
Suatu malam, akhirnya saya memberanikan diri untuk menghubungi beliau via WhatsApp. Beliau seorang kyai. Pondoknya masih satu RT dengan rumah saya. “Saya ingin sowan ke pondok”, begitu isi pesan saya. Beberapa menit ada balasan: monggo.
Tepat jam 8 malam saya sudah duduk di ruang tamu pondok. Dan rupanya malam itu santri sedang merayakan Hari Santri. Jadi selain ada suguhan kopi hitam yang pahitnya pas, ada juga suguhan upacara Hari Santri. Sambil upacara, mereka juga membuat api unggun, mengucapkan janji santri dan bersama menyanyikan Mars Hari Santri. Entah apa maksudnya, mungkin sebagai simbol semangat berapi-api para santri dalam meneruskan perjuangan bangsa.
***
Setelah upacara selesai, saya akhirnya bisa sowan ke kyai. Kami bertemu 4 mata. Lalu saya utarakan apa yang menjadi gemuruh di dalam dada. Sebuah keresahan sebagai seorang manusia biasa.
Keresahan dan gemuruh itu tentang ibadah wajib yang saya jalani sebagai seorang muslim. Sholat.
Saya menyampaikan kepada beliau, bahwa saya ingin memiliki keistiqomahan dalam sholat. Keistiqomahan yang saya maksud adalah dari segi pelaksanaan, supaya tidak bolong. Itu saja sebenarnya. Belum berani menanyakan bagaimana sholat yang berkualitas?
***
Saya curhat selama beberapa tahun belakangan ini, saya rajin sholat jika dilihat oleh orang. Terlebih sekarang saya lebih sering dimintai jadi imam jika sholat berjamaah di masjid.
“Apakah sholat saya ini hanya kepalsuan belaka?”, begitulah salah satu pertanyaan retoris saya kepada beliau. Saya hanya rajin sholat ketika ada banyak orang. Namun saat sendiri, sholatnya bisa nanti, bahkan lali.
Curhatan saya cukup lama sebenarnya, karena kopi yang jadi suguhan, sampai tersisa ampas.
***
Setelan itu, dengan saya tetap menunduk, dan sesekali menatap beliau, mendengarkan apa yang beliau sampaikan tentang curhatan saya.
Beliau mengatakan bahwa untuk saat ini tidak masalah jika kita sholat karena publik, karena dilihat orang. Dan menjadikan publik sebagai guru. Bukan bermaksud riya’ atau pamer. Ini perkara lain. Publik kita jadikan sebagai kontrol keimanan kita. Begitulah kira-kira bahasa yang saya tangkap.
Perkara sholat diterima atau tidak, itu bukan wilayah kita sebagai manusia. Namun kita bisa mulai belajar bagaimana sholat yang berkualitas itu.
Tentang sholat yang berkualitas itu seperti apa, ya besok kalau saya sudah diizinkan untuk berguru kepada beliau, akan saya tanyakan.
***
Untuk saat ini, akkhirnya guru saya adalah publik. Meskipun keimanan terletak pada hati, tapi aktualisasinya juga harus dilakukan. Yaitu sholat. Menjadikan publik sebagai “guru”, supaya kita bisa rajin sholat, menurut saya bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan itu tahapan awal dalam menjalani kehidupan yang beriman.
Toh apa yang mau dipamerkan? kan kalau soal sholat semua umat Islam bisa melakukannya, bukan?
Sholat adalah perbuatan dunia, karena dilakukan saat kita masih hidup. Dan kita hidup di tengah-tengah masyarakat, di dunia.
Kalau sholat rajin karena merasa dikontrol oleh publik, ya anggap saja bukan riya’. Tapi jalan awal untuk kita memulai menunaikan kewajiban. Daripada merenungkan lama-lama dan mencari-cari makna sholat, tapi malah tidak menunaikannya. Yang penting jalani, isitiqomah dan semampunya karena itu yang kita bisa, begitu pungkasnya.
Saya pulang dengan hati tenang. Tersenyum karena dada jadi lebih lapang. Dan akhirnya tetap menjalani kewajiban, tanpa perlu banyak bertanya. Dan menjalaninya dimana saja, meskipun tidak ada siapa-siapa.

Editor in Chief bilfest.id | Pekerja Teks Komersial.




