
Gelar Teragung
Afsun sang wanita anindya, anggun dengan tahta cinta
Gemulai membelai kasih, membisu menahan letih
Netra hitam dengan sorot yang teduh
Menyembunyikan segala hal yang perlahan runtuh
Ia bukanlah tokoh dalam pertunjukan sandiwara
Yang harus berura-pura pada tiap lakonnya
Ia, sosok manusia biasa yang berlakon dalam dunia nyata
Yang pandai menangkup lara pada banyaknya luka
Ia menjelma sebagai wanita yang kuat
Rela berkorban tanpa syarat
Layaknya seorang insan dengan predikat malaikat
Meski tanpa sayap yang melekat
Derai hujan sederas rapal doanya
Kasihnya, setulus atmosfer pelindung cakrawala
Gelar “Ibu” disandang begitu agung
Derajatnya begitu dijunjung
Pada gersangnya hamparan Gurun Sahara
Dialah air yang menyejukkan dalam dahaga
Lewat hangat erat dekapnya mampu menjadi penyembuh segala lara
Dan pada tiap ridhonya adalah surga
Ajibarang, Juli 2022
***
Hidup Ialah Perihal Berjuang
Kata siapa saya sanggup bertahan sendirian? Kata siapa?
Siapa yang bilang saya kuat dengan segalanya
Sementara tubuh ini hanya satu, namun dipaksa menumpu ribuan beban
Jiwa ini dipaksa menjadi harapan pertama, sedangkan entah siapa figur yang bisa saya tiru
Lantas
Raga tegap yang perlahan roboh ini harus saya sandarkan pada siapa?
Teriakkan tolong ini harus saya serukan pada siapa?
Atap yang kadung runtuh harus saya perbaiki dengan apa?
Sementara rumah itu telah hancur tanpa sisa
Sekejam inikah menjadi dewasa?
Haruskah saya mengembara tanpa arah?
Hanya menggenggam kompas yang kehilangan mata anginnya
Semenakutkan inikah menjadi dewasa?
Se-sesak inikah bernapas tanpa rasa bebas?
Lantas saya harus apa?
Cilongok, Maret 2022
***
Bait Perindu
Pada riuhnya angin, kubisikkan;
Kini aku telah menjadi pecandu rindu
Pada bait-bait sapa yang tak lagi kuteriakkan saban hari
Pada sebungkus nasi rames yang nikmatnya sampai ke hati
Dan pada kalimat-kalimat canda; yang tak lagi temui tawa pada orang yang sama
Pada alunan denting piano, aku mengadu
Kini aku menjadi bait bisu pada sebuah syair lagu usang
Nada-nada mayor itu kini telah hilang
Terganti oleh melodi sendu yang kian sumbang
Dan pada cakrawala, kuteriakkan sekali lagi
Kini aku telah menjadi seorang pecandu rindu
Pada cerah birumu yang kian berubah kelabu
Aku rindu;
pada aroma petrichor bersama kenangan hujan deras yang jatuh waktu itu
Purwokerto, Agustus 2022
***
Perkara Hati
Malam ini rembulan menampakkan sinarnya yang menawan
Memantik jerat tarik pada saban netra yang melirik
Menambah romansa khas malam minggu ala anak muda
Berbagi cerita pada sepiring kerak telor yang disantap berdua
Tapi bagi sebagian insan yang memilih jalan sendirian
Langit malam di alun-alun kota akan terasa sama seperti biasanya
Pesona mantra sang purnama tak sedikitpun mencuri atensi
Sebab kesendirian sudah menjadi esensi dalam kekosongan hati
Bukan kerak telor ataupun sepucuk gulali
Nasib memaksa untuk sekadar gigit jari
Tapi banyak pula yang pikir keri
Toh perkara hati, katanya bisa nanti-nanti
Purwokerto, September 2022
***
Lulu Afita Adiniah, lahir di Banyumas akhir tahun 2005. Lulu merupakan mahasiswi Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto. Berdomisili Purwokerto Timur, Banyumas, Jawa Tengah. Selain aktif menempuh pendidikan, ia juga mengikuti Pelatihan Akademik Bidang Puisi yang diselenggarakan oleh ADIKSI UIN Saizu. Karya tulisnya yang berjudul “Belajar Daring dan Pribadi yang Terlalu Santai” pernah dimuat di laman LP Ma’arif NU Jateng pada tahun 2022. Ia dapat dihubungi melalui Instagram @luluafita12_.




