
Supaya lebih tandas membacanya, bacalah terlebih dulu Rintik Hujan dI atas Buku Harian (Bagian 1)
Langkah-langkah Menuju Rumahmu
Langkahku bukan derap kaki,
melainkan gema adzan yang tersembunyi
di lekuk terdalam dada.
Aku berjalan dalam diam,
bukan mencari rumah,
melainkan merindu Sang Pemiliknya.
Setiap jejak yang kutinggalkan
adalah bisik doa yang nyaris terlupa,
mengarah ke ruang tak bernama,
ke dalam kesunyian yang penuh cinta.
Dalam sabar, aku menemukanmu
sebagai bayang yang menyatu cahaya.
Aku bukan pengembara,
melainkan pencari yang rindu pulang,
menyusuri jalanan yang tak pernah selesai.
Kau adalah rumah yang tak terucapkan,
pintu yang senantiasa terbuka
meski belum pernah kumasuki.
Sekian lama aku mencari di luar,
baru kini kupahami:
rumah sejati adalah yang tak pernah jauh,
tak terukur oleh jarak,
mengalir dalam darahku sendiri,
abadi dalam diam yang bening.
Aku datang,
namun setiap langkah adalah kembali,
dan setiap pulang adalah permulaan baru.
Bukan aku semata yang berjalan,
melainkan cintamu
yang menghidupkan langkah-langkahku.
Di tiap jejak yang kutapaki,
kau hadir
terpancar dalam detak jantung
yang tersembunyi.
2022, 2025
***
Bayangan di Jendela yang Tertutup
Di balik jendela yang tertutup rapat,
aku menatap bayangan yang perlahan mengabur.
Ia datang, namun tak pernah benar-benar hadir,
seperti doa yang tersisa di udara yang dingin.
Kau adalah bayang
yang tak pernah benar-benar ada,
seperti angin yang menyentuh
tanpa meninggalkan jejak.
Setiap kali aku menunggu,
waktu melarikan diri tanpa kata,
seperti malam yang pergi
tanpa ada yang memanggilnya.
Dalam kesunyian, aku merindu,
namun tak pernah bisa mencapaimu.
Kau adalah bayang yang terlempar
di balik jendela yang tak pernah terbuka.
Aku adalah pencari
yang hanya menemukan sepi,
mengukir jejak-jejak
tak terlihat di ruang kosong,
menggenggam waktu yang tak lagi berjalan.
Bayanganmu semakin memudar,
tetapi tetap terpantul jelas
dalam setiap denyut hatiku.
Adakah aku yang terlambat untuk menyapa
atau jendela itu yang telah menutup diri?
Di setiap sudut sunyi, kau tetap hadir,
seperti sebuah lukisan yang tak pernah selesai.
Aku menunggu,
tetapi jendela itu hanya memantulkan
bayangan yang semakin pudar,
sementara langkahku semakin jauh
dari ruang yang tak akan pernah kutemukan.
2022, 2025
***
Doa yang Tak Jadi Kukirimkan
Di balik langit yang tak tampak,
ada doa yang tak pernah sampai.
Ia mengembara, menembus batas-batas ruang,
terlalu suci untuk diterima oleh kata-kata.
Aku menulisnya di dalam hati,
tetapi tak ada yang dapat membacanya,
selain cahaya yang datang
dalam kesunyian malam.
Aku tidak ingin mengirimkan doa itu,
karena itu adalah rahasia yang terlalu indah
untuk disampaikan dengan suara.
Biarlah ia mengalir
dalam setiap hembusan angin,
mencari jalannya di antara bintang-bintang,
hingga ia bertemu dengan bayangan-Mu,
yang tak pernah teraba oleh jiwa yang kering.
Doa itu bukanlah permohonan,
bukan pula keluhan yang terucap,
tapi sebuah pengembaraan batin yang terputus,
sebuah rindu yang tak terungkapkan.
Ia terpendam dalam diamku,
menunggu waktu yang tepat untuk pecah
seperti bunga yang tak kunjung mekar
di musim yang salah.
Aku tidak ingin mengirimkannya,
karena di dalamnya hanya ada satu nama,
nama yang meluruhkan
segala angan dan harapan
nama yang tak perlu disebutkan,
karena sudah ada di dalam setiap nafasku.
Jika doa itu sampai,
maka aku akan menemukan diri-Mu
dalam setiap inci ruang yang sepi.
2022, 2025
***
Balada Perempuan di Balik Tirai
Ia tak pernah keluar dari kamarnya
sejak suaminya gugur dalam takbir subuh.
Langit membungkus matanya dengan kabut,
dan tirai jendelanya menjelma mihrab sunyi.
Setiap pagi ia menyulam sepi
dengan benang tasbih dan air mata.
Langkah-langkah dunia lewat di luar,
tapi hatinya hanya menapak
di jalan menuju Kekasih Abadi.
“Ya Rahman,” bisiknya di antara helai rambut
yang perlahan memutih oleh waktu.
Ia menunggu bukan yang pernah pulang,
tapi yang tak pernah pergi dari dadanya.
Tirai itu bukan tirai,
melainkan hijab antara fana dan baka.
Ia tak bicara pada siapa pun,
kecuali pada cinta yang tak bisa dikurung
oleh usia atau luka.
Orang-orang menyangka ia lupa dunia,
padahal dunia-lah yang tak mengerti
caranya mencintai.
Di balik tirai itu,
ia menulis puisi-puisi
dengan tinta air wudhu dan desir nafas.
Suatu malam, ia tak lagi terdengar
tirainya mengepak seperti sayap,
dan ketika fajar membuka jendela,
tak ada siapa-siapa.
Hanya bau bunga
dan sehelai sajadah
masih hangat di tempatnya.
2022, 2025
***
Rahasia yang Terselip di Ujung Sujud
Kekasih,
aku mencari-Mu bukan karena tahu arah,
melainkan karena hatiku haus
oleh cahaya yang tak bisa dijelaskan.
Setiap sujudku
adalah langkah pulang
ke tempat yang tak pernah kutinggalkan.
Kekasih,
aku tak tahu siapa yang lebih dahulu rindu:
aku yang mengetuk langit dengan sujud,
atau Engkau yang menanam rinduku
di sela-sela doa yang tak pernah selesai.
Aku hanya berjalan
di antara tanya yang lirih
dan harap yang tak henti.
Ada rahasia yang hanya kutemui
saat dahiku menyentuh bumi
di sana, waktu meleleh dalam cinta,
dan segalanya menjadi satu:
yang mencinta, yang dicinta,
dan cinta itu sendiri.
Kekasih,
bila kuangkat wajahku dari sajadah,
aku seperti kehilangan langit,
namun kuyakini,
Engkau menetap dalam nafasku
yang terus memanggil-Mu diam-diam.
2022, 2025
***
Rindu yang Tumbuh di Tengah Lautan Pasir
Rindu ini bukan api yang membakar,
melainkan angin lembut yang menyusup
ke setiap butir pasir di gumuk pantai selatan.
Ia tak menggelegak dalam dada,
melainkan mengalir sunyi
seperti doa yang ditanam
di tengah ladang ilalang.
Aku mencari jejakmu
dalam bayang sendang
yang tak kunjung jernih,
langkah demi langkah
kutinggalkan namaku sendiri
agar tak terjerat kembali
pada dunia yang fana.
Tiada yang kupinta selain satu isyarat
seberkas cahya
yang menyusup dari balik rerimbun
ke dalam tempurung hatiku.
Di sana, aku meneguk
kerinduan yang kau simpan
sejak sabda pertama angin dilahirkan.
Aku bukan pengelana yang sesat,
melainkan jiwa yang diasingkan
untuk mengenal jalan pulang.
Dan lautan pasir ini,
meski sunyi dan tak berbatas,
adalah padepokan bagi rindu
yang ingin mengenal makna perjumpaan.
2022, 2025
***
Sepucuk Surat yang Tak Pernah Terjawab
Di atas meja kayu yang mulai lusuh
tergeletak selembar kertas bertekstur halus,
tulisan tanganku mengalir pelan
bukan karena angin kemarau,
melainkan bayangmu
yang menetap dalam lipatan hari-hari diam.
Surat ini tak pernah kukirimkan.
Alamatmu mengabur
seperti kabut di atas pematang,
atau desir angin di sela-sela rumpun bambu
yang menggugurkan namamu
pada halaman rumah
yang telah kehilangan pagar.
Aku menulis dengan tinta akar rempah,
menjaganya tetap hangat
seperti seduhan jahe
di malam panjang yang dingin,
sambil mengenang matamu
dan cara kau menjauh
seolah dunia hanyalah serambi
menuju kekosongan
yang menanti penuh makna.
Kalau surat ini sampai,
anggaplah itu karena langit desa
bersedia menjadi jembatan
antara rindu dan restu
yang dulu tercecer
di antara daun jati
yang luruh sebelum waktunya.
Namun jika tak pernah sampai,
biarlah huruf-huruf ini
mengalir sebagai kali kecil di dadamu,
dan kau menyebut namaku diam-diam
di sela tembang malam
yang tak sempat kaunyanyikan
hingga bait paling rahasia.
2022, 2025
***
Balada Lelaki yang Menyulam Malam
Lelaki itu berdiri di depan api yang membara,
seperti jejak-jejak leluhur
yang terbingkai dalam asap,
merajut malam dengan tangan yang kotor tanah.
Ada angin yang berbisik di ujung beringin tua,
menggulung daun-daun kering,
seperti rahasia yang terpendam dalam sumur.
Di balik matanya, terpantul dunia yang rapuh,
mengalirkan darah yang pernah tumbuh di sawah,
membawa serpihan-serpihan doa yang hilang.
Malam merayap dengan diam,
seperti bayangan leluhur yang tak terjangkau,
di mana setiap jejak adalah
warisan dari tanah yang lupa.
Langit mendung, bintang hanya bayang-bayang,
dan suara yang ada hanyalah alunan gamelan,
terdengar samar dari kejauhan.
Lelaki itu berjalan menyusuri jalan yang berbatu,
di mana api unggun hanya memberi bayang,
dan di dalam hatinya, ada suara
yang menuntut pulang.
Tangannya menggenggam angin malam,
seperti petani yang menunggu hujan pertama.
Namun, malam ini, langit tak menangis.
Bukan karena ia tidak mau,
tapi karena lelaki itu telah memanggilnya,
dengan mantra yang diselimuti malam.
Pada setiap jejak yang ditinggalkan,
ada bisikan yang menyelam ke dalam sumur
di ujung kampung yang sunyi.
Lelaki itu berjalan lebih jauh,
tak peduli pada malam yang semakin gelap,
karena ia tahu, suatu hari nanti,
jejak-jejak ini akan mengingatkan dunia
tentang warisan yang tak akan pernah pudar.
2022, 2025
***
Gema Namamu di Langit Subuh
Di subuh yang sunyi,
suara gemericik air hujan
mengalun di atas genting,
seperti lagu lama
yang tak lekang waktu.
Ayam jantan berkokok,
menandakan pagi datang
dengan senyumnya yang sederhana,
namun ada sesuatu yang tak tampak,
terdengar dalam gemerisik
daun yang baru jatuh.
Gema namamu terdengar dari jauh,
di balik gunung yang belum tersentuh cahaya,
di antara pepohonan yang diam menanti,
di dalam getaran tanah
yang menunggu hujan.
Namamu adalah doa
yang bergema dalam kesunyian,
seperti tembang
pada pagi yang penuh harapan.
Aku berdiri,
menatap langit yang temaram;
setiap bintang seakan menggenggam rahasia,
dan aku mendengar namamu
dalam setiap hembusan angin,
dalam setiap detak jantung
yang tak bisa kubendung.
Aku mengingatmu,
seperti petani menunggu musim tanam,
menghitung waktu dengan sabar,
meski waktu
tak pernah memberi kepastian.
Langit subuh menatapku dengan kedamaian,
seperti wajah ibu
yang menenangkan anaknya;
namun ada ruang di antara kita,
ruang yang tak terjembatani
oleh jarak atau waktu.
Dan dalam ruang itu,
namamu bergema
dengan penuh harapan,
menjadi bagian dari angin
yang menyapu bumi.
Aku merasakanmu
di dalam detak yang tak terlihat,
di dalam tanah
yang mendukung setiap langkah,
seperti gema
yang tak pernah benar-benar hilang,
terus bergema
meski tak terdengar oleh telinga.
Di subuh yang hening,
hanya namamu
yang mengisi kekosongan ini,
dan aku menyebutnya
dalam doa
yang penuh kerinduan.
2022, 2025
***
Dari Balik Jendela Kereta
(Logawa dari Lempuyangan ke Purwokerto)
Di balik jendela kereta Logawa,
kupandangi bayang-bayang kota
melewati Stasiun Tugu,
terlintas Alun-alun Utara,
tempat kita pernah menuliskan doa.
Masjid Gedhe berdiri dalam diam,
menyimpan gema takbir pertama kita;
lalu jalanan mengabur perlahan
seiring derak roda dan waktu
yang tak bisa ditahan.
Rinduku terpantul pada kaca,
bagai wajahmu yang sebentar kutinggalkan;
kupeluk sunyi yang berjejal
di antara penumpang dan perpisahan.
Langit pagi seperti peringatan,
tentang yang ingin kembali,
sementara stasiun demi stasiun
mencatat jarak yang makin sunyi.
Aku tak tahu, adakah tatapan ini
kau rasakan dalam dada yang diam?
Atau hanya aku yang menyimpan
segala ingatan dalam gerbong kelam?
Purwokerto menunggu dalam pelan,
seperti engkau menunggu kehadiran
dari hati yang tak mau
mengucap “selamat tinggal”.
2022, 2025
***
Balada Perempuan Penjaga Kenangan
Perempuan itu tinggal di rumah tua
yang jendelanya menghadap matahari terbenam;
ia menanak sunyi
di dapur yang tak lagi mengepul,
di mana api hanya berbisik dalam angan.
Setiap pagi,
ia menyapu halaman
seperti menyisir jejak-jejak
yang pernah pulang,
tapi hilang,
seolah ditelan tanah.
Tertinggal hanya bayangan,
seperti akar pohon
yang mencengkeram bumi
tanpa suara.
Di rak kayu berdebu,
terbaring surat-surat
yang tak terbaca;
kertasnya menguning,
tapi tinta di sana
masih mengandung rindu
seperti embun
yang tak pernah jatuh,
menguap
di antara sunyi
dan waktu yang terhenti.
Ia tak pernah benar-benar sendiri
setiap benda di rumah itu
menyebut satu nama
yang hanya bisa dipanggil dalam diam,
dalam kelam
yang mencabik rindu
hingga melarut
dalam deru angin malam.
Langit menggantung di matanya,
seperti lampu gantung
yang tak pernah menyala,
tapi tetap menyimpan cahaya
seperti bulan
yang terperangkap dalam kabut,
menggantung rendah,
mengalirkan dingin.
Dan malam
adalah waktu paling sunyi
seperti tubuh yang terbuang,
di mana ia bersujud lama
untuk cinta yang tak kembali,
namun tetap menghantui,
berkeliaran di dinding-dinding rumah tua ini
yang retak oleh waktu.
2022, 2025
***
Sujud Sunyi di Sudut Stasiun
Di sudut mushola stasiun yang sempit,
seorang lelaki bersarung lusuh
membentang sajadah di atas ubin dingin
yang menyimpan jejak kaki dari kota-
kota yang jauh.
Kereta berlalu seperti waktu
yang tak bisa ditahan atau dicegah,
namun ia tetap bersujud,
mencari Tuhan di antara deru besi
dan pengumuman yang tak menyebut namanya.
Tak ada adzan,
hanya dentang besi dan bayang pintu
yang tertutup,
tapi ia tak goyah
seperti karang yang berdzikir
di antara pasang dan surut.
Bayang tubuhnya memantul di kaca jendela
seperti bekas-bekas luka
yang telah diampuni waktu;
dan air matanya jatuh perlahan
menjadi wudhu yang menyucikan batin.
Ia tidak sedang menunggu kereta,
tak hendak pergi ke mana pun
hanya menepi sejenak
di persinggahan
yang menampung rindu para musafir
yang lupa arah pulang.
Di sini ia teguhkan sujudnya,
bukan karena sunyi,
tetapi, di antara suara paling riuh
ia telah menemukan diam
yang menyebut nama-Nya.
2022, 2025
***
Langit yang Tertatih di Dada
Langit yang tertatih di dada
tak lagi biru,
bercak awan hitam
mengendap seperti dendam
yang tak selesai dipintakan maaf.
Angin membawa bau rumput
yang patah sebelum tua,
dan di antara desirnya,
ada doa yang tak kunjung sampai
pada pintu langit paling sunyi.
Burung-burung pun enggan pulang,
entah karena cuaca,
entah karena sarangnya
telah berubah menjadi ladang luka
yang lama tak disirami sabar.
Seorang lelaki
duduk di tepi surau yang retak catnya,
menggumam kalimat tasbih
tanpa suara,
seperti menganyam sabar dari sisa-sisa nafas.
Ia tak memanggil siapa pun,
tak menyalahkan hujan atau batu,
hanya menatap cakrawala
seakan membaca firman
yang tercecer di langit senja.
Dan di dada yang sesak itu,
ia biarkan langit tertatih perlahan
mencari tempat paling lapang
untuk menurunkan cahaya
tanpa harus menunggu reda.
2022, 2025
***
Balada Sepasang Mata yang Menyimpan Hujan
Ia menatap jendela
seolah dari sana
masa lalu bisa kembali,
dengan aroma tanah basah
dan suara sepatu yang pernah singgah.
Di kedua matanya
awan menggantung terlalu lama,
bukan karena tak bisa menangis,
melainkan sebab terlalu banyak
yang ingin ia kuburkan
dalam diam.
Hujan tak turun dari langit,
tapi dari dalam dirinya sendiri
dari kenangan yang membatu,
dari doa-doa yang tak jadi dipanjatkan
karena takut tak dikabulkan.
Ia tersenyum kecil
pada bayangan di kaca,
seperti menyapa seseorang
yang dulu berjanji
dan lupa jalan pulang.
Langit tak lagi mampu membedakan
antara gerimis dan airmata:
semuanya hanyut menuju
halaman yang dulu ramai,
kini tinggal ilalang dan bisu
di depan rumah tua yang tak bertuan.
Sepasang mata itu,
menyimpan hujan
lebih lama dari musimnya,
sebab ia tahu:
cinta sejati tidak selalu datang
dengan pelangi sesudahnya.
2022, 2025
***
Kidung yang Lahir dari Luka
Di langit batin yang mengelupas,
kutemukan gema luka paling sunyi
bukan jerit, bukan air mata,
melainkan suara lirih
yang menyebut nama-Nya dalam jeda.
Luka itu bukan robek,
melainkan pintu kecil
yang terbuka diam-diam
saat dunia menutup jendela
dan malam menenggelamkan cahaya.
Dari celahnya mengalir kidung
pelan seperti wudhu di tangan renta
bergetar di tiap nadinya,
tasbih yang tak diajarkan mimbar,
melainkan oleh nestapa
yang berselimut sabar dan ridha.
Aku tak hendak menyembuhkannya.
Di sanalah kurasa hangat
yang tak dipeluk siapa pun,
teduh yang tak dibawa langit biru,
dan cinta
yang hanya lahir dari perih
yang bersujud.
Biarlah ia tetap berdarah,
jika dari darah itu tumbuh bunga doa.
Biarlah ia tetap nganga,
jika dari nganga itu tumbuh jalan pulang
yang hanya dilalui
oleh mereka
yang mencintai dengan luka
yang telah menjadi rahmat.
2022, 2025
***
Abdul Wachid B.S. penyair yang lahir 7 Oktober 1966 di Lamongan Jawa Timur. Ia mendapatkan penghargaan tertinggi Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 7 Oktober 2021 untuk buku esainya, Sastra Pencerahan (Penerbit Basabasi, 2020). Selain sastrawan, ia menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.




