Seputar LWAPS

Agenda saya pada siang hari ini (3 April 2026), selepas salat Jumat, yang panasnya mungkin mampu meluruhkan dosa-dosa mikro kita, adalah mencuci dan menjemur baju lantas melanjutkan memberikan komentar untuk salah satu naskah calon peserta Program Inkubasi Penulis Banyumas 2026 yang secara takdir memang saya kenal. Bukan menyunting ya. Setelah itu, kalau masih ada waktu sebelum magrib, niatnya saya akan coba membaca bahan kajian yang saya kumpulkan selama beberapa hari kerja kemarin.

Awal bulan kemarin saya dibebani dua kajian, yang deadline-nya untuk masuk ke atasan ya sekitar tanggal akhir pengiriman karya untuk kurasi jilid 2. April-Mei ini akan menjadi bulan yang edan. Minggu ini saja sudah dua kali saya melek lebih dari 24 jam tanpa putus. Tentu saja saya masih berkedip dalam periode tersebut.

Gara-gara seorang kawan saya mengirimi saya sebuah reels Instagram, saya membuka aplikasi tersebut. Sebelum saya membuka bagian direct message, mata saya tertambat pada salah satu postingan yang sepertinya baru saja diposting bilfest.id. Ya, benar saja. Mozaik Kanon yang saya tunggu sejak Lung Wening Asmaraningrat Pangruwating Sunya saya itu dimuat setelah lebaran, akhirnya terbit. Reaksi pertama saya adalah oh… oh… oh…, meminjam salah judul kisah pendek Idrus dalam kumpulan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma-nya. Seingat saya Mas Budi Warsito pendiri Kineruku sangat menyukai buku Idrus ini. Dia beberapa kali membeli buku Idrus terbitan lama berjudul sama ini dari saya. Ya, selain The Catcher in the Rye-nya Salinger. Ya itu dulu sekali zaman saya dan istri masih menyambung hidup via dodolan buku di Instagram.

Setelah saya membaca ulasan atas karya saya, perasaan saya gado-gado, atau alternatifnya nano-nano. Saya kecewa, sedih, senang dalam waktu yang sama. Memang saat saya membacanya, listrik di kos saya di gang kumuh ini tengah mati lampu. Saat saya menulis paragraf ini, nyala belum datang juga. Seusai membaca Mozaik Kanon edisi ini tentu saja hati saya bungah, itu pasti. Saya sudah sangat berterima kasih ada yang mau menghabiskan waktunya untuk membaca karya saya. Karya saya dimuat, diulas pula. Tentu saya gembira. Man lam yasykurin-naasa lam yasykurillaah!

Kalimat walaupun sebenarnya untuk membaca cerpen ini perlu perhatian khusus dari redaksi sejatinya mengonfirmasi kegelisahan saya. Saya memang selama ini, atau bahkan dari dahulu, gelisah. Saya khawatir karya saya tidak dapat atau tidak mudah dipahami oleh pembaca. Kalimat tadi membuat saya kecewa dengan diri saya sendiri. Namun, ini jauh lebih baik dari zaman dahulu, saat saya masih menjadi penyair, atau sopannya pseudo-penyair. Dahulu saya masih merasakan anxiety of influence yang luar biasa, meminjam judul buku kritik sastra Harold Bloom yang luar biasa itu. Saya dapat menangis hanya dengan membaca bab terakhir buku itu. 

Saya yang kini akan panjang lebar menjelaskan karya apa saja yang mempengaruhi cara saya berpikir maupun yang membentuk gaya kepenulisan saya, ya kalau saya boleh mengaku sebagai penulis ya. Saya yang kini akan dengan santainya bilang saya mau menulis seperti Philip K. Dick. Saya akan dengan santainya mengebulkan asap dari mulut saya dan berkata: kan nothing new under the sun. Karena ya demikian kan, ide pun saya pungut dari observasi saya atas orang-orang di sekitar saya dan pelbagai gerak-geriknya maupun tontonan sembarang kalir yang melewati kehidupan saya. 

Terkait gaya penulisan, upaya eksplorasi bahasa tentu akan membuat seorang penulis tersesat dan mbedani dari penulis lainnya. Yang penting tidak membuat bahasa sendiri maupun aksara sendiri. Kegiatan semacam ini tentu bentuk eksklusivitas penulis yang tidak jelas, yang saking pingin misteriusnya sampai tidak ingin karyanya dapat dipahami siapapun kecuali dirinya sendiri saat menuliskannya. Semoga saya tidak bertemu orang semacam itu, termasuk dalam diri saya sendiri. Naudzubillah min dzalik!

Kembali lagi ke kalimat tadi. Kalimat tadi jadi isyarat kuat bahwa saya harus belajar lebih banyak lagi dalam membangun narasi. Kalau bisa, upaya ini sendiri perlu percepatan, karena ya tadi itu, naskah Wah! saya harus selesai dan dikirim sebelum akhir Mei. Memangnya Presiden saja yang dapat dengan gagah bilang percepatan-percepatan dalam Inpres-Inpresnya. 

Naskah Wah! saya sejak kemarin malam sudah saya mintakan komentar atau masukan dari salah seorang kawan saya yang bacaannya hampir seluruhnya adalah fiksi spekulatif. Ya si F. itu, yang patah hatinya memberikan kunang-kunang inspirasi bagi saya untuk mengarang Di Hadapan Segelas Kopi, Lelaki itu Tersesat oleh Badai di Kepalanya. Ya semalam dia berjanji akan membantu saya, terutama memberikan masukan untuk narasi visualisasi untuk kisah pendek kesebelas saya dalam analekta Wah! itu. Kisah pendek kesebelas itu memang paling bikin stres. Stresnya melebihi stres dibebani dua kajian sekaligus sebagai lead

Di sini saya tidak hendak menjelaskan seluruh konten kisah pendek Lung Wening Asmaraningrat Pangruwating Sunya (LWAPS). Mari kita rayakan kelahiran pembaca dengan segala pemahaman yang dibentuk dari perjalanan hidup mereka masing-masing. Begitu kisah pendek tersebut tayang, hak saya sebagai pengarang telah mati. Di sini saya hanya memberikan keterangan pendek saja terkait judul dan paragraf terakhir kisah pendek tersebut.

Ide kisah pendek LWAPSadalah rasa muak sekaligus keinginan memberikan semacam tribute atas frasa dan kisah seputar Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang megah itu yang dikombinasikan dengan marginalia, atau coretan-coretan yang ditinggalkan di margin buku atau lembar teks.

Hampir seluruh kata dalam frasa Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu saya ganti, kecuali Pangruwating. Penggantian ini niatnya memang sebagai tanda halus, selain penggunaan nama Wisrawa dan Sukesi yang saya yakin akan memicu ingatan yang kental dari para pembaca kisah wayang. Ini bukan sastra atau kebijaksanaan, ini hanyalah sebuah lengkung di lengan. Ini bukan jendra milik milik dewa-dewa yang tak tergapai, ini hanyalah keheningan. Ini bukan hayuningrat atau keselamatan di dunia, ini hanyalah asmara di semesta. Ini tidak dimaksudkan untuk menyelamatkan dari diyu atau godlob atau angkara murka, melainkan untuk membebaskan dari kehampaan atau ketidakbermaknaan. 

Judul kisah pendek itu memang maksudnya langsung tertaut dengan paragraf terakhir. Bayangkan Wisrawa harus terjebak berdua dengan perempuan yang menyukainya, perempuan yang menyukai hal-hal romantis yang simbolis, di stasiun itu untuk entah berapa lama. Namun, dia tidak punya pilihan bukan? Dan dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Poor Wisrawa. Dia hanya dapat berharap.

Apabila tim redaksi menerjemahkannya dengan bebas menjadi perjalanan menuju kejernihan batin melalui cinta, yang meruwat diri dalam keheningan, tentu saya sangat berterima kasih sebesar-besarnya, seutuh-utuhnya. Alhamdulillah, karena saya sendiri tidak punya definisi panjangnya ha ha ha

Judul kisah pendek tersebut adalah bagian yang paling lama ditulis, mungkin waktu yang dihabiskan untuk menuliskannya sama lamanya dengan waktu untuk menulis keseluruhan konten kisah pendek tersebut. Saya sendiri telah mengubahnya puluhan kali. Saya tidak menyukai satu pun alternatif judul yang saya buat, termasuk judul final pada naskah yang saya kirim. Waktu luang yang berharga itu seharusnya saya pergunakan untuk memperbaiki narasi. Betapa bodohnya saya. Namun, apabila judul kisah pendek menjadi salah satu faktor redaksi dalam menayangkannya, sebagaimana disampaikan tim redaksi dalam Mozaik Kanon, tentu ini adalah twist yang menyenangkan. Terima kasih.

Bisa jadi definisi yang ditawarkan tim redaksi tadi justru memang definisi yang tepat dengan isi pikiran Wisrawa. Wisrawa hanya dapat berharap pada perjalanan menuju kejernihan batin melalui cinta, yang meruwat diri dalam keheningan. Kalau demikian saya harus berterima kasih sekali lagi, sebesar-besarnya, seutuh-utuhnya.

Demikianlah. Akhir kata, sebagaimana yang sering atau hampir selalu diucapkan Katheryne saat bertemu dengan kita: ad astra abbyssosque! Apa pun maknanya. Semoga tim redaksi bilfest.id sekeluarga sehat selalu. Barusan baca di Kompas kabarnya sudah ada 1.757 suspek campak di Jawa Tengah hari ini. Semoga Allah memberikan kita kesehatan dan menaburi jiwa kita dengan benih kesabaran apabila rasa sakit tengah menggerogoti kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top