Aktivisme Tanpa Kesadaran Kelas sebagai Omong Kosong Perubahan

Akhir-akhir ini, aktivisme dengan mudah bisa kita temukan di ruang publik. Media sosial juga diisi dengan konten aktivisme, baik secara penyampaian kritik kebijakan hingga ajakan kepedulian. Aktivisme tersebut terlihat sebagai sebuah hal yang progresif, bermakna, hingga menjadi tanda identitas sosial tertentu. Walaupun begitu, di balik maraknya aktivisme tersebut memunculkan pertanyaan terkait apakah aktivisme itu benar-benar membawa perubahan secara mendalam atau justru malah berhenti pada simbol tanpa menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya. Pertanyaan semacam itu bisa menjadi logis ketika melihat aktivisme digencarkan namun tanpa didasari pada kesadaran kelas.

Aktivisme Tanpa Kesadaran Kelas dan Hilangnya Arah Perjuangan

Kesadaran kelas adalah pemahaman terkait posisi sosial-ekonomi seseorang dalam struktur masyarakat serta bagaimana struktur tersebut melahirkan ketimpangan akses terhadap sumber daya, kekuasaan, hingga kesempatan. Tanpa pemahaman kesadaran kelas tersebut, aktivisme memiliki risiko untuk kehilangan arah, sebab ketidakadilan sosial hanya dipahami secara dangkal serta terlepas dari perihal strukturalnya. Aktivisme tanpa kesadaran kelas ini cenderung fokus terhadap ekspresi kepedulian, bukan terhadap perubahan sistemik. Dalam hal ini, niat baik dari seseorang tersebut memang tak bisa disalahkan sepenuhnya, bahkan bisa kita apresiasi.

Namun begitu, jika aktivisme terus berjalan begitu lama dengan mekanisme semacam itu, maka niat baik yang melandasi gerakan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan dampak nyata yang dirasakan oleh kelompok yang paling terdampak ketidakadilan. Salah satu ciri dalam aktivisme tanpa dilandasi kesadaran kelas ini terletak pada berubahnya aktivisme menjadi gaya hidup dan identitas. Aktivisme tak lagi dilihat dan dipahami sebagai upaya kolektif untuk memperjuangkan keadilan, namun sebagai simbol moral yang melekat pada diri individu. Dalam hal ini, menjadi “aktivis” sama seperti memperlihatkan keberpihakan secara terbuka, sering kali melalui unggahan media sosial hingga penggunaan simbol tertentu.

Ketika melihat aktivisme semacam itu, maka bisa kita amati masalahnya ketika aktivisme menekankan pada visibilitas dibanding refleksi, dan konsekuensinya kesadaran kelas menjadi terpinggirkan. Individu dari kelas atas dapat dengan mudah menyuarakan isu ketidakadilan tanpa menyadari posisi privilese yang mereka miliki. Aktivisme kemudian menjadi ruang afirmasi diri, bukan ruang penyingkap ketimpangan. Kepedulian diperlihatkan, namun jarang diiringi dengan penyingkapan kritis atas kondisi sistem sosial-ekonomi yang sedang bekerja. Ketika hal itu terus dipraktikkan, maka aktivisme berisiko menjadi konsumsi simbolik, bukan alat perubahan yang mendalam.

Tak hanya itu, aktivisme tanpa kesadaran kelas juga acap terjebak pada penyuaraan tanpa analisis struktural. Ketidakadilan sosial dalam hal ini direduksi menjadi permasalahan individu, moral, hingga sikap personal. Permasalahan kemiskinan, misalnya, dipahami sebagai akibat kurangnya kerja keras atau literasi, bukan sebagai hasil dari sistem ekonomi yang timpang. Contoh lain juga bisa kita lihat dalam masalah kesehatan, pendidikan, hingga kesejahteraan dilihat sebagai kegagalan individu dalam berproses, bukan akibat dari kegagalan kebijakan publik dan distribusi sumber daya. Kasus semacam itu kemudian mengakibatkan pada solusi yang ditawarkan justru bersifat individualistik, bukan upaya kolektif.

Aktivisme yang Aman dan Melemahnya Daya Ubah

Pendekatan aktivisme seperti sub bab sebelumnya memang terlihat positif, namun acap kali gagal menyentuh akar permasalahan. Tanpa analisis struktural, aktivisme bertendensi pada giat yang menghindari kritik terhadap sistem yang menciptakan jurang kelas. Sistem ekonomi yang eksploitatif, relasi kuasa antara kelas sosial, hingga kebijakan publik menjadi jarang ditanyakan secara mendalam. Aktivisme menjadi aman, tak mengganggu status quo, hingga mudah diterima oleh publik. Namun, karena hal semacam itu menjadi dampak yang ditimbulkan dari aktivisme menjadi terbatas. Sebab, ketidakadilan yang bersifat struktural tak bisa dilepaskan hanya dengan merubah perilaku individu.

Lebih lanjut, aktivisme tanpa kesadaran kelas juga tak jarang menimbulkan praktik representasi tanpa partisipasi. Kelompok yang mempunyai akses, pendidikan, dan ruang bicara acap bersuara atas nama kelompok rentan. Mereka menyuarakan penderitaan buruh, masyarakat miskin, masyarakat desa, perempuan marjinal, serta kelompok minoritas lainnya, namun tidak melibatkan kelompok tersebut secara bermakna dalam proses pengambilan keputusan. Suara dari kelompok yang terdampak langsung digantikan oleh narasi yang disusun dari luar pengalaman mereka sendiri. Situasi tersebut membuat relasi kuasa yang timpang justru terus direproduksi dalam gerakan aktivisme.

Kelompok rentan diposisikan sebagai objek simpati semata, bukan sebagai subjek perjuangan. Mereka “dibela”, namun di sisi lain tak diberi ruang untuk menentukan arah perjuangan. Aktivisme semacam ini, walaupun mengatasnamakan keadilan, tetap beroperasi dalam logika hierarkis yang sama dengan sistem yang dikritiknya. Tanpa kesadaran kelas, aktivisme menjadi gagal melihat siapa yang berbicara dan dari posisi mana ia berbicara yang di situ sebenarnya menjadi bagian penting dari perjuangan itu sendiri.

Akibat dari aktivisme tanpa dilandasi kesadaran sering kali bersifat semu. Keberhasilan diukur dari seberapa tinggi jangkauan sebuah isu serta seberapa banyak dukungan yang diperoleh. Namun, perubahan material yang dirasakan oleh kelompok terdampak acap kali minim atau bahkan tidak ada. Jurang kelas tetap berlangsung, akses terhadap layanan dasar tak banyak berubah, hingga sistem ekonomi yang eksploitatif tetap berjalan. Aktivisme kemudian hanya melahirkan ilusi perubahan, sementara struktur sosial tetap mapan berdiri. Dalam hal ini, bukan berarti seluruhnya aktivisme simbolik tidak berguna. Dalam beberapa hal, visibilitas isu bisa menjadi langkah awal yang penting. Akan tetapi, tanpa kesadaran, aktivisme dengan mudah berhenti pada tahap tersebut. Aktivisme gagal bergerak dari kesadaran moral menuju perjuangan struktural. Aktivisme kemudian menjadi respons emosional sesaat, bukan komitmen jangka panjang untuk menciptakan perubahan sistemik. Kondisi ini juga bisa mengakibatkan aktivisme berpotensi meredam kritik radikal.

Oleh karena itu, maka menjadi penting saat menyatakan aktivisme sebagai suatu hal yang tak dapat dipisahkan dari kesadaran kelas. Sebab, kesadaran kelas memungkinkan aktivisme untuk melihat ketidakadilan sebagai permasalahan struktural, bukan lagi sebagai permasalahan individu. Hal ini juga bisa mendorong evaluasi kritis atas posisi sosial pelaku aktivisme, hingga memungkinkan untuk membuka ruang bagi partisipasi kelompok yang selama ini terpinggirkan. Melalui kesadaran kelas, aktivisme tak berhenti pada penilaian moral, namun lebih jauh, mendorong pemahaman yang lebih dalam terkait bagaimana ketimpangan diproduksi dan dipertahankan untuk menjadi mapan dalam kehidupan sosial. Setelahnya, aktivisme tak lagi sekadar perihal simbol, namun juga berpijak pada kesadaran.

Tanpa kesadaran kelas, aktivisme berisiko kehilangan substansinya serta berubah menjadi praktik simbolik yang nyaman bagi pelakunya, namun minim dampak bagi mereka yang merasakan langsung ketidakadilan akibat ketimpangan yang terjadi. Sebaliknya, aktivisme yang berpijak pada kesadaran kelas mempunyai potensi untuk menjadi alat perubahan yang lebih radikal serta bermakna. Aktivisme tak lagi berhenti pada empati atau kepedulian simbolik, namun diarahkan pada upaya memahami serta menantang struktur yang melanggengkan ketimpangan. Dalam hal ini, aktivisme dengan kesadaran kelas dimungkinkan untuk melampaui simbol dan bertendensi pada upaya sadar untuk mengubah kondisi yang timpang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top