
Mendoan bukan sekadar gorengan gurih yang menemani secangkir kopi sore di warung Banyumas. Ia adalah teks budaya yang menggambarkan relasi mendalam antara manusia, alam, dan bahasa, yang terhidang dalam selembar tempe setengah matang dan balutan tepung berbumbu. Melalui mendoan, kita bisa membaca kisah panjang tentang pertanian kedelai, kebiasaan masyarakat, hingga identitas linguistik khas Ngapak yang begitu jujur dan terbuka. Setiap gigitannya seperti membuka bab dalam buku besar kebudayaan Banyumas yang sarat makna.
Inti dari mendoan adalah tempe, hasil fermentasi kedelai yang menjadi simbol ketahanan pangan rakyat kecil. Tempe dalam mendoan bukan sekadar bahan dasar, melainkan representasi dari ekologi kedelai yang kompleks dan terjalin dalam siklus kehidupan petani. Kedelai, meski berasal dari luar nusantara, kini telah beradaptasi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pertanian Jawa. Di Banyumas, kedelai tidak hanya ditanam untuk konsumsi, tetapi juga menjadi elemen penting dalam ekonomi lokal yang bergantung pada industri tempe rumahan.
Proses pembuatan mendoan mencerminkan hubungan simbiotik antara manusia dan alam. Petani menanam kedelai, perajin tempe mengolahnya dengan fermentasi alami menggunakan Rhizopus Oligosporus, lalu pedagang gorengan mengubahnya menjadi sajian hangat yang menggugah selera. Dari ladang hingga wajan penggorengan, terdapat rantai ekologi dan ekonomi yang saling menopang. Ketika kita menikmati mendoan, sejatinya kita tengah menyantap hasil kerja kolektif banyak tangan yang menghidupi ekonomi lokal Banyumas.
Ekologi mendoan tidak hanya berhenti pada kedelai, tetapi juga pada bahan pelengkap seperti daun bawang, tepung, dan cabe rawit. Daun bawang yang ditanam di pekarangan rumah mencerminkan kemandirian pangan masyarakat desa. Adonan tepung yang dicampur bawang putih, ketumbar, dan kencur menjadi bentuk kearifan kuliner Nusantara yang telah diwariskan lintas generasi. Keseluruhan bahan tersebut membentuk ekosistem pangan yang sederhana namun berkelanjutan, memperlihatkan bahwa mendoan adalah hasil kreativitas lokal yang mengakar kuat pada tanah Banyumas.
Dari aspek budaya, mendoan tak bisa dilepaskan dari Budaya Ngapak yang menjadi identitas khas masyarakat Banyumas. Dialek Ngapak dikenal dengan pengucapan yang terbuka dan gaya bicara yang ceplas-ceplos, mencerminkan karakter jujur dan apa adanya. Kata “mendo” sendiri berasal dari bahasa Ngapak yang berarti setengah matang. Artinya, istilah mendoan bukan sekadar istilah kuliner, melainkan juga cerminan filosofi hidup masyarakat Banyumas yang sederhana dan tidak dibuat-buat.
Dalam kehidupan sehari-hari, mendoan berperan sebagai simbol egaliter yang menjembatani semua lapisan masyarakat. Dari warung kaki lima hingga kafe modern, mendoan tetap diterima dan dicintai tanpa memandang status sosial. Di warung kopi, angkringan, hingga pasar pagi, mendoan menjadi alasan untuk berkumpul dan bercakap dalam dialek Ngapak yang hangat. Di sana, bahasa menjadi jembatan persaudaraan, dan mendoan menjadi pengikat sosial yang memperkuat rasa kebersamaan antarwarga.
Di sinilah gerakan literasi lokal Banyumas menemukan inspirasi. Literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami tanda-tanda budaya, alam, dan bahasa yang hidup di sekitar. Mendoan sebagai teks mengajarkan kita untuk membaca dunia melalui pengalaman lokal. Gerakan literasi yang menjadikan mendoan sebagai bahan pembelajaran sejatinya sedang menumbuhkan kesadaran ekologis, budaya, dan linguistik yang menyatu dalam kehidupan masyarakat Banyumas.
Dalam konteks literasi ekologi, mendoan bisa dijadikan contoh konkret tentang keterhubungan antara pangan, alam, dan manusia. Siswa bisa diajak menelusuri asal-usul kedelai, mengenal proses fermentasi tempe, serta memahami dampak impor kedelai terhadap ekonomi lokal. Dari situ, mereka belajar bagaimana menjaga keberlanjutan pangan dan menghargai kerja petani lokal. Kegiatan sederhana seperti membuat tempe sendiri atau menanam kedelai di sekolah dapat menjadi sarana belajar yang bermakna.
Sementara itu, dalam literasi budaya dan linguistik, mendoan membuka peluang besar untuk memahami identitas lokal. Melalui mendoan, siswa bisa belajar tentang kosakata khas Ngapak seperti “mendo”, “cablak”, atau “godhong”. Mereka juga bisa menelusuri cerita rakyat, peribahasa, atau humor Ngapak yang sering muncul di sekitar tema makanan. Misalnya, proyek menulis buku resep mendoan versi lokal dapat disertai glosarium bahasa Ngapak dan kisah para perajin tempe di pasar tradisional. Dengan begitu, bahasa daerah tidak hanya dilestarikan tetapi juga dimaknai sebagai bagian penting dari literasi budaya.
Lebih jauh lagi, mendoan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami pentingnya lokalisasi pengetahuan. Di tengah derasnya arus globalisasi, generasi muda perlu menyadari bahwa pengetahuan lokal adalah warisan yang tak ternilai. Melalui mendoan, mereka belajar bahwa kearifan tak selalu datang dari buku, tetapi juga dari dapur, ladang, dan kebiasaan sehari-hari. Mendoan yang setengah matang melambangkan proses belajar yang tak pernah selesai. Bahwa budaya selalu berkembang, dan identitas selalu berproses.
Mendoan bukan sekadar kuliner, tetapi simbol kebanggaan daerah yang mewakili semangat masyarakat Banyumas. Ia menggambarkan bagaimana kesederhanaan bisa menjadi kekuatan, dan bagaimana cita rasa lokal dapat menjadi alat untuk memperkuat identitas. Ketika gerakan literasi lokal menggunakan mendoan sebagai media belajar, maka yang ditanam bukan hanya kemampuan membaca, melainkan juga rasa memiliki terhadap budaya sendiri.
Melalui perspektif semiotik, mendoan dapat dibaca sebagai teks yang mengandung makna berlapis. Dari bahan bakunya, kita membaca kisah tentang ekologi dan ketahanan pangan. Dari cara penyajiannya, kita membaca nilai-nilai sosial yang egaliter. Dari bahasanya, kita membaca karakter masyarakat yang terbuka dan jujur. Dengan demikian, mendoan adalah representasi utuh dari hubungan antara manusia, budaya, dan alam.
“Mendoan Sebagai Teks” adalah ajakan untuk membaca lebih dalam dari sekadar rasa. Ia mengajak kita melihat bahwa di balik gorengan sederhana itu tersimpan narasi besar tentang ekologi kedelai, ekonomi rakyat, dan identitas Ngapak. Mendoan adalah cermin Banyumas yang hidup tempat alam, bahasa, dan manusia berpadu dalam harmoni. Dengan menjadikannya bagian dari gerakan literasi lokal, kita bukan hanya menjaga resep turun-temurun, tetapi juga menulis ulang kebanggaan terhadap tanah kelahiran. Karena pada akhirnya, mendoan bukan hanya makanan, melainkan simbol pengetahuan yang digoreng bersama kenangan dan kearifan lokal Banyumas yang tak lekang oleh waktu.
Hanif Adrianto Suwito adalah mahasiswa Sastra Indonesia Unversitas Jenderal Soedirman.




