Jemblung Banyumas: Ketika Suara Menjadi Irama

Ada cerita rakyat dan pewayangan yang terdengar, tapi tidak ada seperangkat gamelan, tidak terlihat pula lakon wayang yang dijejerkan. Hanya ada beberapa orang dan makanan, tapi menyuguhkan seni pertunjukan yang ramai. Inilah Jemblung, seni pertunjukan yang sayangnya kini mulai jarang terdengar.

Jemblung berasal dari kalimat “Jem-jemane wong gemblung”, atau bisa diartikan sebagai bicaranya selayaknya atau seperti orang gila. Orang gila mungkin sering berbicara tidak jelas, tapi dibalik hal itu sebenarnya ada pitutur/petunjuk yang benar.

“Pementasan Jemblung penuh dengan pitutur, pituduh, dan pitulung” ungkap Ki Agung Wicaksono selaku pelaku dalang Jemblung di Banyumas

Pitutur adalah nasihat yang mengandung filosofi atau nilai moral kehidupan, pituduh merupakan petunjuk yang menjadi pedoman dan pegangan manusia untuk menjalani kehidupan yang baik, serta pitulung adalah sesuatu yang dapat menolong atau membantu. Dalam Jemblung sarat akan pesan-pesan leluhur bagi anak cucunya di masa depan dalam menjalani kehidupannya. 

Pertunjukan Jemblung dipentaskan oleh 5-6 orang, yang terdiri gabungan beberapa dalang dari kesenian yang berbeda, yaitu dalang Jemblung, dalang wayang kulit, dan dalang ketoprak atau dalang begalan. Dalam pementasan Jemblung urutan pertunjukannya hampir sama dengan wayang namun dengan proses yang berbeda. Tidak ada wayang kulit seperti pada pementasan pewayangan yang biasa dilihat, namun yang menjadi wayang dalam pementasan Jemblung justru adalah jajanan pasar/ jajanan tradisional.

Para dalang akan duduk melingkari meja pertunjukan yang diatasnya tersaji makanan/jajanan pasar. Makan/jajanan tersebut, masing-masing akan menjadi tokoh pada cerita yang dipentaskan. Tidak ada ketentuan khusus untuk ragam jajanan pasar yang digunakan, namun biasanya berupa 7 warna yang berbeda dengan alasan agar visualnya menarik. Kemudian iringan gamelannya bukan dimainkan dengan alat musik karawitan melainkan dimainkan menggunakan suara-suara mulut atau akrab dikenal seperti acapella. Penggunaan jajanan pasar/ jajanan tradisional sebagai tokoh cerita juga memiliki tujuan untuk melestarikan keberadaan jajanan pasar di masa saat ini, yang semakin tergeser oleh makanan-makanan asing yang bahkan bahan bakunya saja tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia ini. 

Saat ini pementasan Jemblung banyak digunakan di acara ruwatan desa, slametan, pernikahan, maupun di acara-acara biasa. Sebelum pementasan biasanya dalang akan melakukan puasa dan sowan ke makam-makam leluhur yang ada di sekitar lokasi pementasan. Hal ini dilakukan hanya dengan tujuan menghormati mengingat leluhur. Pementasan Jemblung biasanya diawali dengan berdoa pada tuhan dan leluhur, lalu dilanjutkan dengan pembukaan dengan talu banyumasan, dan dibuka dengan “gedruge dalang”. Gedruge dalang atau dikenal juga gedog dalang  mengacu pada ketukan cempala yang secara ritmis diantukkan ke kotak wayang selama pagelaran wayang sebagai penanda dimulainya adegan atau pementasan. Kalau pementasan wayang kulit memakai cempala sebagai pemukulnya, maka Jemblung berbeda. Pada pementasan Jemblung Banyumas, dalang menggunakan “Kudi” yang juga merupakan salah satu senjata tradisional Banyumas. 

Properti yang digunakan dalam pementasan dalang Jemblung cukup sederhana. Hanya ada meja, jarit sekar jagat, kudi, tampah, ceret, air minum tiga jenis (kopi, teh, air putih), sesaji komplit (bunga mawar, melati, kenanga, kanthil, telur, koin, rokok, tali lawe, janur kuning, kelapa, susu, dan beras warna warni), dan tentunya jajanan pasar / tradisional yang berperan sebagai peraga tokoh/lakon cerita. 

Durasi pementasan Jemblung hanya sekitar 2-3 jam. Jemblung ada 2 jenis dalam pementasannya, yaitu klasik dan modern. Jemblung klasik adalah pementasan Jemblung yang berdiri sendiri selayaknya pementasan biasa tanpa ada kolaborasi dengan kesenian atau pertunjukan lainnya. Sedangkan pementasan Jemblung modern bisa berkolaborasi dengan alat apapun, misalnya dengan pementasan ketoprak, drama musikal, maupun teater. Kolaborasi dengan seni pertunjukan lainnya dilakukan untuk menarik minat masyarakat,  karena realitanya saat ini Jemblung sudah semakin jarang terdengar. 

Seni Pertunjukan ini kini menghadapi tantangan besar. Generasi muda lebih akrab dengan musik-musik modern, dengan pementasan-pementasan teater modern, dan hiburan digital. Hal tersebut jelas mengancam regenerasi dan kelangsungan seni pertunjukan Jemblung ini. Minimnya dokumentasi dan dukungan juga membuat Jemblung semakin rentan hilang.

“Misalkan ada pendanaan, dibikinlah workshop dalang Jemblung, narasumber diundang beberapa dalang Jemblung, dan audiens bisa dari siapapun bebas. Siapa tau dari audiens yang datang mau dan tertarik untuk belajar. Namun kesempatan itu belum pernah ada dan diberikan” ungkan Ki Agung Wicaksono. 

Tidak hanya soal regenerasi, Jemblung juga menghadapi ancaman dengan semakin sedikitnya masyarakat yang ingin mengundang dan menggelar pertunjukan ini. Kini kepopularitasan Jemblung masih dibawah pementasan-pementasan lain di Banyumas, seperti wayang kulit, ketoprak, maupun ebeg. 

Salah satu solusi, untuk menjaga Jemblung  dapat dilakukan dengan kolaborasi antar pihak, seperti pelaku budaya, pemerintah, dan masyarakat. Pelaku budaya dapat membuat komunitas Jemblung untuk mencari bibit-bibit baru sebagai bentuk mempertahankan regenerasinya. Pemerintah dapat mendukung keberlangsungan Jemblung dengan dilakukannya pendataan dan pendokumentasian yang baik dan serius, guna mendukung penetapan Jemblung sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang diakui secara nasional. Peran Masyarakat juga menjadi peran yang sangat krusial. Tanpa keterlibatan aktif dari masyarakat yang menyediakan panggung dan menjadi konsumen, maka Jemblung juga akan kehilangan fungsinya sebagai seni pertunjukan. Oleh karena itu, dibutuhkan banyak kolaborasi dari banyak pihak untuk dapat terus memperpanjang nafas dari seni pertunjukan Jemblung ini. 

Namun sejatinya, Jemblung bukan hanya pertunjukan, melainkan cermin masyarakat yang menyampaikan pesan melalui bahasa, bunyi, dan pertunjukan. Dalam tuturan para penampilannya dan kisah-kisah yang diceritakan, tersimpan kearifan lokal, nilai-nilai hidup, cara berpikir, dan sejarah masyarakatnya. Yang terus dan harus dijaga eksistensinya agar tetap hidup dari masa ke masa. Selama masih ada yang mau bercerita, selama masih ada yang mau mendengar, Jemblung tidak akan mati, dan nilai serta pesan leluhur akan terus tersampaikan dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top