
Awal bulan September tahun ini, beberapa dari kita mungkin sedang dalam ujian hidup dari Allah. Situasi sedang tidak baik-baik saja: pikiran sedang runyam, keuangan kacau, rumah tangga sedang tidak baik-baik saja, nganggur tanpa pemasukan, dan dikejar hutang serta kebutuhan hidup. Sebenarnya masih banyak lagi dan cukup beragam sekali. Adapun untuk menuliskan setiap pergolakan dan kemelut yang bergerak di riak kehidupan warga negara Indonesia, tentu akan menjadi buku yang berjilid-jilid dan tebal-tebal. Mungkin satu bukunya seumpama kamus Al-Munawwir ketebalannya.
Coba tarik napas yang panjang, lalu hembuskan perlahan-lahan. Allah Maha Pandai dan cap cis cus dalam membolak-balikkan sesuatu sesuai kehendak-Nya. Tapi kita adalah mahluk ikhtiar. Ingatlah hal itu. Mudah bagi Allah mengganti siang dan malam tanpa sekalipun terlambat. Mengatur curah hujan dan kecepatan angin dan bahkan menumbuhkan rumput di sela-sela aspal.
Hidup bukanlah sebagaimana pertaruhan di hamparan meja judi. Hidup adalah menjalankan tugas sebagai seorang hamba. Manusia biasa yang harus selalu merasa butuh kepada Tuhannya. Manusia yang sadar diri dengan segenap keterbatasannya dan sadar akan seluas-luasnya ketidakterbatasan-Nya. Jika ikhtiar sudah maksimal namun masih saja gagal. Itu bukanlah sebuah kekalahan atau kesalahan. Ada hikmah di dalamnya. Allah ingin menunjukkan, siapa yang berkuasa sebenarnya. Apakah ide hebat kita. Modal banyak kita. Kekuatan relasi kita. Atau ketetapan-Nya yang lebih kuat.
Kalau kata guru ngaji kita, ambilah hikmah atas keadaan hidup kita. Meski kadang kala kita hanya bisa menerka-nerka, mengira-mengira, memprediksi, dan coba-coba mengartikan maksud Tuhan dalam memberikan pelajaran dalam kehidupan. Hikmah sesungguhnya adalah milik Allah saja. Kenapa Dia membolak-balikkan keadaan hidup hamba-Nya. Atau sedang menunjukkan kasih sayang-Nya dalam hidup hamba-Nya dengan bentuk-bentuk keterpurukan.
Manusia yang sadar diri dengan segenap keterbatasannya dan sadar akan seluas-luasnya ketidakterbatasan-Nya. Jika ikhtiar sudah maksimal namun masih saja gagal. Itu bukanlah sebuah kekalahan atau kesalahan.
Jika Allah jahat kepada hamba-Nya, mengapa Nabi Muhammad kecil begitu berat hidupnya? Rasa-rasanya sangat sengsara, bahkan sejak dalam kandungan. Lebih-lebih, yatim piatu sejak kecil. Bermandikan darah dalam berdakwah. Iya kan?
Jika kita kecewa atas kondisi yang sedang kita jalani, tidak apa-apa. Itu manusiawi. Bahkan rasanya tidak ada harapan sekalipun. Tapi, coba sadar dsn sabar sedikit lagi. Tumbuhkan cintamu sekali lagi kepada Allah, sebagaimana rumput yang tumbuh di retakan aspal yang panas. Rumput yang kecil namun kuat. Itulah kamu. Insya Allah bisa.
Hamdan Nugroho. Lelaki 30 tahun yang sedang asyik-asyiknya bekerja. Tapi tak lupa mencintai negerinya. Dari budaya hingga orang-orangnya.




