
Telaah Buku Islam dan Doktrin Peradaban karya Nurcholis Madjid
Alam semesta, sejak awal peradaban manusia, senantiasa dipandang bukan sekadar ruang kosong yang dipenuhi benda-benda mati. Dalam bahasa Yunani ia disebut kosmos, yang berarti harmoni dan keteraturan; sementara dalam bahasa Arab disebut ‘alam, satu akar dengan kata ‘ilm (pengetahuan) dan ‘alāmah (tanda). Dari sini kita segera melihat, betapa jagat raya bukanlah kebetulan, melainkan tanda-tanda yang menunjuk pada keberadaan Sang Pencipta. Nurcholish Madjid, dengan kerangka pemikirannya yang tajam, menegaskan bahwa alam adalah ayat-ayat Tuhan, suatu teks kosmik yang dapat dibaca manusia, untuk menemukan keserasian, keteraturan, dan tujuan yang melekat pada ciptaan. Maka, kosmos (cosmos) bukanlah chaos, keteraturan bukanlah kekacauan, dan keberhikmahan bukanlah kesia-siaan.
Kesadaran ini membimbing kita kepada pemahaman teologis: bahwa segala sesuatu diciptakan dengan maksud, mengemban tujuan universal, sebagaimana ditegaskan Ismā‘īl al-Fārūqī bahwa alam bukanlah permainan atau hasil kebetulan, melainkan diciptakan dalam kondisi terbaik, setiap bagian menjalankan fungsinya sesuai ukuran. Di sini terbentang satu prinsip fundamental: jagat raya adalah wujud berhikmah, dan hikmah itu mencerminkan sifat Sang Maha Pencipta yang Maha Pengasih dan Penyayang. Tidaklah mengherankan bila Al-Qur’an mengaitkan renungan kosmik dengan sikap religius yang mendalam, sebagaimana doa para ulul albab yang, setelah merenungi langit dan bumi, berujung pada permohonan perlindungan dari api neraka. Seakan ada pesan bahwa pengingkaran terhadap hikmah kosmos berujung pada kesesatan eksistensial.
Namun keteraturan itu tidak berdiri sendiri. Keharmonisan alam lahir dari hukum pasti, yang dalam Al-Qur’an disebut qadar atau taqdīr, dan dalam istilah lain dikenal sebagai sunnatullāh. Hukum ini adalah ketetapan Allah yang tidak berubah, menjadikan ciptaan-Nya berjalan dalam kepastian dan konsistensi. Dengan menyadari hukum ini, manusia dapat membaca jagat raya bukan hanya dengan mata iman, tetapi juga dengan nalar ilmiah. Maka keteraturan kosmik sekaligus menjadi panggilan bagi manusia untuk berpikir, menyingkap pola, dan mengambil pelajaran.
Dalam konteks inilah, peran akal menemukan kedudukannya. Akal, kata Nurcholish, bukanlah pencipta kebenaran, melainkan sarana untuk memahami kebenaran yang sudah ada dalam realitas ciptaan. Karena itu, akal adalah alat penyingkap, bukan pembuat. Tidak mengherankan bila sejak masa klasik lahir para ilmuwan muslim seperti Al-Bīrūnī atau Al-Khawārizmī yang membaca hukum-hukum Tuhan di alam semesta dengan bahasa matematika dan eksperimen. Ibnu Taimiyah bahkan menegaskan bahwa hakikat ada pada kenyataan luar, bukan semata dalam pikiran—sebuah prinsip yang sejalan dengan semangat sains empiris. Tetapi bagaimanapun, ilmu manusia hanyalah secuil dari keluasan ilmu Allah. Setiap pencapaian intelektual selalu terbuka untuk dikoreksi, sebagaimana teori Newton tergantikan sebagian oleh teori Einstein. Di atas segala pengetahuan, selalu ada Dia Yang Maha Mengetahui.
Kesadaran ini menuntun manusia pada doktrin taskhīr, yakni keyakinan bahwa alam dijadikan lebih rendah agar dapat dimanfaatkan manusia. Tetapi pemanfaatan itu bukanlah eksploitasi buta. Manusia adalah khalifah, wakil Allah di bumi, sehingga tanggung jawabnya tidak hanya menguasai, melainkan juga menjaga, merawat, dan menjadikan alam sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Dengan kata lain, manusia dituntut memiliki sikap apresiatif, bukan sekadar utilitarian.
Di titik ini tauhid memainkan peranan kunci. Tauhid menolak segala bentuk pengkultusan terhadap gejala alam yang melahirkan mitologi-mitologi palsu, sebagaimana pernah hadir dalam sejarah manusia. Keimanan yang benar adalah kepada Allah, Pencipta langit dan bumi, bukan kepada sosok-sosok fiktif hasil imajinasi manusia. Maka, ilmu pengetahuan sejati akan senantiasa menegaskan kerapuhan mitos-mitos semu, sebab hanya Tuhan-lah sumber makna dan tujuan.
Namun, tauhid tidak berarti mengabaikan kedekatan manusia dengan sesama makhluk. Al-Qur’an mengingatkan bahwa binatang melata maupun burung yang terbang adalah umat-umat seperti manusia juga, sama-sama makhluk Allah. Bahkan langit, bumi, dan segala isinya bertasbih kepada-Nya, meski manusia tidak selalu memahami tasbih itu. Dengan kesadaran ini, manusia diajak untuk menundukkan ego, menempatkan diri bukan sebagai penguasa absolut, melainkan sebagai bagian dari harmoni kosmik yang tunduk kepada Sang Pencipta.
Karena itu, tugas manusia bukanlah merusak, melainkan memperbaiki (iṣlāḥ), bukan menciptakan kerusakan (fasād), melainkan menyertai alam dalam bertasbih kepada Allah. Di sinilah letak kedalaman pemikiran Nurcholish Madjid: ia melihat hubungan Tuhan, manusia, dan alam semesta dalam ikatan teologis yang utuh. Tuhan adalah Pencipta yang penuh maksud, alam adalah tanda-tanda yang berhikmah, dan manusia adalah khalifah yang ditugaskan membaca, menjaga, dan mengembangkan ciptaan itu. Kesatuan pandangan ini bukan hanya membentuk dasar iman, tetapi juga memberikan arah bagi etika ekologis dan tanggung jawab peradaban.
Sumber: Nurcholish Madjid, Islam dan Doktrin Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan Kemanusiaan, dan Kemodernan, Tahun 1995, cet. III, Yayasan Wakaf Paramadina (Jakarta), hal. 286-296

Alvin Qodri Lazuardy, sedang berproses menjadi pendidik, penulis, dan penggerak literasi Islam-lingkungan. Ia berfokus pada kajian worldview Islam, filsafat pendidikan Islam, ekoliterasi, dan kepesantren. Aktif menulis di bilfest.id, suaramuhammadiyah.com, pwmjateng.com, Ibtimes.id serta mengelola Alfuwisdom Publishing di Yogyakarta.




