Kambing Hitam itu Bernama Minat Baca

Membaca adalah sebuah kemewahan, terutama bagi mereka yang negaranya tidak mampu memfasilitasi kegiatan tersebut. Jika menjadikan warga miskin informasi adalah tujuannya, maka dalam hal ini negara sudah berhasil menunaikan misinya. Dalam kasus seperti ini, minat baca sering tampil sebagai kambing hitam atas segala persoalan terkait aktivitas membaca.

Ketika bicara soal angka, minat baca kerap ditampilkan paling pertama. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menyodorkan angka 72,44 persen sebagai hasil survei mengenai  Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat tahun 2024. Kabar baiknya, angka ini sedikit lebih tinggi dari periode survei sebelumnya pada tahun 2023 yang hanya sebesar 66,77 persen. Kabar buruknya, dengan skor sedikit lebih tinggi tersebut tidak membuat minat baca selamat dari tuduhan menjadi aktor utama atas terjadinya perpustakaan daerah yang sepi. Nama minat baca juga kerap dikaitkan dengan persoalan buku yang tidak terjual habis di pasaran.

Tanda Kehidupan Minat Baca

Beruntungnya, minat baca masyarakat kita saat ini belum sepenuhnya mati. Tanda-tanda kehidupannya masih bisa kita rasakan. Meskipun perpustakaan tidak lebih ramai daripada gerai Mie Gacoan, kehidupan dengan gairah membaca masih bisa ditemui di tempat lain. Kelompok baca atau book club menjadi salah satu tempat yang subur ditumbuhi minat akan membaca tersebut.

Keberadaan book club akhir-akhir ini mulai eksis di kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang gandrung membaca. Konsepnya berbeda-beda, tergantung kesepakatan antarkelompoknya. Ada yang menjanjikan pertemuan tiap akhir pekan untuk sekadar membaca bersama. Tidak ada diskusi, minim interaksi.

Kelompok lain menawarkan pengalaman berbeda dengan diadakannya diskusi setelahnya. Bahasannya seputar hal-hal yang baru saja dibaca. Ada juga kelompok yang memfasilitasi pesertanya dengan buku bacaan. Buku-buku tersebut diperoleh dari berbagai sumber, seperti koleksi pribadi para pengurusnya, donasi, dan juga hasil tukar-menukar koleksi para anggota.

Ketika sebagian besar aktivitas dan interaksi manusia hijrah ke dunia maya, kegiatan membaca masih mampu mempertahankan eksistensinya. Platform seperti Instagram, X, dan TikTok menjadi saksi pertanda kehidupannya. Fenomena bookstagram, booktweet, dan booktok menjadi bukti nyata. Terlepas dari apapun niatnya, entah sekadar untuk menarik atensi ataupun benar-benar fokus sebagai konten literasi, akun-akun di platform tersebut menunjukkan bahwa masih ada manusia-manusia yang gemar membaca.

Keberadaan klub membaca dan beredarnya konten membaca di media sosial menjadi pertanda bahwa sebenarnya minat baca belum sepenuhnya hilang dari muka bumi. Ia hanya mencari cara lain untuk bertahan hidup ketika cara penghidupan lamanya tidak memberikan pengalaman yang menjanjikan.

Jalan Menuju Kematian Minat Baca

Kita semua sibuk saling menyalahkan perihal kenapa tidak membaca, kenapa tidak membaca lebih banyak seperti yang lainnya, dan beragam pertanyaan lain sampai-sampai lupa akar masalahnya. Realitasnya, akses membaca masing-masing individu itu berbeda, dan itu masalah utamanya. Ketimbang fokus menuduh ini itu, mari kita terlisik lebih dulu realitas yang ada.

Salah seorang penulis Indonesia, Maman Suherman, mengatakan bahwa “Tempat paling sepi di muka bumi di Indonesia adalah kuburan, kamar mayat, dan perpustakaan.” Kita semua tahu bahwa ada larangan untuk membuat kegaduhan di perpustakaan. Artinya, perpustakaan cenderung lebih sepi dibandingkan tempat berkumpulnya orang kebanyakan.

Namun, akan menjadi pertanyaan jika perpustakaan disandingkan dengan kuburan dan kamar mayat. Keduanya identik dengan orang mati. Apakah ini berarti perpustakaan juga diisi oleh orang mati? Atau orang-orang yang sudah mati minatnya terhadap perpustakaan sampai-sampai tidak ada tanda kehidupan di tempat itu, layaknya dua tempat lainnya?

Kemungkinan pertama tidak bisa diakui, sebab jika benar-benar terjadi, itu terdengar konyol. Jadi, mari kita sepakati asumsi bahwa yang terjadi adalah kemungkinan kedua. Jika yang terjadi demikian, maka pertanyaan selanjutnya adalah kenapa minat terhadap perpustakaan bisa mati?

Alasannya cukup sederhana, yaitu perpustakaan yang belum memadai. Jika kita berbicara tentang perpustakaan daerah, koleksi buku fisik dapat dikatakan masih kurang lengkap. Berdasarkan pengalaman saya mengunjungi dan meminjam buku di perpustakaan daerah, buku-buku keluaran terbaru di sana masih jarang ditemui.

Tak sedikit koleksi perpustakaan juga ditemukan dalam kondisi minta pertolongan karena lem punggungnya sudah tidak mampu lagi menanggung beban umur. Alhasil, beberapa lembar buku sudah tidak bersatu dengan kawanannya. Mirisnya, sejumlah buku yang terindikasi bajakan juga tetap lolos bertengger di rak sana.

Jam buka perpustakaan juga menjadi alasan lainnya. Saya menyadari bahwa menuntut perpustakaan buka 24 jam adalah permintaan konyol untuk kondisi negara kita saat ini. Namun, setidaknya perpustakaan bisa buka sedikit lebih lama dari jam kerja biasanya. Jam operasional perpustakaan diatur selayaknya jam kerja pada umumnya, biasanya pukul sembilan pagi sampai lima sore.

Di waktu yang sama, para calon pengunjung sedang bergulat dengan kesibukan masing-masing, misalnya sekolah atau kerja. Ketika mereka baru memiliki waktu luang, perpustakaan sudah tidak menerima kunjungan. Situasi ini secara tidak langsung menyempitkan akses bagi mereka yang memiliki minat untuk membaca.

Selagi jalan menuju bahan bacaan gratis menemui kesulitan, mengoleksi buku secara pribadi juga bukanlah jawaban yang diharapkan. Di situasi ekonomi saat ini, merelakan sebagian penghasilan untuk sebuah bacaan terasa seperti kesalahan. Persaingan dengan kebutuhan hidup lainnya membuat kebutuhan literasi terpaksa dijadikan anak tiri. Terlebih, harga buku sering tidak sebanding dengan tingkat penghasilan.

Di Kabupaten Banyumas sendiri, Upah Minimum Kabupaten (UMK) terbaru sebesar 2,4 juta. Anggap saja seluruh pekerja di Banyumas mendapatkan upah setidaknya setara UMK meskipun faktanya tidak juga. Mari misalkan satu orang membeli dua buku per bulan dengan harga seratus ribu. Jumlah buku tersebut berdasarkan indikator penilaian minat baca oleh Perpusnas sebagaimana hasilnya dipaparkan sebelumnya.

Per tiga bulan, pembaca di Jawa Tengah menghabiskan 5-6 buku. Jadi, asumsikan dalam sebulan habis dua buku. Harga seratus ribu diambil dari harga buku di pasaran yang berkisar antara Rp70.000 sampai Rp130.000. Persentase kebutuhan buku ini mencapai 8% dari pendapatan bulanan. Angka tersebut tergolong tinggi untuk satu jenis kebutuhan tersier. Jika benar diterapkan, alokasi khusus buku ini setara dengan enam kali makan Mie Gacoan lengkap dengan udang keju dan minumannya. 

Kondisi di atas menunjukkan bahwa persoalan tentang membaca tidak berhenti pada minat baca. Persoalan yang terjadi sebenarnya lebih luas dan kompleks, yaitu menyangkut kemerataan akses dan kemampuan ekonomi. Ketika mencari akses gratis di perpustakaan terhalang keterbatasan dan membeli buku sendiri tertahan oleh penghasilan, maka menjadi hal yang lumrah jika membaca adalah sebuah kemewahan.

Jadi, ketimbang menyalahkan ini itu hingga mengkambinghitamkan minat baca, yang perlu dilakukan adalah menyadari realitas bahwa masalah utamanya adalah keterbatasan akses. Dengan pandangan yang sudah gamblang ini, akan menjadi mudah bagi para pemangku kebijakan untuk menyusun rencana penanganan dan penyelesaian di lapangan. Semoga

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top