
Mendung, langit sedang tak bersahabat. Awan bertumpuk berwarna hitam dan berkas cahaya saling menyambar sembari suara gemuruh di langit, tanda bahwa hujan akan turun. Sementara perjalananku masih jauh dengan berharap langit bisa berkompromi.
Jarak antara aku dengan langit mendung itu semakin dekat. Khawatir tidak butuh waktu lama air akan turun. Benar saja, berselang kemudian dari kejauhan tampak bercak basah di aspal hingga berubah warna dan air yang menetes seperti berlomba untuk membasahi. Tak pikir panjang, saya memilih meminggirkan kendaraan untuk berteduh di warung kecil milik warga.
Saat di warung, di situ sudah ada beberapa anak usia SD (Sekolah Dasar) jumlahnya kurang lebih 8 orang anak terdiri dari anak perempuan dan laki-laki. Mereka sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri, mengobrol banyak hal. Sepintas ku dengar tentang barang-barang bekas yang mereka kemas dan akan dijual. Sambil berlalu kulihat langit sejenak ternyata awan hitam pekatnya masih betah di atas kepala kami. Bergumam dalam hati “sepertinya hujannya akan lama dan dingin seperti ini enak kalau makan mie kuah”.
Benar saja, sekitar 20 menit duduk berteduh air masih berlomba menetes. Air yang jatuh dari awan itu membuat atap seng bergemuruh keras. Sesaat kemudian, nampak dari kejauhan ku perhatikan di balik tetes air ada sebuah mobil pickup. Berisikan barang-barang bekas (besi, plastik dan lain-lain) beserta timbangannya dan beberapa anak usia SD yang duduk di bak mobil.
Tiba-tiba terdengar suara anak perempuan lantang menerabas deras air hujan “Arjun-arjun”. Pikirku, pasti yang ia panggil adalah salah satu anak di mobil itu. Mobil berhenti dan sopir membuka pintu sambil menenteng timbangan. Salah satu anak melompat dari bak mobil dan berlari ke arah kami menembus hujan. Menjawab panggilan tadi,“iya kenapa?”. Anak perempuan tadi menjawab “Ambilkan karung yang dekat tower (penampungan air)” anak lain menyahut “punyaku juga yang warnanya pink, Arjun”. Balas Arjun “okee”.
Arjun berlari menuju tower air mengambil karung itu, dengan antusias arjun segera membawa ke mobil untuk menimbang. Berselang kemudian, meski terengah-engah Arjun berlari kembali ke arah kami sambil membawa beberapa lembar uang hasil pembelian barang bekas milik temannya yang ia sembunyikan di balik baju basahnya. Sontak salah satu anak berkata “Jadi berapa kilo Arjun?” jawab Arjun “dapat Rp 50.000, -”. Senyum anak itu boleh saja sederhana, tapi ada sorot mata yang bercerita lebih banyak, tentang bahagia yang tumbuh dari hal-hal kecil. Ada cahaya yang tak bisa disembunyikan yang menyeruak keluar dari mata anak-anak itu.
Bising atap kios tertutupi suara dari anak-anak di samping saya. Membicarakan hasil dari menjual barang-barang rongsokan. Arjun segera berlari menerjang hujan dan kembali ke mobil. Tak lama kemudian yang tersisa hanya bising atap seng, suara anak-anak itu tak terdengar lagi, mereka berlomba untuk pulang.
Arjun hanya anak SD pada umumnya, di kepalanya telah tersusun rencana bermain, apa lagi hari ini dan hari esok dan seterusnya. Namun, Arjun tetap menyisipkan satu list penting yaitu menemami bapak mengambil barang rongsokan. Arjun memang tak punya hitung-hitungan matematis berapa banyak kapital yang akan ia dan bapaknya peroleh. Arjun juga tahu kehadirannya tidak memberikan dampak besar pada pekerjaan bapaknya, namun tampak jelas di binar matanya memancar bara semangat tak padam meski di tengah guyuran hujan.
Melihat Arjun, ada ingatan yang bangkit dari kepala. Ketika Kabul (dalam novel “Orang-orang Proyek”) berbicara pada dirinya sendiri “Lalu, apakah kejujuran yang sering diminta dibuktikan dengan kesahajaan sama dengan mempertahankan kemelaratan? Ah, tidak. Pasti tidak. Banyak orang memilih cara hidup bersahaja dan mereka sangat kaya akan rasa kaya. Dan kau, Dalkijo, yang begitu membenci kemiskinan dengan cara hidup jor-joran, tak peduli membenci kemiskinan dengan cara hidup jor-joran, tak peduli dari mana ongkosnya, apakah kau punya rasa kaya? Jangan-jangan kau membenci kemiskinan, sementara hati dan jiwamu memang benar-benar melarat.”
Terkadang hati yang lapang sangat mudah ditemui pada senyum yang menembus dari tubuh kecil. Ada kelapangan dan kebanggan di dada anak-anak penjual barang rongsokan itu. Ruang yang cukup luas di hati mereka untuk menjalani setiap jengkal dan tahap kehidupan mereka. Senyum mereka jujur, setiap rasa yang mencuat saat itu murni dari hati dan itu cara mereka menerima dan mensyukuri hidup. Rp 50.000, tidak hanya perkara besar atau kecil nilainya, ada kebahagiaan yang tak bisa dihitung dengan uang.
Sepertinya hujan akan berhenti, tampak awan hitam mulai terurai, biru langit terlihat dari sela-selanya, sinar matahari menyorot ke arah tanah basah. Pertanda langit sudah mempersilahkanku untuk melanjutkan perjalanan. Ada tawa, senyum dan binar mata mereka membekas di kepalaku. Seketika itu juga, salah satu novel Ahmad Tohari muncul di lembar ingatanku. Senyum Karyamin judulnya.
Ada kemiripan yang menghubungkan anak-anak penjual barang rongsokan dan Karyamin. Saat Pak Pamong menagih setoran, kira-kira begini kutipannya; “Ya, kamu memang mbeling. Min, di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kau persulit.” Saat itu, Karyamin mendengar napas sendiri. Samar-samar, Karyamin juga mendengar detak jantung sendiri. Meski ia tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam akan diri serta situasi yang harus dihadapi.
Tak sadar saya telah sampai di tujuan perjalanan. Motor kuparkir pada tempatnya lalu mengibaskan jaket yang sedikit basah. Saat melangkah pergi, mataku menangkap sesuatu di seberang jalan. Sebuah rice cooker tua tergeletak di antara kantong plastik yang sobek-sobek. Aku terpaku sesaat. Tak ada bak sampah di sana, hanya sisa kehidupan yang dibiarkan berserak, menunggu dilupakan.
Firnasrudin Rahim adalah penulis yang berasal dari Desa Wapaejaya Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Selain membaca buku ia gemar berburu buku promo di toko buku kesayangan, Dielaktika Bookshop. Silakan disapa melalui Instagram @firnas_id.




