Wahai Penguasa, Dengarkan Suara Literasi dari Desa!

Gerakan literasi atau aktivasi literasi dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Sebuah gerakan yang bebas batasan gender, usia, ruang dan waktu tertentu. Dan seluruh sendi kehidupan memerlukan sebuah literasi sebagai dasarnya. Sesungguhnya banyak yang sudah dilakukan oleh masyarakat kita, sudah literat. Dalam hal ini adalah masyarakat desa. Hanya saja mereka tidak berteori akademik atau apa yang mereka lakukan tidak terdokumentasikan atau terarsipkan sebagaimana aktivitas literasi yang kita kenal sekarang ini.

Masyarakat desa tanpa berteori lingkungan hidup, mereka sudah tahu bagaimana hidup dengan alam, bukan sekedar memanfaatkan alam untuk kehidupannya. Tidak sekedar eksploitasi alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sekarang, namun apa yang dilakukan juga memikirkan keberlangsungan hidup generasi anak-cucunya yang akan datang.

Gerakan literasi yang dilakukan di kota, yang sekarang ini aktivitasnya bisa terkampanyekan melalui media sosial, mempengaruhi juga masyarakat yang ada di desa. Terutama bagi masyarakat desa yang memiliki akses informasi ke dunia luar. Orang-orang kota, nampaknya terlihat lebih mudah untuk mengakses sumber-sumber daya dalam melancarkan visi gerakannya. Hingga pada suatu ketika, ada rasa kecemburuan oleh masyarakat desa.

Katakan untuk sebuah kegiatan yang sifatnya seremonial saja, orang kota yang secara geografis lebih dekat dengan pemangku kebijakan, akan lebih mudah menggedor pintu ruangan para penguasa. Sedangkan para penggerak literasi yang berada di desa, hanya bertemu dengan para penguasa hanya saat momen tertentu saja. Saat pemilu misalnya.

Tidak menampik bahwa gerakan literasi di kota ada nilai yang dibawa. Sebagaimana gerakan literasi di desa. Hanya saja, gerakan literasi di desa lebih banyak tantangan yang harus di hadapi. Terutama dalam akses sumber daya dan sumber dana untuk mendukung visi gerakan literasi ke masyarakat.

Memang salah satu strategi gerakan literasi di desa adalah partisipasi masyarakat secara langsung. Baik dari segi fisik, moral dan finansial. Akan tetapi, dukungan dari pemangku kebijakan juga sangat dibutuhkan. Sehingga nilai-nilai pendidikan, pemberdayaan dan pembebasan dalam gerakan literasi di desa akan terus bisa hidup. Masyarakat desa paham akan nilai-nilai gerakan literasi yang dibawa. Bahkan mereka tidak begitu peduli tentang seremonial dan gebyar. Yang mereka butuhkan adalah dampak nyata akan adanya gerakan literasi yang ada di lingkungannya.

Sebenarnya gerakan literasi dan masyarakat di desa tidak menuntut banyak kepada para penguasa. Mereka terbiasa gotong-royong menata batu untuk dijadikan jalan. Atau merangkai bambu untuk jembatan. Mereka hanya mengajak para penguasa untuk bergotong-royong bersama dalam pemajuan di desanya, yang merupakan bagian dari bangsa ini.

Masyarkat desa tidak semuanya terbelakang atau masyarakat kecil. Hanya saja mereka ingin berupaya untuk kehidupan yang lebih baik untuk generasinya. Mereka tidak akan sedih mengingat dulu tidak bisa sekolah atau bersepatu. Hanya makan nasi jagung atau sagu. Tapi mereka berupaya sekuat tenaga, supaya hal itu setidaknya tidak terjadi kepada anak-cucu. Mereka tidak marah, hanya cemburu. Kenapa yang maju, hanya yang itu-itu.

Wahai para penguasa, kami mengetuk pintumu. Mari bersama-sama memajukan bangsa ini untuk kebahagiaan anak cucu. Bukan sekedar hadir dan bawa uang. Tapi hadir membawa harapan dan kepastian.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top