
Menulis GUIWU bagi saya bukan sekadar menyusun kisah misteri tentang rumah tua dan roh yang terperangkap di masa lalu. Ia adalah perjalanan panjang untuk memahami sisi gelap manusia, sekaligus sisi rapuh di dalam diri saya sendiri.
Semua berawal dari satu pertanyaan sederhana yang muncul di kepala suatu malam: “Bagaimana jika masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, dan justru menunggu untuk ditemukan?” Dari sana, perlahan kisah Rhea, gadis berusia 17 tahun yang pulang ke rumah leluhurnya di Banyumas, mulai terbentuk.
Menemukan Rhea
Saya tidak menciptakan Rhea dalam satu malam. Ia lahir dari potongan ingatan dan perasaan yang tak pernah benar-benar saya pahami, ketakutan masa kecil, keingintahuan yang berlebihan, dan rasa bersalah yang kadang muncul tanpa sebab.
Rhea bukan sosok sempurna. Ia keras kepala, sensitif, dan punya keberanian yang sering kali lebih besar dari logikanya. Tapi justru di situlah daya tariknya, ia manusiawi.
Bagi saya, Rhea adalah representasi dari rasa ingin tahu yang kadang membawa kita ke tempat-tempat yang seharusnya tak kita datangi, baik secara fisik maupun batin. Dan mungkin, itu juga bagian dari proses menjadi dewasa, belajar menerima bahwa kebenaran tidak selalu indah.
Banyumas dan Rumah Tua Itu
Latar Banyumas saya pilih bukan tanpa alasan. Saya selalu terpesona oleh suasana Jawa Tengah bagian barat yang tenang tapi menyimpan aura sejarah dan masa lalu yang kuat. Rumah tua di dalam GUIWU terinspirasi dari rumah kolonial milik peranakan China yang juga merupakan peninggalan era Belanda yang pernah saya kunjungi saat kecil.
Ada sesuatu yang menakutkan sekaligus menenangkan dari bangunan tua, seolah setiap dindingnya punya rahasia yang hanya mau dibisikkan di malam hari.
Di titik itulah saya mulai merasakan GUIWU bukan hanya kisah horor, melainkan kisah tentang ingatan: tentang apa yang disembunyikan keluarga, tentang kesunyian yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Riset dan Inspirasi Budaya
Saya banyak membaca kisah sejarah Tionghoa-Peranakan di Jawa, termasuk tentang Kelenteng, tradisi Chiam Si, dan mitos-mitos leluhur yang berkaitan dengan roh penjaga.
Saya ingin menghadirkan nuansa yang autentik tanpa kehilangan unsur emosionalnya. GUIWU bukan sekadar menampilkan hantu, tapi juga berbicara tentang hubungan antara manusia dan hal-hal yang tak terlihat, sesuatu yang diwariskan tanpa disadari dari generasi ke generasi.
Yang menarik bagi saya adalah bagaimana Rhea, sebagai generasi muda, mewarisi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika,semacam ikatan batin dengan masa lalu keluarganya. Ia tidak memahami sepenuhnya mengapa rumah tua itu terasa begitu dekat, seolah mengenalnya sejak lama, namun di situlah kekuatan cerita ini, misterinya tak hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam dirinya sendiri.
Menulis dengan Emosi
Saya menulis sebagian besar GUIWU di malam hari, kadang ditemani suara jangkrik, kadang hujan. Ada kalanya saya menulis sambil merinding, bukan karena takut pada apa yang saya tulis, tapi karena merasa “disapa” oleh cerita itu sendiri.
Beberapa bab membuat saya berhenti sejenak, sekadar menarik napas panjang atau menatap layar kosong. Di situlah saya sadar, GUIWU bukan cuma cerita, tapi ruang untuk berdamai dengan trauma dan kehilangan.
Tentang kata “GUIWU”
Banyak yang bertanya, mengapa judulnya GUIWU? Dalam bahasa Mandarin, “Gui” berarti roh atau hantu, dan “Wu” berarti rumah.
Jadi, GUIWU secara harfiah berarti “Rumah Hantu”, tapi bagi saya, ia lebih dari itu. Rumah dalam cerita ini bukan hanya tempat fisik, melainkan ruang batin tempat semua kenangan, dosa, dan penyesalan berdiam.
Kisah yang Masih Hidup
Meski novel ini telah rampung, saya merasa kisah GUIWU belum benar-benar selesai. Masih banyak rahasia di balik tembok rumah itu, masih banyak jiwa yang belum menemukan ketenangan.
Mungkin, Rhea juga belum benar-benar selesai dengan masa lalunya. Dan mungkin, di sanalah bab berikutnya akan dimulai.
Menulis GUIWU mengajarkan saya satu hal penting, bahwa setiap cerita punya jiwa, dan tugas penulis bukan menciptakan jiwa itu, melainkan mendengarkannya.
Saya menulis bukan karena ingin menakut-nakuti, tapi karena percaya bahwa dari ketakutan, kita justru belajar tentang cinta, kehilangan, dan keberanian. Dan mungkin, seperti Rhea, kita semua sedang berusaha menemukan jalan pulang ke “rumah” masing-masing.
Khansa Maria, lahir di Cilacap pada tahun 1988, adalah seorang content writer dan penulis novel GUIWU. Ia memiliki passion di dunia menulis, terutama dalam menyampaikan gagasan yang menginspirasi dan membuat orang lebih sadar akan diri mereka sendiri. Ia dapat ditemukan di Instagram melalui akun @khansamarian.




