
Dalam sejarah spiritual Islam, nama Rabi’ah al-Adawiyah hadir sebagai anomali yang lembut namun mengguncang. Ia tidak menawarkan teologi yang rumit, tidak pula membangun sistem ibadah yang teknokratis. Yang ia wariskan justru sesuatu yang paling sulit dijalani: cinta kepada Tuhan tanpa kepentingan. Buku “Cinta Cinta Cinta” merekam dengan jernih bagaimana cinta ilahi, dalam pandangan Rabi’ah, tidak berangkat dari rasa takut akan neraka, juga tidak digerakkan oleh hasrat atas surga.
Di tengah tradisi keberagamaan yang sering kali berwatak transaksional, ibadah sebagai alat tukar pahala. Rabi’ah mengajukan pertanyaan radikal: apakah Tuhan pantas dicintai karena balasan, atau karena Dia memang layak dicintai? Pertanyaan ini bukan sekadar spiritual, melainkan etis. Ia menggugat cara manusia memposisikan Tuhan sebagai objek kepentingan, bukan tujuan cinta.
Rabi’ah dikenal melalui doa-doanya yang terkenal: bila ia menyembah Tuhan karena takut neraka, biarlah ia dibakar di dalamnya; bila karena mengharap surga, biarlah ia diharamkan darinya. Namun bila ia menyembah Tuhan semata karena cinta kepada-Nya, maka janganlah Tuhan menyembunyikan keindahan-Nya darinya. Doa ini bukan retorika ekstrem, melainkan pernyataan kemurnian niat. Dalam logika cinta Rabi’ah, kepentingan sekecil apa pun adalah noda bagi ketulusan.
Buku “Cinta Cinta Cinta” menampilkan tasawuf bukan sebagai pelarian dari dunia, tetapi sebagai pendalaman makna ibadah. Cinta ilahi tidak meniadakan amal, justru memurnikannya. Ibadah tidak lagi dihitung berdasarkan jumlah dan ganjaran, melainkan kualitas kehadiran hati. Dalam cinta, kepatuhan tidak dipaksakan; ia mengalir secara sadar dan sukarela.
Romansa ilahi yang diajarkan Rabi’ah juga membebaskan manusia dari ketakutan yang berlebihan. Takut yang mendominasi justru melahirkan kepatuhan semu, taat di luar, resah di dalam. Rabi’ah menggeser pusat spiritualitas dari ketakutan menuju keintiman. Tuhan tidak didekati sebagai hakim yang menunggu kesalahan, melainkan sebagai Kekasih yang layak dicintai sepenuh jiwa.
Dalam konteks keberagamaan kontemporer, gagasan ini terasa semakin relevan. Di era ketika kesalehan mudah dipamerkan, ibadah sering menjadi simbol identitas sosial. Cinta Rabi’ah justru sunyi, tidak membutuhkan pengakuan, dan tidak haus validasi. Ia menolak menjadikan Tuhan sebagai sarana untuk citra diri, status moral, atau keuntungan duniawi.
Romansa ilahi tanpa kepentingan bukan berarti menafikan harapan dan rasa takut sama sekali, melainkan menempatkannya bukan sebagai motif utama. Harap dan takut hadir sebagai konsekuensi iman, bukan sebagai penggerak cinta. Dengan demikian, relasi manusia dengan Tuhan menjadi dewasa: bukan relasi dagang, tetapi relasi penghambaan yang intim dan jujur.
Pada akhirnya, ajaran Rabi’ah al-Adawiyah mengingatkan bahwa puncak spiritualitas bukanlah seberapa banyak yang diminta manusia dari Tuhan, melainkan seberapa tulus ia mencintai-Nya. Cinta yang tidak menawar, tidak menghitung, dan tidak menuntut. Inilah romansa ilahi yang paling murni, cinta yang berhenti pada Tuhan, bukan pada kepentingan.
Abdul Chamid lahir di Banyumas tahun 1999. Ia saat ini menempuh pendidikan Magister Ekonomi Syariah di Pascasarjana UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto dan aktif berorganisasi di Ansor. Memiliki minat besar pada interaksi sosial, ia juga telah mempublikasikan karya tulis di Jurnal Filantropi UIN SAID Surakarta. Ia dapat dihubungi melalui Instagram @alchamied.




