ritual), tradisi “Ruwatan Sukerta” dalam Festival Banjoemas Kota Lama tidak hanya menjadi ajang menikmati hiburan, tetapi juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk mendalami dan melestarikan tradisi secara aktif.

Kemudian dalam tahap literasi, Ruwatan Sukerta hadir dalam bentuk literasi budaya dan spiritual melalui mantra, doa, dan juga lakon wayang Murwakala. Dalam “Ruwatan Sukerta” dalang berfungsi memimpin, membacakan doa dan mantra, serta menjalankan lakon wayang selama prosesi ruwat berlangsung. Dalang memainkan lakon wayang yang tidak hanya sekedar memainkan, tetapi juga menyelipkan ajaran moral didalamnya. Tidak hanya bertugas menjalankan cerita, dalang dalam Ruwatan Sukerta hadir untuk memimpin dan mengakhiri jalannya prosesi tradisi “Ruwatan Sukerta” dari awal hingga akhir. 

Ekologi Kosmologis: Keseimbangan antara Manusia dengan Alam 

Untuk hal yang lebih jauh lagi, dalam pandangan Jawa, tradisi “Ruwatan Sukerta” menurut saya memiliki dimensi ekologi yang sangat erat dengan kosmologi. Kata “kosmos” dalam tradisi Jawa dilihat sebagai dimensi spiritual yang mengatur hubungan antara manusia, alam, dan roh. Secara ekologi, Ruwatan Sukerta dilihat dari perlengkapan yang digunakan selama prosesi Ruwatan Sukerta. Mulai dari tumpeng, kelapa, kain mori, dan masih banyak lagi. Masyarakat Jawa percaya bahwa setiap komponen pasti memiliki makna dan kekuatan tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kesadaran ekologis yang luar biasa. Mereka melihat alam tidak hanya sekedar sebagai sumber daya, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat.

Dalam setiap perlengkapan yang ada, mengajarkan kita bahwa setiap manusia tidak bisa hidup tanpa adanya lingkungan yang memadai. Dalam tradisi ini, bumi memiliki simbolisme tertentu, yang mengartikan bahwa, manusia harus menjaga kelestarian alam untuk menjaga keharmonisan dunia. Tradisi juga mengajarkan kita bahwa alam bukanlah sekedar tempat tinggal, namun juga sebagai bagian dari keberadaan mereka yang harus dihormati. Dengan demikian dapat disimpulkan, ketika manusia “diruwat”, itu bukan hanya sekedar proses penyucian diri dari kesialan, tetapi juga sebagai bentuk permohonan agar manusia menyatu dengan alam. 

Perspektif Budaya Banyumas Dengan Tetap Menjaga Identitas Lokal

Dalam konteks budaya, tradisi “Ruwatan Sukerta” bukan hanya tradisi yang dijalankan setiap tahun secara turun temurun, tetapi juga selalu mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal dan mengedepankan hubungan yang harmonis antara manusia dengan kekuatan spiritual. Melalui budaya ini, Sebagai generasi penerus, kita sebagai masyarakat Banyumas mengajarkan generasi muda untuk memegang teguh nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang.

Sebagai sebuah tradisi,”Ruwatan Sukerta” merupakan bagian penting dari budaya Jawa. Ruwatan merupakan salah satu bentuk nyata dari falsafah hidup masyarakat Banyumas yang berbunyi “urip iku kudu rukun, kudu resik, kudu eling”-hidup itu harus rukun, bersih, dan sadar. Tradisi ini merupakan salah satu manifestasi dari konteks budaya Jawa yang dalam. Hal ini terlihat dari tradisi “Ruwatan Sukerta” tidak hanya menampilkan sebuah ritual upacara, namun juga merupakan cerminan hidup masyarakat yang mengandung nilai, kepercayaan dan cara masyarakat memandang kehidupannya.

Oleh karena itu, melalui lakon Wayang Murwakala, mantra, hingga sesaji memiliki fungsi sebagai mekanisme budaya, menyucikan diri, serta menegaskan kembali norma-norma yang ada. Dengan demikian, konteks budaya dalam tradisi “Ruwatan Sukerta” membuktikan vitalitasnya sebagai sebuah institusi budaya yang akan menjadi sarana penegasan indentitas masyarakat Banyumas di tengah perubahan zaman dan modernisasi. Festival Banjoemas Kota Lama menjadi wadah penting untuk menghidupkan kembali budaya lokal yang mungkin terancam punah. Bukan hanya orang tua atau tokoh penting, tetapi generasi muda juga harus memahami makna dalam tradisi “Ruwatan Sukerta”. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya menjadi milik satu generasi, tetapi juga diwariskan dan diteruskan oleh masyarakat secara kolektif. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top