Paradoks Pembangunan Berkelanjutan

Kita sering disuguhi istilah “pembangunan berkelanjutan” di podium-podium megah, dalam dokumen kebijakan, bahkan dalam doa-doa para pemimpin negeri. Tapi benarkah arah pembangunan kita selama ini sungguh-sungguh berkelanjutan? Atau jangan-jangan, istilah itu hanya menjadi selimut harum untuk menutupi luka menganga akibat kerakusan sistem? Di balik jargon yang mulia, terdapat tangan-tangan kotor kapitalisme yang tak henti mencabik bumi. Mereka bicara soal “keberlanjutan”, tapi yang tumbuh subur justru proyek-proyek yang melanggengkan ketimpangan dan memperparah kerusakan lingkungan.

Kapitalisme, dengan wataknya yang haus pertumbuhan, kerap tampil sebagai penumpang gelap dalam proyek pembangunan berkelanjutan. Mereka membangun dengan satu tangan, sambil menghancurkan dengan tangan yang lain. Di atas kertas, agenda pembangunan tampak mengutamakan keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Tapi realitasnya? Hutan ditebang demi perkebunan skala besar, laut diracuni limbah industri, tanah-tanah adat dijual murah demi investasi tambang. Semua ini dibungkus rapi dengan istilah ‘pertumbuhan hijau’. Padahal, yang hijau hanyalah logo perusahaannya, bukan niat mereka.

Yang lebih menggelisahkan, proyek-proyek besar ini justru seringkali memperlebar jurang sosial. Ketika negara sibuk menggaungkan pembangunan, sebagian rakyat justru dipaksa minggir dari tanahnya sendiri. Petani tergusur, nelayan kehilangan akses laut, masyarakat adat dilabeli penghambat kemajuan. Sementara para pengusaha dan pemilik modal terus menumpuk keuntungan. Mereka bisa membeli panel surya dan mobil listrik, sementara rakyat kecil hanya bisa membeli udara yang kian sesak. Di titik ini, keberlanjutan bukan lagi soal menjaga masa depan, tapi tentang siapa yang berhak hidup nyaman hari ini.

Lebih jauh lagi, kita sedang menyaksikan krisis ekologis yang membuktikan betapa rapuhnya janji pembangunan. Perubahan iklim makin ekstrem, bencana datang silih berganti, keanekaragaman hayati menyusut drastis. Tapi tangan kapitalisme tak kunjung mengendur. Mereka tetap menggali, tetap menebang, tetap menambang, seolah bumi ini bisa direplika. Paradoksnya terang benderang: demi “masa depan”, kita justru mempercepat kehancuran. Dan celakanya, mereka yang paling getol menyuarakan pembangunan berkelanjutan, seringkali adalah mereka yang paling banyak memetik untung dari kerusakan itu.

Meski begitu, kita tidak sedang menyerah. Di tengah semua ini, masih ada secercah harapan. Beberapa negara dan komunitas mulai beralih ke ekonomi sirkular, mulai memikirkan ulang sistem produksi dan konsumsi, mulai mendorong pendidikan kritis soal lingkungan. Memulai transisi energi berkeadilan (TEB) Tapi upaya ini butuh keberanian struktural: untuk mengevaluasi dan menghentikan kepada perusahaan perusak, untuk menolak proyek yang hanya menguntungkan elite, dan untuk membongkar mitos bahwa pertumbuhan ekonomi tak boleh berhenti. Kita butuh model pembangunan baru yang tak sekadar menambal, tapi sungguh-sungguh menyembuhkan.

Pada akhirnya, kita harus berani mengatakan bahwa pembangunan berkelanjutan yang digerakkan oleh sistem kapitalisme tak ubahnya mimpi yang diganggu kenyataan. Selama kekuasaan ada di tangan para pemodal dan oligarki, selama pembangunan dikendalikan oleh keuntungan jangka pendek, maka keberlanjutan hanyalah omong kosong. Kita sedang hidup dalam sebuah ironi: membangun masa depan dengan menghancurkan hari ini. Dan jika kita tak segera mengubah arah, mungkin yang akan kita wariskan bukan kesejahteraan, tapi reruntuhan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top