
Bulan September adalah bulan dimana al-fatihah lebih banyak dipanjatkan. Kalau September tahun ini, bertambah karena bertepatan dengan bulan kelahiran Baginda Nabi Muhammad Saw. Setelah itu, al-fatihahnya untuk yang lainnya. Para pejuang kemanusiaan dan kebenaran.
***
Bulan September 2012. Siang hari saat gerimis menghiasi batas Kota Yogya dan Kabupaten Bantul, aku sedang duduk dan membolak-balik sebuah novel bersampul biru. Di sampul itu bertuliskan “Menanam Padi di Langit”. Isinya kisah tentang tiga perupa (Bob, Tedy dan Toni) karya Puthut Ea.
Belum tuntas buku itu kubaca, seseorang muncul di depan pintu dengan jas hujan. Rambutnya basah. Bajunya agak kusut namun tetap rapi. Tas gendong ala mahasiswa pecinta alam masih nangkring di pundaknya. Badannya terlihat subur sepulang dari kuliah S2 di Amerika. Sambil merapikan rambutnya, dia mendekatiku.
“Baca apa bro?”, sapanya pertama kali. Bukan salam atau tanya kabar.
“Ngga tau, buku apa ini, tak baca karena sampulnya bagus aja”, jawabku sambil meletakkan buku bersampul biru itu, lalu menuju ke dapur untuk membuatkan orang yang baru datang itu minuman hangat.
***
Meskipun internet belum seabreg sekarang informasinya, tapi pada tahun itu aku sudah mulai banyak dengar tentang cerita peristiwa penting. Terutama cerita tentang perjuangan dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Cerita itu berasal dari teman-teman yang secara usia lebih jauh dariku. Juga dari membaca beberapa buku.
“Keren juga ya, bisa menanam padi di langit”, kataku membuka obrolan. Temanku ini melirik kearahku. “Kamu juga bisa, tapi bukan menanam padi, melainkan baca buku di langit”.
“Memang ada yang membaca buku di langit?”, tanyaku sambil tetap membolak-balik buku bersampul biru itu.
“Ada. Munir itu membaca buku di langit”.
***
Obrolan kami berjarak 8 tahun setelah pejuang HAM itu meninggal dunia di atas pesawat dalam perjalanannya menuju Amsterdam. Temanku itu lalu menceritakan tentang siapa Munir Said Thalib dan perjuangannya. Secara usia, temanku itu mungkin pernah bertemu langsung dengan Munir. Karena sama-sama aktivis dan bolak balik Yogya-Jakarta.
Dia membuka laptopnya. Sambil menunggu loading, dia memberiku sebuah nasehat untuk terus membaca. Bahkan jika esok pagi adalah hari “kiamat”. Tetaplah membaca. Karena membaca adalah tindakan yang benar. Seperti Munir. Meskipun harus nyawa taruhannya, harus tetap pada jalan kebenaran. Biar langit yang menjadi saksinya. Biar langit jadi saksi, bahwa kamu meskipun di langit, tetap membaca. Tetap berada di jalur kebenaran.
Aku hanya bisa manggut-manggut. Meskipun pada waktu itu belum tahu siapa itu Munir. Tapi gambaranku adalah Munir orang baik dan benar. Meskipun akhirnya harus berhenti di langit, menuju Amsterdam.
***
Setelah 21 tahun peristiwa di langit itu, dan setelah 13 obrolan kami, setiap masuk bulan September ingatanku adalah tentang September yang kelam. Dari kematian Munir yang sampai sekarang menyisakan tanya, ditambah rentetan peristiwa kelam lain. Dari peristiwa pembantaian jendral pada 30 September tahun 1965 (G30S PKI), adalagi konflik Tanjung Priok tahun 1984 pada tanggal 13 September, peristiwa Semanggi II tanggal 24 September 1999, hingga pembunuhan Salim Kancil tanggal 26 September tahun 2015, dan pembunuhan Pendeta Yeremia pada tanggal 19 September 2020 karena sikap kritisnya terhadap aparat.
Khusunya peristiwa tanggal 26 September 2015 yang menewaskan Salim Kacil –sang pahlawan lingkungan– sulit untuk aku lupakan. Salim Kancil adalah petani kecil di Lumajang yang menolak tambang pasir yang merusak pertanian di desanya. Ia tewas setelah dikeroyok puluhan orang di balai desanya, Selok Awar-awar. Salim Kancil berjuang karena sawahnya rusak karena aktivitas tambang pasir yang serampangan.
Membaca kisah Salim Kancil yang berhadapan dengan kepala desa dan antek-anteknya yang buas membuat dada ini menjadi sesak. Bahkan aku pernah menangis saat mendengar penuturan istrinya,
“Pak Salim itu buta huruf dan baca, tapi dia tidak buta mata hatinya”.
***
Saat membaca rentenan kisah mereka, kisah yang memperjuangkan kebenaran, menjadikan apa yang disampaikan temanku itu benar. Aku harus terus membaca buku sampai di langit. Karena kebenaran di negara ini sudah jauh melambung tinggi. Yang diharapkan penguasa hanyalah situasi yang kondusif. Bukan benar. Al-fatihah sekali lagi untuk para pejuang kebenaran. Semoga para penerusnya tidak ada yang di-Munir-kan atau di-Salim Kancil-kan.

Editor in Chief bilfest.id | Pekerja Teks Komersial.




