Warisan Plastik dan Puisi Lainnya

Di Ambang Pintu Sunyi

Ada yang pergi bukan karena kalah,
melainkan karena rindu pada sebuah pintu
yang hanya terlihat
oleh jiwa yang terlalu lama menahan hujan.

Tubuhnya merapuh pelan,
seperti lampu-lampu yang dipadamkan satu per satu.
Namun matanya terus mencari sesuatu,
bukan obat, tapi jalan pulang.

Ada kenangan yang menahan langkahnya,
nama-nama yang belum selesai,
doa yang belum kembali.
Kadang yang paling menyakitkan
adalah hal-hal yang tidak pernah diucapkan.

Lalu pada senyap terakhirnya, ia tersenyum.
Dan aku mengerti,
kematian bukan perpisahan,
melainkan pintu yang akhirnya terbuka
untuk seseorang yang telah lama ditunggu.

***

Di Jalan Berliku

Di jalan berliku menuju perbukitan sepi,
aku melihat tubuh renta duduk di pinggir aspal.
Hutan di kiri-kanan hanya menyisakan angin,
sementara tangannya gemetar menadah harapan kosong.
Setiap tikungan menghadirkan wajah berbeda,
namun raut letih itu terasa sama saja,
lapar, haus, dan sepi yang menua bersama waktu.
Aku melangkah lewat, dada terasa berat,
seakan bumi ikut menyimpan tangis yang tertinggal.

***

NIRWANA

Nyaring suara rakyat pecah di jalan raya
Iringan peluh dan klakson jadi saksi
Rumah wakil rakyat berdiri megah namun membisu
Waktu terkunci di balik dinding bisu
Ada janji yang dulu lantang, kini lenyap ditelan kursi
Namun di luar pagar, cahaya perlawanan tetap menyala
Agar nirwana keadilan tak hanya jadi mimpi

***

1 komentar untuk “Warisan Plastik dan Puisi Lainnya”

  1. Pingback: Thiago Silva Masih Kejar Mimpi Piala Dunia 2026 - nribun.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top