Simpang Karangbawang dan Puisi Lainnya

Harga yang Tertimbang

Jalan itu,
kau terabas dengan bisu.
Entah untuk menebus harga sunyi
dalam kepalamu
atau menukar dengan riuh
di sangkar
pikiranmu.
Ada sesuatu yang mendidih di sana
dalam sayu,
kelopak matamu.

Cilacap, 16 Agustus 2025

***

Sesaat yang Bermula

Pada luas bentang lautan
aku menjelma dingin
batu karang
di tepian daratan.

Di jauh gigir pelabuhan
aku masih mengeja kematian
sesaat,
sebelum petang memanggilku pulang
kembali memunguti sisa-sisa ingatan
yang menempel di kusut karcis parkiran
dan hamparan pasir yang ditarik dalam gelombang
ke daratan.

Agustus, 2025

***

Sepasang Kunang-kunang Terbang di Atas Kolam

Tak ada rembulan
hanya tersisa pertanyaan
di antara kesiur angin
pada malam yang selalu direngkuh dingin.

Lirih suara dedaunan berdesakan,
kecipak air dari ikan-ikan yang entah
menikmati pergumulan atau sedang menanti ajal.
Dan pada lampu yang temaram,
di sana
ada sepasang kunang-kunang
beterbangan.
Malam adalah perjumpaan
sesaat—
sebelum gugus-gugus bintang
kembali mengucap ‘selamat tinggal’
pada kita yang terdiam.

Sebab barangkali,
segala yang tak terkatakan
adalah:

yang terdalam.

Cilacap, 16 Juli 2025

***

Di Bawah Pendar Lampu Jalanan

Di antara tiang lampu penghujung jalan
sepasang kumbang terbang
dan rembulan membakar diri
sebelum pagi kembali—
dengan wajah
pucat pasi.

Apa yang lebih sering manusia temui
melebihi kepedihan
menemui mereka sendiri?
Malam serupa perpanjangan
dari igau
kegelisahan.

Tak ada yang pernah selesai.
Juga ketakutan sekaligus kecemasan
yang kita tafsiri dalam kemelut pikiran.
Ia selalu meminta tinggal,
lebih dari yang seharusnya.

Ia telah membaiat hatimu
dan kehampaan, menjelma satu-satunya
yang tersisa, memelukmu.
Ada yang membeku di sekujur kulit tubuhmu
lebam
membiru—
menjadi sajak-sajak baru.

Di perempatan ini,
rembulan basah kuyup:
aku mencium
hangus asap knalpot.

Aspal
menjadi tempat aku merapal
harapan yang memudar
dan tak lagi—
kukenal.

Purwokerto, 29 Agustus 2025

***

Simpang Karangbawang

Kota ini
terlahir dari sepenggal puisi;
setengah lainnya adalah gedung-gedung pincang
yang disesaki pertanyaan
dan sehimpun ketidakpastian
lantas kemudian,
kita menyebutnya
dengan—
masa depan.

Ada setetes keringat yang berkerak
di kulit mereka,
para penarik becak
dan kemakmuran:
terasa jauh untuk bisa ditanak.

Di jalanan,
sederet mahasiswa pulang
dari kota bergedung pincang
dengan harap:
hidup tak lagi sepincang masa sekarang.

Purwokerto, 21 Juli 2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top