
Kita awali dengan mengingatkan kembali bahwa pendidikan (sekolah) bukanlah sebuah kewajiban bagi kita. Pendidikan adalah hak kita sebagai warga negara. Jika pendidikan itu hak, kewajiban ada pada siapa? Penyelenggaraan pendidikan yang layak, humanis, berkualitas, mampu beradaptasi dan mampu berinovasi dengan kemajuan zaman adalah kewajiban pemerintah atau penyelenggara negara. Lalu letak kewajiban kita pada apa? Letaknya ada pada belajar.
Penyelenggaraan pendidikan yang layak dan berkualitas terdiri dari dua hal. Dari segi infrastruktur fisik dan non fisik. Pembangunan infrastruktur fisik sudahlah masif dilakukan. Sehingga sekarang jarang sekali kita melihat bangunan sekolah yang miring atau atapnya yang bocor. Jika ada, hanya satu atau dua saja. Jika hal itu ada, lalu terangkat di media sosial dan viral, akan merembet kemana-mana, yang malu adalah pejabat daerahnya. Kalau masih punya rasa malu dan empati.
Pembangunan infrastruktur fisik pendidikan adalah salah satu wajah keberhasilan pemimpin suatu daerah sampai tingkat nasional. Sehingga ada yang bisa mereka banggakan dan mereka sampaikan sebagai sebuah pencapaian kepemimpinan. Namun yang perlu diperhatikan kembali, adalah pembangunan infrastruktur non fisik.
Sudahkah kualitas pendidikan kita diperhatikan secara serius oleh pihak yang terkait? Dari segi pembelajaran, materi, kualitas kehidupan guru (honorer) dan segi pengembangan kemampuan peserta didik. Perlunya kita melihat secara keseluruhan, karena semuanya saling keterkaitan.
Jangan sampai lembaga pendidikan hanya menyelenggarakan proses pendidikan dari hari Senin sampai Sabtu, dari jam 7 sampai jam 1, setelah itu, tidak ada urusan. Tidak ada nilai yang di hasilkan sekeluarnya dari kelas. Padahal nilai kehidupan bukan angka-angka yang ada di lembar KKM. Jika sekolah hanya dianggap sebagai rutinitas dan formalitas, hanya akan menjadikan generasi bangsa kita sekedar mengisi waktu saja. Nampak berseragam dari pagi sampai siang, lalu membawa tas ke sekolah. Tanpa ada dampaknya, pulang sekolah seolah tanpa harapan. Lalu apa itu sebuah pendidikan sudah berjalan dengan baik?
Memang, masa depan setiap individu adalah tanggung jawab masing-masing. Namun dalam hal ini, kita sebagai bagian dari sebuah bangsa, menuntut haknya. Menuntut sekolah yang menyenangkan tidak menyeramkan. Sekolah yang cerah bukan marah. Mengharapkan kebijakan pemerintah yang menyejahterakan bukan malah membingungkan.
Sebagai warga negara kita berharap dengan pendidikan, kehidupan dirinya dan keluarganya kelak akan lebih baik. Dengan pendidikan yang sesuai dengan kemajuan zaman, generasi kita akan fokus dan jauh lebih siap menghadapi masa depannya. Tidak gagap dan bingung.
Pendidikan formal perlu terus berevaluasi diri. Update dan upgrade. Jangan sampai kalah dengan aplikasi android yang sering kali update, sedangkan memori hp kita tidak cukup. Apakah Pendidikan kita sekarang seperti itu? Seolah-olah sudah update, namun tidak mampu menjalankan aplikasinya. Updatenya hanya di headline berita dan diskusi para elite saja.
Kita dibekali oleh Tuhan otak yang tiada batas penyimpanan. Tidak akan lemot jika semakin banyak diupdate ilmu-ilmu pengetahuan. Tapi malah kita sendiri yang membebali otak kita dengan sampah visual. Dan menitipkan separuh hidup kita pada gawai gepeng itu. Termasuk sekarang ini, pendidikan kita sangat tergantung dengan apa yang kita cari melalui hp kita.
***
Sebenarnya dengan sekolah bukan berarti generasi kita tidak mau mencangkul di sawah, tapi dengan sekolah, mencangkul akan lebih mudah, dan tidak akan mengambil hak atas tanah yang bukan miliknya!
Dengan sekolah bukan berarti generasi kita tidak mau jadi ibu rumah tangga, tapi dengan sekolah, seorang wanita akan menjadi madrasatul ula (pendidikan pertama) yang baik untuk anaknya. Bukan malah menelantarkan.
Dengan sekolah bukan berarti generasi kita kelak bekerja harus berdasi, tapi dengan sekolah jika kelak berdasi tidak akan korupsi, kolusi dan menjual bangsa sendiri!!!
Selamat menyambut hari kemerdekaan negara kita. Semoga merdeka juga para siswa dan guru (honorernya). A Luta Continua.

dari Banyumas menyapa Indonesia




