
Tulisan ini lahir dari kebiasaan melihat, bukan dari niat menyimpulkan. Dari duduk di pinggir acara, dari mendengar percakapan yang terpotong, dari nama-nama yang berulang di poster dan panggung. Banyumas dan sekitarnya menjadi medan pengamatan, tempat banyak orang bergerak, berkarya, dan berbicara tentang kebudayaan, namun sering kali tanpa ruang yang benar-benar bisa disebut milik bersama.
Di hampir setiap acara, satu kata selalu muncul. Bersama. Kata itu terdengar hangat, akrab, seolah tidak mungkin ditolak. Ia hadir di spanduk, di proposal, di sambutan pembuka. Diucapkan pelan-pelan, seperti doa. Tapi kata ini jarang disentuh lebih jauh. Ia dibiarkan berdiri sendiri, tanpa ditanya siapa yang benar-benar bersama, dan siapa yang hanya disebut. Kebersamaan, jika memang ada, tidak pernah sederhana. Ia bukan suasana, melainkan kerja. Ia mengandung tarik-menarik, ketegangan, bahkan kekecewaan. Di dalamnya ada yang menentukan arah, ada yang mengurus detail, ada yang hanya muncul sebagai nama kecil di bagian akhir. Label kolektif tidak pernah otomatis menghapus jarak di antara posisi-posisi itu.
Dalam banyak acara kebudayaan di daerah, arah sering kali sudah ditentukan sejak awal. Format rapi, konsep matang, lalu orang-orang dipanggil untuk mengisi. Percakapan hadir belakangan, sebatas menyesuaikan diri. Dari luar, semuanya tampak hidup. Dari dalam, terasa sesak. Tidak banyak ruang untuk berbeda, apalagi membantah. Bahasa kemudian bekerja sebagai penenang. Sukarelawan, misalnya. Kata ini terdengar ringan, nyaris mulia. Tapi di baliknya, sering tersembunyi kerja yang tak bisa ditawar. Tidak ikut dianggap tidak peduli. Menjaga jarak dibaca sebagai sikap. Padahal, jika benar sukarela, seharusnya pilihan untuk datang atau tidak datang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang.
Ada juga kalimat tentang misi kebudayaan yang sama. Kalimat yang rapi dan menenangkan. Ia menyatukan di permukaan, tapi meratakan perbedaan. Misi jarang benar-benar dibicarakan. Ia lebih sering diwariskan, diterima begitu saja. Di bawahnya, pertanyaan tentang siapa menanggung apa, siapa mendapat apa, perlahan dianggap mengganggu. Di sela-sela itu, tumbuh satu sikap lain yang jarang diakui. Mental artis. Beberapa pelaku hadir dengan harapan dilayani. Kehadiran mereka dianggap kontribusi. Kritik dipahami sebagai serangan. Kerja bersama berubah menjadi barisan pendukung. Karya diperlakukan sebagai altar, bukan ruang dialog. Ego bergerak lebih cepat daripada percakapan.
Ketika pola-pola ini bertemu dengan dana dan institusi, segalanya menjadi lebih licin. Yang dinilai adalah kelancaran acara, bukan hubungan antarorang. Laporan menjadi lebih penting daripada proses. Selama acara berjalan, semuanya dianggap selesai. Soal bagaimana orang-orang di dalamnya diperlakukan, jarang masuk hitungan. Setelah acara berakhir, pergerakan tidak berhenti. Nama-nama tertentu terus melaju. Undangan datang, perjalanan berlanjut, jejaring meluas.
Sementara mereka yang mengurus hal-hal paling dasar sering kali dibayar seadanya, secara gotong royong, seolah itu sudah cukup. Ketimpangan ini tidak pernah diumumkan. Ia disembunyikan di balik senyum dan ucapan terima kasih. Situasi ini terasa kontras jika melihat kolektif-kolektif besar yang wara-wiri di dunia maya. Nama mereka muncul terus-menerus, arsipnya rapi, wacananya berlapis. Penulis tidak berada di dalamnya dan tidak tahu betul apa yang terjadi di balik layar. Namun satu hal sulit dibantah: mereka tumbuh. Seperti gulma. Tidak selalu indah, tidak selalu disukai, tapi hidup dan menyebar.
Mungkin yang membedakan bukan sekadar soal dana atau jaringan. Melainkan soal kesabaran merawat kerja. Soal keberanian melepas pusat. Soal kesediaan membiarkan ruang diisi oleh banyak suara, bukan satu figur yang harus terus dijaga. Di Banyumas dan sekitarnya, masalahnya bukan kekurangan orang atau gagasan. Acara justru terlalu banyak. Tapi relasi tidak tumbuh. Komunitas sering hanya menjadi latar. Ruang dibuka, lalu ditinggalkan. Yang tersisa adalah dokumentasi dan kenangan singkat. Ketika semua ini dipertanyakan, jawabannya hampir selalu sama. Ini baru awal. Ini proses. Semua perlu waktu. Kalimat-kalimat itu terdengar masuk akal, tapi seringkali hanya berfungsi untuk menunda satu pertanyaan sederhana: mengapa sejak awal kebersamaan tidak benar-benar dikerjakan.
Tulisan ini tidak ingin menunjuk siapa pun. Ia hanya mencatat. Dari jarak yang dekat. Dari rasa yang tidak sepenuhnya nyaman. Bahwa kebersamaan bukan slogan. Kolektif bukan atribut. Keduanya menuntut kerja yang pelan, tidak selalu menyenangkan, dan sering kali memaksa kita menurunkan ego. Jika kata bersama terus diulang tanpa pernah diuji, barangkali yang sedang dirawat bukan ruang, melainkan kebiasaan saling menutupi. Dan barangkali, di situlah masalah itu berdiam.
NZ Sapta adalah seorang buruh seni yang berasal dari Pekuncen Banyumas. Bilamana Anda ingin menyapanya, di sini saja @nz_sapta




