
‘Byurr’. Warsa yang kerap disapa Si Keriting itu membuang bungkusan di sungai. Dengan air keringat yang bercucuran, dia dilema dalam pikiran.
“Keriting, sedang apa kamu?” tanya seorang pemuda.
Degup jantung berdetak berderu bak aliran sungai yang deras itu. Keringatnya kembali mengucur seperti pancuran. Tak lupa, bibir pucatnya menghiasi wajah kecokelatan itu.
“Itu, anu. Sedang buang sampah, Kang,” jawabnya gugup.
Warsa Si Keriting itu melihat jelas gurat wajah penasaran sang pemuda yang ada di depannya. Ia celingak-celinguk mencari celah sesuatu yang ganjil. Namun, Warsa kembali menjelaskan kalau dia hanya membuang sampah.
Walau si pemuda itu masih ragu akan jawaban Warsa karena tingkahnya saat sedang membuang sampah terlihat aneh, seperti menyembunyikan sesuatu pikirnya. Namun, ia tepis anggapan itu dan berakhir meninggalkan Warsa yang masih gugup. Hingga akhirnya Warsa memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan hidup seperti biasa.
Di antara sedap karena seruputan kopi dan kepulan nikotin serta ditemani radio butut, Warsa mulai menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya. Baru saja beberapa menit ia menelan makanan, terdengar warga yang beramai-ramai menuju ke kediamannya. Ia yang bingung akan hal itu hanya bertanya-tanya dalam hati.
Teriakan warga yang menyuruhnya keluar itu membuat langkah kakinya melangkah pada halaman rumah. Rasa penasaran itu berubah dengan rasa takut setengah mati. Bagaimana tidak? Bungkusan yang kemarin dia buang di sungai sudah ada di depan rumahnya. Belum sempat ia membela diri, tangan serta kakinya sudah diikat dengan tali. Ia digerek oleh warga menuju tanah yang cukup lapang.
“Lepaskan saya!” seru Warsa.
“Dasar pembunuh, manusia iblis!” sahut warga.
“Maksud kalian semua apa?”
Warga tak menghiraukan ucapan dari Warsa. Mereka tetap menyeretnya menuju tempat penghakiman. Keringatnya bercucuran dengan deras. Wajahnya dihiasi raut takut dan bibir pucat. Seutas tali melingkar pada leher kecokelatan miliknya.
“Katakan, apa yang kamu lakukan di sungai kemarin.”
“Saya hanya membuang sampah, Kang,” jawab Warsa.
“Saya menemukan bungkusan ini di sungai. Dan ternyata berisi mayat.”
“Saya kemarin melihatmu, Keriting. Kamu yang membuang bungkusan ini!”
“Saya hanya disuruh, saya hanya disuruh.”
“Agkh, diam,” tetua menampar kepalanya yang membuat berdenyut nyeri.
“Mengaku saja, kamu yang berbuat itu?” tanya Tetua.
“Iya saya mengaku, tetapi saya hanya disuruh manusia licik dan iblis!” balasnya sengit sembari memicingkan mata.
Tanpa menunggu lama, seketika tubuhnya menggantung. Jerit sesak yang tertahan terdengar di telinga warga. Lebih menyakitkannya lagi, saat nyawanya sedang dalam proses pencabutan itu, ia malahan dilempari batu. Ia melolong namun tak dihiraukan.
“Tolong lepaskan tali ini, saya akan memberi tahu kalian siapa dalangnya.”
Hingga sebelum matanya terpejam, Warsa melihat sekitar dan ia menandai satu orang. Tali itu memaksa Warsa untuk tidak menghirup oksigen lagi. Benar-benar menyakitkan. Lalu, hanya dengan gelap ia berteman di hari itu.
Berita kematian Warsa terdengar di segala penjuru dusun. Setiap hari, topik pembicaraan hanya tentang Si Keriting itu. Seperti malam ini di warung yang berisi sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip ria. Tetapi, mereka semuanya lari dan menjerit ketakutan saat seorang lelaki berambut keriting ikut duduk di samping mereka.
Obrolan orang di pos ronda dengan suara seruputan tiga gelas kopi dan kepulan asap nikotin juga turut merasakan keresahan. Mereka yang tadinya bercanda riang di pos sekarang lari kocar-kacir.
“Hahaha, seperti Warsa saja kamu.”
“Suara seruputan siapa itu? Keras sekali.”
Mereka baru menyadari bahwa lelaki berambut Keriting itu ikut duduk dengan minuman kopi di tangannya.
***
“Agkh, sial. Warsa sudah mati. Bagaimana jika dia memberitahu orang-orang saat bergentayangan?”
“Bodoh sekali dia. Mengapa bisa sampai ada orang yang melihat ia membuang mayat itu.”
“Jika saja dia berhati-hati, pasti rencanaku berhasil. Sia-sia saya membunuh orang.”
Ditemani seberkas cahaya lampu minyak, ia memikirkan banyak ide. Suasana tenang dengan bayangan dirinya yang juga diam. Sebentar, sedari tadi ia mondar-mandir tetapi bayangannya diam? Orang itu tercekat. Pasokan oksigen pada paru-parunya mendadak habis. Wajah kecokelatannya, rambut keritingnya, ia melihat dengan jelas.
‘Gubrak’
Suara pintu kamar ditendang memenuhi gendang telinga. Ia kembali tersadar. Oh, sial. Dia lupa menutup pintu rumah hingga seseorang mendengarkan semuanya. Orang yang mendengar itu mulai mengacak-acak isi kamarnya. Ia hanya ketakutan dan diseret.
“Saya kira kamu orang baik, dasar Tetua iblis!”
“Gara-gara ulahmu, Warsa menggentayangi orang satu dusun.”
“Tadinya kami ingin menanyakan solusi soal Warsa itu. Ternyata kamu yang membunuh orang itu. Sialan, Warsa hanya orang suruhan kamu ternyata.”
Tercekat. Ia tak bisa apa-apa. Selain ia tahu bahwa dirinya akan mati hari ini. Belum sempat ia membuka pita suara untuk mengeluarkan kata-kata penenang, tetapi tali sudah mengambil oksigen darinya. Nasibnya sama seperti Warsa, anak buahnya. Malam itu, ia melihat Warsa tersenyum ke arahnya.
Matinya Tetua tengik itu tak menyurutkan teror Warsa. Setiap malam di hari di mana ia tak bisa menghirup udara lagi, ia akan berkeliling. Sekadar menyapa dalam balutan dirinya yang acak-acakan.
“Nduk, belajar yang rajin.”
“Memangnya kalau ndak rajin kenapa, Bu?”
“Nanti jadi seperti Warsa.”
Dialog ibu dan anak itu membawa energi bagi Warsa. Ia datang dan menyapa. Turut meramaikan dialog ibu dan anak itu dengan ucapan, “saya hanya disuruh.” Mata putihnya dengan lidah yang menjulur keluar serta tak lupa rambut keriting yang seketika menjadi sekumpulan cacing. Hingga pagi harinya, keluarga itu memutuskan untuk keluar dari dusun.
Lama-kelamaan, Warsa yang asyiknya selalu menyapa warga itu membuat mereka semua resah. Satu persatu mereka keluar dari dusun, walau beberapa dari mereka ada yang mati. Bukan karena hidupnya yang berantakan membuat mereka mati, tetapi karena Warsa menyapa untuk menuntaskan dendamnya terhadap warga dan mereka terjatuh pada tempat yang salah.
***
“Kakek dapat cerita ini dari siapa?” tanya Krata.
“Terus bagaimana keadaan dusun itu sekarang?”
“Lah, berarti orang-orang yang pindah itu sekarang sudah pada tua dong?”
Mereka bergantian menyerang kakek dengan runtutan pertanyaan dari benak mereka. Di pos ronda yang biasanya digunakan untuk jaga malam, mereka bertiga—yang dari habis dari mushola—dengan khusyuknya mendengarkan cerita dari kakek.
“Dari kakek sendiri, karena kakek salah satu orang yang pindah dari dusun itu,”
Mereka hening sejenak. Memahami jawaban dari kakek yang berumur setengah abad lebih enam tahun. Mustahil. Jadi, sedari tadi mereka mendengarkan pengalaman kakek sendiri? Bukan karangan belaka atau cerita yang beredar dari perpindahan pita suara? Dan apakah kakek pernah bertemu dengannya? Sekali lagi, mereka kerepotan dengan pertanyaan yang muncul di benaknya sendiri.
“Jadi, kakek yang mengalami sendiri?”
Orang yang ditanya hanya menjawab dengan gerakan menaik-turunkan kepala.
“Tetapi untuk alasan kenapa Tetua itu melakukannya, tidak ada yang tahu. Karena dia sudah mati dihukum dulu sebelum dia menjelaskan.”
“Kenapa orang-orang langsung menghukum kejam seperti itu, Kek?”
“Orang di dusun itu memang perilakunya sangat memprihatinkan. Mereka akan langsung menghukum tanpa ada alasan apa pun. Kalau ada yang melapor, akan langsung ditindaklanjuti.”
“Kakek sebenarnya pernah bertemu dengan arwahnya, tap-.”
“Terus, kok kakek masih hidup?” Belum sempat untuk kakek menyelesaikan pembicaraan, Panji dengan sembrononya menyerukan pertanyaan tak penting itu.
“Agkh, sakit Krata!” Krata yang memang sudah muak dengan pertanyaan-pertanyaan Panji yang pastinya agak menyakitkan itu memukul lengan kanan Panji.
“Kamu bisa sedikit serius?” Joko menimpali pertanyaan Panji. Dengan tangan yang masih mengusap bagian yang habis dipukul, ia hanya melebarkan senyuman. Bapak-bapak yang juga sedari tadi mendengarkan hanya tertawa melihat Panji kesakitan.
Tiba-tiba kakek melayangkan tangannya ke dinding kayu pos itu. Hentakan tangan kakek yang menyambar dinding pos ronda itu mengagetkan orang-orang yang ada di sana. Dalam hati, Joko menyumpahi Panji.
“Baca ayat kursi!” Kakek menyuruh manusia itu untuk berdoa. Mereka yang keheranan dengan kakek hanya mengikuti ucapannya saja. Mereka berpikir, kakek akan marah dengan pertanyaan Panji. Hingga selesai berdoa, mereka masih diselimuti dengan sunyi. Bunyi daun bergesekan karena angin yang tidak sopannya menerobos kerumunan daun, suara kucing yang mengeong, kepulan asap nikotin dari bapak-bapak, serta degap jantung Panji yang masih takut kalau kakek akan marah. Hanya itu yang mengisi kekosongan suara. Sampai salah satu pita suara terbuka dan mengeluarkan pertanyaan, “kenapa?”
Lempar tangkap tanya jawab yang berujung asyik itu menyebabkan mereka lupa akan hal sekitar. Obrolan panjang itu menyebabkan mereka tak sadar akan kedatangannya.
Kakek menjawab, “arwah pria itu ada di dekat kita.”
Dodi Wardani, yang akrab disapa Dodi atau Ardani, adalah lulusan sekolah kuliner yang memiliki ketertarikan kuat dalam dunia menulis. Ia dikenal sebagai sosok kreatif yang gemar menuangkan isi pikirannya yang liar dan imajinatif ke dalam karya tulis. Berdomisili di Cipete, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Dodi terus mengembangkan dirinya di bidang kuliner sekaligus literasi. Jika ingin menyapanya bisa melalui akun Instagram @dodiiiiar.




