
Panggung musik, yang semestinya menjadi ruang perjumpaan riang, tiba-tiba berubah menjadi gelanggang etika. Pestapora 2025 bukan sekadar festival, melainkan cermin retak dari hubungan antara seni, kapital, dan bumi yang terluka. Saat belasan musisi memilih mundur karena sponsor PT Freeport Indonesia, kita seakan diingatkan: harmoni musik tak bisa begitu saja menutupi disharmoni ekologis.
Musisi, pada hakikatnya, adalah penutur zaman. Ketika sebagian menolak tampil, itu bukan sekadar “aksi mogok manggung,” melainkan pernyataan moral bahwa seni tak boleh bersekutu dengan pengerukan tanah yang melukai gunung dan mengeruhkan sungai. Mereka mengajarkan kita, diamnya gitar di panggung justru bisa lebih nyaring daripada ribuan watt pengeras suara.
Namun, inilah ironi kita. Di kota, musik festival kerap menjadi ruang eskapisme, tempat orang muda melupakan sesaknya hidup. Tetapi di tanah Papua, suara mesin tambang tak pernah bisa dipelankan. Bisingnya ekskavator jauh lebih mengerikan daripada distorsi gitar. Maka, penolakan para musisi itu bukan sekadar pilihan personal, melainkan solidaritas ekologis.
Tetapi, apa arti solidaritas dalam dunia yang dikuasai sponsor? Dunia seni, sebagaimana dunia politik, sering tergoda oleh kompromi. Bukankah banyak yang akhirnya tetap tampil, dengan dalih “demi penonton?” Kita pun dihadapkan pada paradoks: bagaimana menjaga kemurnian seni, bila panggungnya sendiri sudah disangga oleh modal yang melukai bumi?
Freeport, dalam imajinasi publik, bukan sekadar nama korporasi, melainkan simbol. Simbol tentang bagaimana tanah adat bisa disulap menjadi angka-angka laba. Simbol tentang bagaimana suara alam ditenggelamkan demi simfoni mesin industri. Ketika logo perusahaan itu berdiri di samping logo festival, kita seakan dipaksa merayakan pesta di atas luka ekologis.
Dan di situlah tragedi kita. Musik, yang mestinya menjadi jalan pembebasan, justru harus menari di antara jebakan kapital. Para musisi yang mundur menanggung risiko: kehilangan panggung, mungkin juga kehilangan penghasilan. Tetapi dari keberanian itu, lahirlah pesan bahwa panggung sejati bukanlah di bawah sorot lampu LED, melainkan di ruang batin yang masih berani menolak.
Pestapora tahun ini akhirnya menghadirkan paradoks yang pahit: pesta musik yang justru memperlihatkan betapa rapuhnya posisi seniman di hadapan modal besar. Namun, mungkin justru di situlah letak kemenangan: ketika seniman berani menolak, ketika bunyi gitar digantikan oleh gema hati nurani. Dari situlah kita belajar, musik bukan hanya hiburan, melainkan juga perlawanan.
Penulis dan penggerak literasi dari Banyumas. Ia aktif menginisiasi forum baca dan diskusi sastra. Karya-karyanya mencerminkan kepedulian sosial dan lingkungan. Melalui puisi dan esai, ia menjadikan literasi sebagai ruang perjumpaan, pembebasan, dan pemberdayaan masyarakat secara inklusif.




