Terjebak Keindahan Sastra: Ketika Korban Pedofilia Menjadi Komoditas Budaya

Banyak penikmat novel ataupun film tertipu keindahan “Lolita” karya Vladimir Nabokov. Penulis berdarah Amerika-Rusia ini begitu pandai menutupi kebejatan tokoh protagonis dengan kata-kata indah yang dapat membuat penikmat terlena, bahkan menanyakan kondisi moralnya sendiri. Perkenalkan, tokoh protagonis tersebut adalah seorang profesor sastra dan pedofilia, bernama Humbert. Novel ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, dari Humbert, seorang pedofilia licik dengan kata-kata indah. Humbert menggunakan diksi indah dan romantis untuk memperlambat dan memperindah momen kisahnya, sehingga pembaca dapat menikmati alur, diksi, dan imajinya. Pierre Manchot (2017) mengungkapkan, gaya narasi ini memiliki tujuan ganda, yaitu menjerat pembaca untuk bersimpati kepada Humbert tanpa mereka sadari, atau sekadar terlibat dalam permainan kata Humbert yang selanjutnya membuat pembaca semakin tidak nyaman ketika kejahatan Humbert terungkap. 

Dalam wawancara Paris Review, Nabokov menyatakan bahwa Humbert adalah pria narsistik dan kejam, tapi berhasil tampil simpatik. Ia narator yang sadar akan tindakan dan nafsunya yang menjijikan. Humbert selalu melakukan pembenaran setiap ada kesempatan. Semua itu dilakukan agar Humbert terlihat lebih mulia dibanding tokoh-tokoh lain. Maka, merupakan dedikasi hebat bagi Nabokov yang berhasil menciptakan karakter yang ia benci lalu dinarasikan dari sudut pandang pedofilia dengan diksi indah dan romantis. Nabokov merupakan penulis yang antusias dengan topik kekerasan anak kecil. Dalam beberapa karyanya, termasuk Lolita, Nabokov secara implisit menolak pelecehan terhadap anak-anak. Jadi, walau Nabokov menulis novel Lolita dengan gaya penulisan indah dan romantis, tidak serta-merta membuat Nabokov sebagai pedofilia ataupun pendukung tindak pelecehan terhadap anak-anak. 

Humbert adalah pria paruh baya yang terobsesi secara seksual kepada gadis dua belas tahun bernama Dolores Haze dan Lolita adalah panggilan khusus dari Humbert untuknya. “…A blue sea-wave swelled under my heart and, from a mat in a pool of sun, half-naked, kneeling, turning about on her knees, there was my Riviera love peering at my over dark glasses (Nabokov, 1955: 40),” itulah kesan pertama Humbert ketika melihat Dolores. Demi nafsunya untuk semakin dekat dan melakukan grooming terhadap Lolita, Humbert rela menikahi janda, yakni ibu Lolita yang bernama Charlotte Haze. Setelah Charlotte mati, Humbert menculik Lolita ke perjalanan sangat panjang menggunakan mobil. Mereka berdua hidup di jalan untuk menghindari penyelidikan polisi atas hubungan terlarangnya. Selama perjalanan panjangnya, Lolita bergantung sepenuhnya kepada Humbert. Namun, Humbert justru memanfaatkannya untuk melecehkan Lolita, baik secara seksual maupun emosional. 

Ketika masalah finansial datang mewajibkan Humbert untuk bekerja, Dolores melarikan diri dengan bantuan Clare Quilty. Sayangnya, Quilty sama bejatnya dengan Humbert. Quilty memanipulasi emosinya dengan berpura-pura jatuh cinta dan mengajaknya melarikan diri. Lolita yang telah jatuh cinta padanya pun menurutinya. Suatu hari, Quilty menawari Lolita untuk menjadi aktris dalam proyek film pornografi anak miliknya. Namun, Lolita langsung menolak yang membuat Quilty marah dan mengusir Lolita dari kediamannya. Beberapa tahun kemudian, Lolita menikah dengan lelaki normal dan suportif, Richard Schiller. Lolita hamil dalam keadaan miskin. Ketika Humbert bertemu kembali dengan Lolita, Humbert memohon Lolita untuk kembali bersamanya, tapi Lolita menolak. Walaupun demikian, Humbert masih bersikeras mencari tahu identitas pria yang membantu Lolita melarikan diri. Saat identitasnya terungkap, Humbert langsung pergi ke rumah Quilty dan membunuhnya. 

Terdapat teori dari Monika Zgustova yang berpendapat, nasib Lolita merupakan representasi dari masa lalu Vladimir Nabokov. Pada tahun 1907, Nabokov yang masih berumur delapan tahun sudah harus mengalami pelecehan seksual yang dilakukan pamannya, Rukavishnikov atau sebut saja Ruka. Pamannya bukanlah orang biasa, dia seorang diplomat yang kaya raya dan terpandang. Ruka bertemu kembali dengan Nabokov saat ia berumur sekitar dua belas tahun. Melihat Nabokov, Ruka berkata, “How sallow and plain you have become, my poor boy”. Saat ulang tahun ke-15 Nabokov, Ruka memutuskan untuk menjadikannya sebagai pewaris hartanya. Kemudian, dia berkata, “And now you may go, l’audience est finie. Je n’ai plus rien à vous dire”. Dalam novel Lolita, kejadian yang sama terjadi ketika penggodanya melihat wajah Lolita yang pucat, berbintik-bintik dan kurus kering lalu memberinya sejumlah besar uang untuk pernikahannya. Namun, Lolita tidak dapat menikmati kekayaannya karena dia meninggal saat melahirkan. Sama seperti Lolita, Nabokov tidak dapat menikmati warisan pamannya, karena saat ia berusia delapan belas tahun, terjadi Revolusi Rusia yang menyebabkan devaluasi total mata uang rubel, dan sebelum pergi ke pengasingan, Nabokov kehilangan segalanya. 

Setelah berkenalan dengan Lolita dan Nabokov, mari kita ketahui bahwa terjadi penyalahgunaan citra Lolita sebagai korban pedofilia dalam budaya populer. Penyalahgunaan ini melahirkan efek lolita (lolita effect) yang muncul sekitar tahun 1900-an, yaitu fenomena dalam budaya populer di mana anak perempuan digambarkan sebagai objek hasrat hiperseksual (Durham dalam Ratna, 2020). Salah satu konsekuensi sosial dari novel ini adalah “izin” yang diberikan untuk pedofil untuk menyamar sebagai korban dari “godaan” anak-anak yang kuat. Ini adalah distorsi kognitif yang umum digunakan oleh para predator untuk membenarkan kejahatan mereka (Ward et al. dalam Ratna, 2020). Lolita digunakan tidak hanya untuk menggambarkan, tetapi juga menormalisasikan seksualisasi anak-anak. Lolita sebagai objek eksotis hasrat seksual, yang awalnya terlarang sekarang menjadi ikon budaya, promosi pornografi anak, dan genre seni. Ini membuktikan teori akumulasi DeFleur dan Dennis yang memprediksi, apabila suatu narasi dilihat dan didengar secara konsisten di berbagai bentuk media, lalu dikuatkan dan disajikan terus-menerus, narasi tersebut akan memiliki efek jangka panjang kuat terhadap khalayak. Proses akumulasi ini menormalisasikan seksualisasi bebas terhadap anak-anak. 

Lolita sebagai genre seni dapat dilihat dari contoh populernya yaitu, genre Lolicon. Lolicon adalah portmanteau dari kata bahasa Inggris “Lolita complex”, sebuah genre media Jepang yang menampilkan karakter gadis muda atau tampak muda secara seksual. Karakter-karakter ini biasanya tampak seperti praremaja (anak-anak) dan dapat pula seperti karakter seusia bayi. Lolicon juga digunakan sebagai kata sifat untuk penggemar media yang menggambarkan seksualisasi pada karakter gadis muda (Sluzhevsky, 2022).

Terdapat pula istilah Lolita fashion. An Nguyen dan Jane Mai (2017) melakukan wawancara dengan Nagisa, seorang Lolita Jepang yang membahas perbedaan Lolicon dan Lolita Fashion. “Lolita” dalam dua konsep berbeda ini dianggap tidak berhubungan dan didefinisikan secara berbeda oleh pria dan wanita. “Lolita” dalam Lolicon didefinisikan oleh pandangan dan hasrat pria yang diarahkan pada gadis-gadis praremaja. Pria memproyeksikan hasrat seksual mereka pada Lolita, yakni keinginan untuk memanfaatkan dan mengontrolnya. Sebaliknya, fashion Lolita adalah istilah yang jauh dari pengaruh laki-laki. Fashion Lolita memiliki kebebasan, perasaan, dan kekuatan. Fashion ini adalah pengingat akan kenangan masa kecil yang berharga bagi seorang perempuan yang tumbuh sebagai gadis.

Lalu, tindakan apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi kekeliruan budaya populer ini? Mulai dari hal kecil, kita harus bisa membedakan antara narasi dengan nilai yang terkandung dalam novel untuk menghindari kesalahpahaman. Hanya karena novel dinarasikan dengan indah, bukan berarti tindakan tokoh juga dapat dibenarkan. Kita sebagai penikmat karya sastra juga perlu menghindari pengidolaan tokoh pelaku kejahatan karena secara sadar maupun tidak, akan membuat kita menormalisasikan dan membenarkan tindakan mereka. Daripada mengidolakan tokoh penjahat, kita bisa memberikan dukungan terhadap karya sastra yang mengangkat suara korban. Dalam menghadapi kekeliruan budaya populer, kita perlu lebih bijak dalam mengonsumsi budaya dan media populer serta menaikkan awareness terhadap konsumen kekeliruan budaya tersebut. 

Pada hakikatnya, proses akumulasi dari budaya keji ini dapat kita tekan dengan dimulai dari kesadaran diri untuk memberikan ruang aman—dalam konteks ini—bagi anak kecil yang terkena grooming, pencabulan, pelecehan, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris bangsa dan darah keluarga, sudah semestinya kita jaga dan sayangi. Mereka tidak pantas tumbuh dan berkembang dalam bayang-bayang luka dan trauma dari pedofil. Oleh karena itu, mari kita bahu-membahu memberikan rasa aman bagi korban dan tidak ragu untuk melaporkan kasus pedofilia.

Referensi

Manchot, P. (2017). Lolita: The Power of Narrative Voice. WordPress.
Nabokov, V. (1955). Lolita. Olympia Press . (Original work published 1955).
Nguyen, A., & Mai, J. (2017). Lolita Fashion. The Paris Review.
Ratna, L. (2020).Vladimir Nabokov’s Lolita: The Representation and the Reality Re-Examining Lolita In the Light of Research into Child Sexual  Abuse. IOSR Journal of Humanities and Social Science (IOSR-JHSS), 25(8), 22–31
Zgustova, M. (2024). Lolita is Nabokov: On the Parallel Histories of the Writer and His Most Famous Character. Lithub.
Sluzhevsky, Megan, “The Costs of Lolicon: Japan’s Pedophilia Trade” (2022). Senior Theses. 96. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top