
Perjalanan hidup yang kompleks dengan berbagai tantangan, membutuhkan etos dan kemauan yang kuat untuk dapat mewujudkan sebuah cita-cita besar. Namun dalam mengupayakannya, tentunya bagaimana agar jalan yang ditempuh tidak melanggar tatanan dan norma yang berlaku.
Bedah lika-liku cerita dalam Mahabarata yang ditokohkan oleh seorang putra mahkota dari negeri Nishada, ia bernama Ekalaya (Ekalavya; dalam bahasa Sansekerta) putra angkat dari Prabu Heranyodanu (Hiranyadanus) yang tidak dikaruniai keturunan oleh dewa. Nama Ekalaya memiliki arti seseorang yang memusatkan pada sebuah ilmu pengetahuan. Nishada Adalah negeri para pemburu, Dimana rakyatnya Adalah para pemburu ulung.
Ekalaya versi wayang purwa adalah Bambang Ekalaya ataupun Palgunadi, seorang raja muda dari Paranggelung yang memiliki etos belajar tinggi. Ia memiliki keinginan belajar dari resi Dorna yang ia dambakan sebagai seorang guru perang, ia ingin menguasai teknik memanah, di mana Dorna adalah satu guru yang masyhur akan keahlian memanah dan memiliki ambisi untuk menjadi pemanah terbaik.
Suatu hari Ekalaya datang ke Astina untuk bertemu dengan Dorna, namun apa yang menjadi keinginannya tidak semulus yang diharapkan. Ia ditolak untuk berguru kepada Dorna, Dorna menolak bukan tanpa alasan yang remeh, ia telah dibaiat oleh resi Abiyasa (kakek dari Kurawa dan Pandawa) bahwa Dorna tidak boleh mengajarkan ilmu perang kepada selain cucunya di Astina, sehingga permohonan Ekalaya untuk mengabdi menuntut ilmu dari Dorna gagal
Dengan rasa kecewa Ekalaya kembali ke hutan untuk bertapa, dalam menjalani semedi dia menemukan inspirasi untuk membuat sebuah patung berwujud Dorna. Di depan patung berwujud Dorna tersebut, Ekalaya gigih dalam berlatih ilmu memanah, sehingga dengan kegigihan tersebut dia berhasil menguasai teknis memanah yang menyamai keahlian Arjuna dan Dorna.
Ketika Dorna mengajarkan ilmu panah kepada Arjuna, dia menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menandingi ilmu memanah Arjuna. Saat Arjuna sedang berburu di hutan ia dikejutkan dengan adanya hewan buruan yang sedang dia incar, tiba-tiba dibidik anak panah trisula, Dimana ilmu panah tersebut hanya dimiliki oleh Dorna dan hanya diajarkan kepada Arjuna. Dari kejadian tersebut Arjuna mengadukan informasi tersebut kepada Dorna, dan menuduh bahwa Dorna mengajarkan ilmu panah kepada orang lain, sehingga dengan penuh amarah Dorna mencari Ekalaya, dan menemukan Ekalaya di tengah hutan. Ketika bertemu, Dorna meminta persembahan kepada Ekalaya sebagai bentuk bakti dan penghormatan murid kepada gurunya. Dengan penuh semangat, Ekalaya menghaturkan apa yang menjadi permintaan Dorna, namun betapa terkejutnya bahwa yang diminta oleh Dorna adalah Ekalaya harus mempersembahkan jari telunjuknya untuk dipotong dan diberikan kepada Dorna.
Dengan ikhlas, Ekalaya memenuhi permintaan Dorna memotong jari telunjuknya dan diberikan kepada Dorna. Sehingga ia menjadi cacat dan tidak bisa memainkan panah dengan sempurna, maka pemanah terbaik tetap disandang oleh Arjuna.
Versi pedalangan wayang kulit, Raja Paranggelung Ekalaya memiliki istri bernama Dewi Anggraeni. Ketika Ekalaya kembali setelah ditolak untuk menjadi murid oleh Dorna, dan Dorna mencari Ekalaya bersama Arjuna, Arjuna kepincut dan menggoda istri Ekalaya. Dengan amarah yang timbul, Ekalaya bertarung dengan Arjuna, dengan kekuatan yang lebih unggul dari Arjuna, sehingga arjuna berhasil dikalahkan oleh Ekalaya. Namun kelicikan Dorna muncul, dia meminta Ekalaya memotong jari telunjuk untuk dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan, ia menuruti apa yang diminta oleh Dorna.
Kerajaan Nishada berkoalisi dengan Jarasanda Raja Magada menyerang Kerajaan Mandura wilayah kekuasaan Baladewa yang dibantu oleh adiknya Kresna (Dwarawati) Jarasanda – berhasil dikalahkan oleh pasukan Mandura. Ekalaya menyerang balik Kerajaan Dwarawati dan akhirnya meninggal setekah disenjata Cakara oleh Kresna.
Dari perjalanan Ekalaya kita dapat pelajaran tentang semangat belajar dan mengembangkan diri. Apa yang menjadi cita-cita harus ada etos dalam diri, tidak ada yang bisa menghalangi, apapun rintangan dan hambatan. Ketika tekad sudah tumbuh, maka semua akan bisa dicapai dengan maksimal. Zaman yang semakin kompleks saat ini, bagaimana kita bisa memilah-memilih seorang yang akan dijadikan guru, agar tidak tersulut dogmatis dan pragmatism sesaat.
Rahayu – Rahayu – Rahayu

Miftakhul Saleh adalah penulis yang berasal dari Wonosobo. Kini Ia menekuni pertanian organik.




