
Legenda kisah Putri Ayu Limbasari bukan sekedar cerita sejarah yang hadir dalam bumi eks-Karesidenan Banyumas atau ada juga yang menyebut Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen), melainkan juga sebuah refleksi bagaimana hubungan manusia dengan alam. Cerita tersebut menggambarkan perjalanan spiritual dan sosial yang mengandung nilai-nilai budaya, ekologis, dan literasi lokal.
Kisah Putri Ayu Limbasari cukup terkenal di Barlingmascakeb, tepatnya di Purbalingga, Kecamatan Bobotsari. Namun, sayangnya jarang kali orang mengetahui keberadaan dan cerita tersebut. Hal tersebut terkenal karena keberadaannya Sang Putri yang sangat memiliki pesona cantik jelita, tapi berakhir menimbulkan petaka.
Cerita bermula pada saat masa pemerintahan Panembahan Senopati, Raja Mataram yang bernama Syekh Gandiwasi. Sosok tersebut merupakan seorang penyebar agama Islam yang berasal dari Turki. Syekh Gandiwasi mendapatkan izin untuk menyebarkan ajaran tersebut tepat di kaki Gunung Slamet.
Putri Ayu lahir dari Desa Limbasari yang bertepatan dekat dengan pusat Kota Purbalingga, Kecamatan Bobotsari. Putri Ayu merupakan anak kedua dari pasangan Ketut Wlingi dan Siti Rumbiah. Ketut Wlingi seorang laki-laki asli Bali yang datang ke Limbasari bersama Patra Wisa dengan tujuan mencari ilmu.
Dalam pertemuan Ketut Wlingi dan Patra Wisa bertemu dengan seorang penyebar agama Islam yakni, Syekh Gandiwasi. Dengan ketekunannya, Syekh Gandiwasi mendirikan sebuah padepokan atau santri tepat di kaki Gunung Slamet, Desa Limbasari. Padepokan tersebut semakin berkembang, semenjak adanya kehadiran Ketut Wlingi dan Patra Wisa.
Seiring berjalannya waktu padepokan semakin ramai dan pesat, sehingga membutuhkan lahan yang lebih luas. Kebetulan Ketut Wlingi dan Patra Wisa mahir dalam bidang pertanian, lalu dibuatkan saluran perairan di kawasan mata air Gunung Kelir. Dalam perjuangannya, mengalami kecelakaan di bendungan tersebut, untuk mengenang jasanya dinamakan bendungan Patra Wisa. Lalu, Ketut Wlingi juga mengalami hal yang sama saluran air tersebut diberi nama Kali Wlingi.
Setelah padepokan semakin ramai, Syekh Gandiwasi menikahkan putrinya Siti Rumbiah dengan Ketut Wlingi. Pernikahan tersebut melahirkan kebahagiaan dengan dikaruniai dua anak, laki-laki dan perempuan. Anak-anak tersebut diberi nama Wlingi Kusuma dan Dyah Ayu Sri Wasiati atau yang lebih akrab disapa dengan Putri Ayu Limbasari.
Adanya julukan Putri Ayu Limbasari karena pesona kecantikan jelita Sang Sri Wasiati. Pada saat itu jika diibaratkan, perawakannya yang cantik memiliki tipe kuning langsat, body goals, dan lesung pipi yang manis. Selain itu, ia juga memiliki rambut hitam pekat yang panjang sehingga menambah aura seperti kembang desa pada umumnya.
Seiring bertambahnya usia, pesona Sri Wasiati semakin terpancar seperti perempuan luar biasa. Kecantikan tersebut bukan hanya dari fisik, namun dari sikap yang sopan dan santun. Hal tersebut yang akhirnya membuat orang lain menjadi kesenjangan sosial dan cemburu. Dengan pesona kecantikannya Sri Wasiati menimbulkan persaingan antara para bangsawan atau adipati.
Empat lamaran sekaligus datang dari para adipati untuk meminang Sang Putri. Para Adipati tersebut diantaranya yakni, Adipati Wirayuda, Adipati Wiratenaya, Adipati Wirataruna, dan Adipati Wirapraja. Adanya hal tersebut semakin membuat bingung pihak perempuan sekaligus keluarga.
Bermula dari kebingungan tersebut, akhirnya, sang kakak, Wlingi Kusuma membuat Sayembara: siapa sosok yang mampu mengalahkan dirinya dalam pertarungan, dialah yang akan berhak meminang adiknya, Sri Wasiati. Namun, setelah melakukan hal tersebut tidak kunjung datang pemenangnya. Tak satupun Adipati mampu mengalahkan Wlingi Kesuma.
Adanya kekalahan tersebut membuat para Adipati bersepakat untuk menyerang dan membunuh Wlingi Kesuma secara bersama-sama. Bagian tubuh Wlingi Kusuma dipotong-potong dan dikubur berbagai tempat, yang akhirnya masing-masing menjadi toponimi daerah seperti Siregol, Pelumbungan, Sikonthol, dan Lemah Jejekan. Peristiwa tragis ini memberi pelajaran bahwa keserakahan dan ambisi manusia bisa membuat orang lain terluka.
Kematian sang kakak membuat Sri Wasiati membuat duka yang mendalam. Sri Wasiati merasa kecantikan yang tadinya anugerah, justru membuat petaka untuk dirinya dan keluarganya. Tanpa pikir panjang, ia merenung dan memberi pesan kepada gadis-gadis sebayanya di Limbasari untuk tidak terlalu membanggakan pesona kecantikan diri. Hal tersebut sejalan dengan literasi dan ekologis bagaimana manusia tidak memperlakukan orang lain sebagai objek pemujaan dan eksploitasi.
Dalam merenungi dukanya, Sri Wasiati mengalami keputusasaan hingga ia akhirnya melakukan tapa mendem atau sebuah proses spiritual dengan mengubur dirinya secara hidup-hidup. Ia percaya, dengan melakukan hal tersebut dapat menyelamatkan desa dari pertikaian para bangsawan. Setelah mengubur dirinya secara hidup-hidup, tanda kehidupan berada pada benang yang menjulur ke tanah. Apabila benang tersebut hilang, maka menandakan dirinya sudah wafat.
Sejak saat itu, masyarakat setempat mengenalnya sebagai Putri Ayu Limbasari, sosok yang cantik dan rela berkorban demi masyarakat. Kini, makamnya Putri Ayu Limbasari masih terawat dan cukup dianggap keramat. Letak persisnya di dekat Galeri Batik Muning Sari, tempat tersebut dipercaya dulunya sebagai padepokan yang lama. Di sekitar makamnya atau kawasan Limbasari, kekayaan alamnya masih cukup menakjubkan mulai dari pemandangan yang sejuk, curug mini, serta bendungan Patra Wisa yang menjadi simbol hubungan antara sejarah, budaya, dan ekologi.
Melalui, kisah legenda Putri Ayu, kita dapat mengetahui bahwa bukan hanya sekedar cerita sejarah tetapi bagaimana membaca alam. Legenda ini adalah salah satu bentuk literasi ekologis mengenai pentingnya menjaga hubungan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Alam yang disebutkan dalam cerita diantaranya yakni, gunung, sungai, bendungan, dan sumber mata air.
Dengan mengenang kembali cerita legenda lokal seperti ini, diharapkan dapat memperkuat identitas budaya dan menumbuhkan kesadaran ekologis. Selain itu, mengenalkan kepada masyarakat lokal maupun luar Banyumas yang belum mengetahui adanya legenda tersebut. Kisah Putri Ayu Limbasari menjadi pengingat juga bahwa keindahan tidak hanya terletak pada rupa dan kekuasaan, tetapi kedamaian dan kebijaksanaan kepada sesama serta alam.
Najwa Anisa Aprilia adalah penulis kelahiran Jakarta yang saat ini berdomisili di Purwanegara, Purwokerto Utara, Banyumas. Ia memiliki ketertarikan pada film bergenre romcom dan aktif mengembangkan minat tersebut dalam kesehariannya. Meski belum memiliki aktivitas nonakademik maupun publikasi karya tulis, Najwa terus membangun pengalaman akademik dan pribadi. Ia dapat dihubungi melalui Instagram @najwaansaprl.




