Diam Bukan Emas: Fenomena Kuburan di Ruang Kelas

Sebagai orang yang sejak kecil hingga besar hidup, tumbuh, dan mengenyam bangku sekolah di Indonesia, sering kali saya atau mungkin sebagian dari kita cukup akrab dengan fenomena kebisuan dan keheningaan di dalam kelas. Fenomena ini sering dijumpai pada saat guru atau pendidik melontarkan ungkapan, “Silakan, ada yang mau bertanya?” atau ungkapan yang sejenis dengannya. Sebuah perkataan yang mematikan. Sebuah pertanyaan yang membuat seisi kelas terdiam membisu, seketika kaku dan membeku. Seolah-olah ruang kelas tetiba menjadi sebagaimana pemakaman yang sunyi dari kata, ucapan, maupun gerakan. Eits, tapi tak semenakutkan kuburan juga kok…

“Sebenarnya fenomena semacam ini wajar atau tidak sih?” Pertanyaan ini diam-diam muncul dan seketika membuat saya bingung dan limbung. Sebenarnya fenomena demikian hanya saya temukan di lingkungan pendidikan saya, ataukah mungkin teman-teman di sana juga mengalami kesunyian yang mencekam di saat momentum bertanya dipersilakan. Momentum yang sangat dramatis, meski sedikit mistis (karena hanyalah kesunyian yang mengada). Jika anda pernah suatu waktu mengalaminya, bagilah pengalaman anda di kolom komentar ya…

Penyebab dari fenomena demikian, pada dasarnya sangatlah beragam. Di antara lain, ketakutan akan penilaian/prespektif negatif, kurangnya pemahaman awal saat pendidik memberikan pengantar materi, model pembelajaran yang pasif, dan gaya mengajar guru yang hanya satu arah dan lain-lain. Barangkali bisa lebih jamak lagi faktornya.  Jadi persoalan dalam pendidikan memang benar-benar kompleks, tidak bisa selesai hanya dengan artikel singkat ini. Oleh karena itu, kita saling berbagi dan belajar bersama.

Prespektif lain tentang bertanya

Suatu waktu, selepas membaca buku “Sekolah Merdeka” karya Y.B. Mangunwijaya, saya dilabrak oleh sudut pandang baru atau prespektif baru, yang bagi saya sesegar buah semangka di saat terik matahari menerpa. Nyesss… Seger… Semongko… Mungkin pandangan ini terdengar tidak teramat familiar dan terkesan underdog. Pandangan yang ditawarkan oleh “Sekolah Merdeka” adalah murid atau mitra didik yang cerdas bukanlah mereka yang mampu menjawab sekian banyaknya soal atau pertanyaan. Melainkan mereka yang mampu membuat dan melayangkan pertanyaan yang tepat dan dengan bahasa yang tepat. Gimana guys, cukup asing dan nyeleneh kan?

Kebanyakan dari kita, pastinya berpandangan sebaliknya. Anak yang cerdas adalah mereka yang sanggup menjawab berjibun pertanyaan dan persoalan. Tapi hal itu dimentahkan oleh buku “Sekolah Merdeka”. Bagi saya pribadi, anak yang bisa menjawab beragam pertanyaan adalah orang yang tahu, mengerti, dan paham akan suatu hal. Akan tetapi pahamnya hanya sampai situ saja (terkait apa yang disampaikan oleh guru). Berbeda dengan anak yang bertanya. Bisa jadi anak yang bertanya justru pemahamannya selangkah lebih maju. Ia memahaminya, lantas memikirkannya, merenunginya, berkontemplasi dan kemudian menemukan suatu kejanggalan (yang mungkin disebabkan adanya perbedaan teori dengan praktik nyata di lapangan) selanjutnya ia berani melontarkan sekuntum pertanyaan.

Sayangnya, di ruang-ruang kelas, justru kesempatan bertanya yang diberikan guru menjadi momentum mengheningkan cipta. Kalau tidak mengheningkan cipta, yo suasanane ki wes sampai titik sewelas-rolas karo kuburan lah. Dengan kata lain ruang kelas menjelma tak ubahnya pemakaman. Tidak adanya mitra didik yang bertanya berkemungkinan dua hal: paham dan tidak paham sama sekali atas apa yang telah guru jelaskan panjang-lebar. Bukankah teramat sayang jika guru sudah menerangkan mati-matian, tapi sebagian mitra didik ada yang belum paham dan tidak mau melontarkan pertanyaan? Entah karena takut dimarahin, disangka tidak memperhatikan, dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya.

Bahaya hilangnya tradisi bertanya

Impact dari hilangnya peradaban bertanya adalah mitra didik menjadi kurang kritis atau mungkin bisa jadi tidak kritis sama sekali dengan pelajaran. Dampak jauhnya lagi bisa menjadikan mitra didik tidak tanggap dengan hal-hal yang sedang dialaminya sendiri, dengan permasalahan yang ada di depannya, dan behkan ketakutan dalam menjalani kehidupan. Ia tidak terbiasa memikirkan terlebih dahulu apa yang sudah didapatkannya baik pelajaran di dalam kelas, maupun pelajaran di luar kelas. Hal ini disebabkan karena mitra didik tak ubahnya serupa bejana kosong yang oleh pendidik hanya dicekoki dan dipenuhi dengan pelajaran-pelajaran.

Mitra didik hanya dijadikan sebagai objek pembelajaran. Mereka tidak dibimbing untuk berfikir dan bertanya serta mengungkapkan perasaannya. Keberanian untuk bertanya adalah suatu nilai yang luhur. Sekurang-kurangya mitra didik yang wani takon adalah ia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Maka, saya menyebutnya dengan pemberani. Mental berani dan tidak takut dengan konsekuensi yang timbul nantinya adalah salah satu logistik hidup yang tergolong primer.

Untuk itu, perlu rasanya kita menghargai setiap anak-anak yang bertanya. Degan niat menumbuhkan keberanian anak dan keterampilan berbicaranya serta melatih berfikirnya. Dari sini, saya pribadi juga menjadi paham, bahwa tidak selamanya diam itu emas. Justru bertanya, mengungkapkan ide dan perasaanya dalam konteks pembelajaran adalah emas yang sesungguhnya.

1 komentar untuk “Diam Bukan Emas: Fenomena Kuburan di Ruang Kelas”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top