Senja di Pupilnya

Tentang Kamu

Adalah senja yang tak pernah usai memerah
di mataku
adalah desir angin yang tahu caranya
membisikkan rindu tanpa kata.

Tentang kamu
adalah sunyi yang hangat
ketika dunia riuh merenggut tenangku
Adalah doa yang diam-diam kusematkan
di antara sela napas dan mimpi

Tentang kamu,
adalah detak yang tak bisa kupaksa berhenti
adalah jarak yang kusyukuri
karena rindu takkan pernah habis,
dan hatiku punya alasan
untuk pulang pada nama yang sama,
lagi dan lagi.

Tentang kamu,
adalah pagi yang kutunggu meski lelah,
menyimpan cahaya di kelopak mata
agar langkahku tetap pulang
meski jalan kerap berdebu, berliku.

Tentang kamu,
adalah rahasia yang kutulis di dada langit,
biar bintang jadi saksi
bahwa namamu kupeluk diam-diam
sampai rindu ini menjelma abadi.
Tentang kamu…selalu

***

Segalanya Adalah Kamu

Tanpa sadar,
di setiap bait yang kutulis, kau bernapas.
Dari lembar pertama yang kupeluk dengan tangan gemetar,
hingga titik terakhir yang kupaksakan lahir dari hujan di mataku,
semuanya perihal kamu.

Kautinggal di baris pertama,
pada kata kedua, di koma yang kupilih dengan ragu.
Kausinggah di jeda, bersembunyi di balik spasi,
menjadi alasan setiap kalimatku berdiri tegak meski aku runtuh di antaranya.

Kau adalah wujud dari kata indah itu
butuh fokus untuk menulis,
butuh tenang untuk merawat,
butuh keberanian untuk mengaku,
bahwa di antara ribuan kata,
aku hanya menulis satu nama, itulah kamu.

Jika kelak bait ini usang,
dan kertasnya sobek oleh waktu,
percayalah, aku masih akan menulismu,
di detak nadiku, di senja yang pulang tanpa pamit, di sunyi yang menua bersama rindu.
Karena segalanya adalah kamu.
titik, koma, dan aku…selalu kamu.

***

Bolehkah Aku Menulismu, Sekali Lagi

Bolehkah aku menulismu,
dengan tinta rahasia yang kuteteskan dari hujan paling lirih di dadaku?
bukan untuk menggenggam,
hanya untuk mengabadikan jejakmu
di antara halaman yang tak pernah selesai ku tutup.

Aku tak meminta tempat di hatimu ,
sebab aku telah membangun gedung kecil
di antara baris-baris puisiku
tempat kau berdiri tanpa tahu,
dipuji dalam diam, dicintai tanpa tuntutan waktu.

Bolehkah aku menyebut namamu
tanpa kau merasa terbebani?
menjadikan senyummu matahari kecil
yang menyinari taman kata-kataku
meski kau memilih tumbuh di tempat yang tak kujamah?

Aku hanya ingin mencintaimu dengan cara
yang tak mengganggu langitmu,
yang tak mengusik semestamu.
Biarlah aku menjadi langit abu-abu
yang kau pandangi tanpa tahu
bahwa awanku menggendong rindu padamu.

Dan jika suatu hari kau membaca puisi
yang terasa akrab namun asing,
dan kau merasa sejenak seperti sedang dicintai tanpa alasan
maka itulah aku,
yang tak pernah berhenti menulismu,
meski semesta tak pernah memberiku izin.

***

Senja di Pupilnya

Aku bersembunyi di pupilnya
di celah redup yang tak sempat ia pahami,
menjadi bisik paling lirih
yang tak pernah ia dengar.

Ada senja yang menetap di sana
jingga yang kuyup di sudut mata,
menahan kata-kata pulang
yang terlanjur basah oleh rindu.

Kadang aku ingin teriak.
Tapi tatapnya slalu lebih sunyi
dari segala suara yang kupunya.
Aku pun diam,
menunggu karam
di riak matanya yang nyaris beku.

Andai bisa, ingin kutitipkan namaku
pada kelip cahaya yang menepi di sudutnya
agar meski lenyap,
aku tetap tinggal,
jadi senja kecil yang tak pernah reda.

Di matanya, aku menua
menjadi sisa hujan, menjadi desir angin
menjadi apa pun, asal bukan aku lagi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top