Pangkas Rambut Cak Jon

Namanya Junaedi, kami memanggilnya Cak Jon. Ia tidak mau dipanggil Jun atau Junaedi. “Jon saja, lebih gagah!”, katanya suatu kali. Sosoknya ramping, agak tinggi dengan potongan rambut klimis belah tengah. Cak Jon biasa memakai kaos polos ataupun kemeja kotak-kotak yang dimasukkan celana. Tidak lupa aroma wangi parfum yang dibeli di kampung Arab selalu melekat. Penampilannya lumayan necis dibandingkan pria usia 40 tahunan lain di desaku. Tentu semua itu beralasan. Cak Jon ingin memberikan kesan flamboyan pada semua pelanggan setianya. Sebagai seorang tukang pangkas rambut, hal itu dinilai penting.

Ya, Cak Jon memiliki usaha tempat pangkas rambut di desa tempatku tinggal. Sebuah ruangan berukuran sekitar 2×3 meter yang disewa bersebelahan dengan Masjid desa. Pojok ruangan selalu penuh tumpukan rambut bekas cukur. Ada meja dengan set peralatan pangkas rambut. Lengkap dengan alat cukur elektrik, sisir, pisau cukur, hingga gunting sasak. Dulunya tempat itu adalah kamar kost, sebelum akhirnya disulap menjadi tempat pangkas rambut. Cak Jon baru membukanya sekitar empat bulan. Walaupun tidak sebersih salon-salon terkenal dan barbershop mahal, peminatnya sangat banyak. Hampir dari semua kalangan. Mulai anak-anak muda hingga bapak-bapak. Dari mulai cukur rapi hingga mullet. Semuanya bisa ia lakukan.

Cak Jon juga tidak mematok harga tinggi. Cukup sepuluh ribu saja untuk dewasa dan delapan ribu rupiah untuk anak-anak. Warga desa menyukai Cak Jon, memang potongannya tidak bisa dibilang sangat baik. Hanya saja cara Cak Jon memperlakukan pelanggan sungguh istimewa. Ia pandai bercerita, apapun topik yang dihembuskan oleh pelanggan pasti ia sambut. Masalah-masalah sepele hingga masalah rumah tangga terungkap dengan renyah dan ringan. Terkadang Cak Jon juga suka memberikan saran yang terbukti benar, seakan tahu isi kepala para pelanggan tersebut. Cak Jon handal mengambil hati, seperti saat aku datang hari ini. Ia langsung tersenyum sambil berkata, “Kayak biasa?” sambil mempersilahkan aku masuk.

“Antre berapa Cak?” tanyaku sambil duduk di kursi antrean.

“Cuma dua kok, tunggu ya.” Jawab Cak Jon sembari kembali mengurusi pelanggan di depannya.

Seorang bapak-bapak dengan muka cemberut.

“Gundul aja Cak, mumet ndasku!” Bapak itu mengelus-elus kepalanya. Cak Jon bertanya apakah ia yakin yang dijawab dengan anggukan malas. Sambil mulai menyisir, Cak Jon memilah rambut sehelai demi sehelai. Banyak sekali ubannya. Cak Jon menyentuh kepala bapak itu. Memejamkan mata sejenak, lalu kemudian tersenyum dan mulai mencukur secara perlahan.

Sambil mencukur, Cak Jon memainkan keahliannya. Ia bertanya basa-basi pada si pelanggan. Entah bagaimana, obrolan berlanjut terus. Bapak itu rupanya adalah seorang caleg gagal. Ia mengaku kehabisan uang demi kampanye kemarin. Uang kampanye yang tidak sedikit itu tak mampu mendulang suara. Jangankan lolos, pemilihnya malah jeblok dan kini ia terlilit hutang. Padahal menurutnya selama ini sudah berjuang untuk rakyat kecil. Caleg gagal itu sekarang kebingungan melunasi. Cak Jon mendengar semua cerita dengan seksama, ia berhati-hati dalam menanggapi. Cak Jon memberikan sedikit nasehat untuk bersabar, dan mendoakan agar caleg itu segera keluar dari masalah. Setelah urusannya selesai, si caleg gagal menyerahkan selembar uang sepuluh ribu rupiah. Ia lalu keluar tempat pangkas rambut tanpa pamit dengan Cak Jon maupun pelanggan yang lain.

“Pantesan kalah.” Ucap Cak Jon singkat dan mempersilakan pelanggan selanjutnya. “Emang kenapa Cak?” tanya pelanggan baru, seorang anak SMP. Cak Jon bercerita bahwa caleg gagal tadi adalah orang yang angkuh. Selama ini ia turun membantu rakyat kecil semata ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain. Orang-orang sudah mencium gelagat asli dari diri caleg tersebut, itulah sebab suaranya ajur-mumur. Aku dan anak SMP manggut-manggut, kagum dengan keahlian Cak Jon membaca pelanggannya.

Nah beda orang beda cerita, kali ini cerita dari anak SMP yang ingin cukur mohawk. Cak Jon lantas menyentuh kepalanya sambil melihat kaca, memejamkan mata sejenak lalu berdehem. Ujung kiri bibir Cak Jon menyungging. Anak SMP itu berkata jika sedang gandrung bermain band. Cak Jon bertanya apakah tidak takut kena razia di sekolah dan dijawab biar saja, ia ingin terlihat rebel. Selesai mencukur Cak Jon menolak menerima bayaran, “Bawa saja.” Anak SMP itu bingung tapi juga senang tak perlu membayar.

Setelah anak SMP tersebut keluar Cak Jon berbisik padaku, uang itu hasil mencuri dari dompet sang ibu, “Daripada aku kualat nantinya.” Ajaib batinku. Cak Jon seperti tahu hal-hal rahasia yang tidak diceritakan oleh para pelanggannya. Akhirnya giliranku, aku cukup menahan diri supaya tidak terbaca seperti yang lain. Cak Jon tahu aku gugup, ia tidak banyak bertanya dan malah asik bercanda. Setelah selesai dan membayar, Cak Jon tiba-tiba berkata, “Lain kali coba cukur mullet deh, anak cewek banyak yang suka.” Aku terpana, ia tahu ternyata. Awalnya tadi aku memang berniat cukur mullet, tapi setelah dipikir-pikir aku merasa belum cukup berani merubah gaya rambut yang selama ini mentok cukur asal rapi.

Saat pulang aku merenung, ini gara-gara Dik Diba. Semua karena kata-kata anak Pak RW itu saat bertemu di depan Mushola kemarin. “Cukur mullet aja Mas,” seraya tersenyum manis.  

“Di TikTok banyak, aku suka.” Senyum itu cukup mengganggu tadi malam, layaknya hipnotis maka pagi harinya aku langsung ke pangkas rambut Cak Jon. Mungkin lain kali aku akan mencobanya, untuk saat ini belum ada mental untuk dicukur mullet.

Satu hal yang paling aku cermati, Cak Jon bagaikan seorang pembaca pikiran. Selain pandai memancing lawan bicaranya bercerita, ia bisa tahu hal-hal lain yang disembunyikan. Dan selayaknya tuan rumah yang baik, ia kadang memberikan jasa nasehat dan solusi masalah untuk para tamunya. Terutama untuk laki-laki, mencurahkan isi hati adalah hal tabu yang selalu terhalangi oleh gengsi kan. Hanya sedikit tempat yang mampu memberikan sarana. Jika dulu hanya ada warung kopi dan pos ronda, maka sekarang kami memiliki tambahan tempat berupa pangkas rambut Cak Jon. Sebuah kemajuan. Desas-desus keahlian Cak Jon menyebar amat cepat dan senyap di kalangan bapak-bapak desa. Namun mereka ingin hal ini diketahui kalangan pejantan saja tanpa melibatkan kaum betina.

Beberapa orang tertarik mencoba, salah satunya Mas Agus. Ia kelihatan penasaran dan ingin ikut curhat di pangkas rambut Cak Jon. Mas Agus adalah pasutri baru. Belum ada satu tahun ia membangun bahtera rumah tangga bersama Mbak Mia. Sampai sekarang keduanya belum dikaruniai momongan. Belakangan ini Mbak Mia gampang marah, setiap Mas Agus pulang kerja selalu saja ada masalah yang menyebabkan pertengkaran. Entah persoalan gaji yang tidak cukup, cemburu yang mengada-ada, sampai hutang pada tetangga. Maklum, Mas Agus kerja sebagai kuli bangunan, ia tidak memiliki jam kantor tetap seperti para karyawan. Kerjanya pun tidak tentu, kadang ada proyek yang bisa ikut, kadang sepi. Kebetulan saat ini Mas Agus diajak saudara mengerjakan proyek pembangunan perumahan elit di sebuah kota besar. Sebab itulah tiap hari Mas Agus berangkat pagi dan pulang larut malam. Kadang saat pekerjaannya belum selesai ia terpaksa harus menginap. Jika sedang pulang ke rumah ia biasanya langsung mandi, makan, dan lanjut mendengkur.

Cak Jon yang mendengar kisah itu saat Mas Agus cukur rambut berusaha mengerti duduk permasalahannya. Mimik mukanya tajam, layaknya intel mengatur strategi. Sebentar-sebentar Cak Jon menghisap rokok panjang-panjang. Sejurus kemudian ia mulai menyentuh kepala Mas Agus, matanya terpejam. Sang empunya kepala menyadari, inilah saat-saat Cak Jon pamer ‘kesaktian’. Betul saja, Cak Jon berkata tegas, “Wanita itu butuh ditemani dan dituruti Mas! Seberat-beratnya pekerjaan di luar, ada waktunya harus pulang kandang. Terutama pada seseorang yang sudah menunggu di rumah.” Mas Agus paham, ia berterima kasih dan berjanji akan segera melakukan saran Cak Jon. Manjur, tak lama kemudian Mas Agus mengabarkan perihal Mbak Mia yang tidak lagi marah-marah. Bahkan ketika Mas Agus makin jarang pulang karena proyek hampir selesai. Asalkan saat di rumah Mas Agus memberikan semua keinginan Mbak Mia pasti beres.

Mendengar kabar keberhasilan Mas Agus mengamalkan saran Cak Jon, aku jadi kepincut. Sebulan ini terasa begitu lama saat menanti rambut yang ingin segera lebat kembali. Demi Dik Diba, ku bulatkan tekad bercukur mullet. Aku menyambar sepeda listrik untuk pergi ke pangkas rambut Cak Jon. Saat mendekati Masjid, aku mendadak berhenti. Terlihat banyak warga di dekat pangkas rambut. Tampak Mas Agus menyeret seseorang dari dalam sana. Lalu kerumunan makin liar, mereka memukuli orang yang diseret tadi. Ternyata itu Cak Jon. Saat kutanyakan pada bapak-bapak yang asyik merokok di depan Masjid, mereka bilang Cak Jon kepergok main gila dengan Mbak Mia selagi Mas Agus tidak ada di rumah. Justru alasan Mbak Mia tak lagi uring-uringan belakangan ini bukan karena Mas Agus yang makin perhatian, tapi sudah ada Cak Jon yang rela bermurah hati menemani. Ku belokkan sepeda listrik untuk kembali pulang. Ah sial, padahal hari ini aku ingin potong mullet. TAMAT.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top