Do’a Sunyi

Sebenarnya, secara langsung saya tidak ada hubungan atau riwayat dengan Dahlan Iskan. Karena memang saya tidak punya keinginan untuk menjadi wartawan. Apalagi bisa connect dengan tokoh hebat seperti beliau. Jauh panggang di atas api. Saya hanya pembaca tulisan-tulisannya saja. Itupun saya tahu ketika tahun 2014 beliau mengikuti konvensi capres dari Partai Demokrat. Saya waktu itu update berita politik, baik lokal maupun nasional.

Di tahun-tahun itulah awal saya belajar menulis. Selain membaca buku dan koran,  juga mencari model, gaya kepenulisan mana yang bisa diadopsi. Karena sering membaca tulisan Dahlan Iskan, sehingga terinpirasi dari gaya beliau yang sering menggunakan kalimat pendek. Bahasa ringkas. Makna padat. Tanpa basa-basi. Langsung kepada inti. Kurang lebih seperti itu. Sayapun berusaha memeras judul tulisan ini. Awalnya berjudul “Ketika yang Dibesarkan Justru Merepotkan: Sepenggal Doa untuk Dahlan Iskan“. Menjadi “Do’a Sunyi”. Meskipun saya tulis di tengah kebisingan pinggir jalan raya Ajibarang-Bumiayu.

Gaya penulisan media cetak –koran— yang memiliki ruang terbatas, wartawan harus pandai memeras kalimat. Sehingga padat makna. Itulah yang membentuk gaya kepenulisan Dahlan Iskan. Pembaca tidak perlu lagi mencari makna yang tersirat. Tidak seperti sekarang. Media daring unlimited karakter. Kita bebas mau menulis sepanjang apa. Hanya saja, daya serap otak dan ketahanan mata pembaca yang sering kali tidak tahan lama.

Saya menuliskan ini sebagai bentuk do’a. Kepada Dahlan Iskan. Karena gaya kepenulisannya, saya bisa belajar memeras kalimat-kata. Meskipun secara otodidak dan dari diskusi dengan para alumni wartawan Jawa Pos –ketika dulu saya di Yogya. Dahlan Iskan menggunakan kode DIS dalam tulisan-tulisannya.

Meskipun tidak ada cita-cita menjadi wartawan, saya malah tertarik melihat cara kerja Dahlan Iskan. Durasi kerja 16 jam bahkan lebih saat menjadi pemimpin di Jawa Pos. Saya belajar dari cerita teman-teman yang pernah menjadi kuli tinta di sana. Banyak para redaktur dan wartawan mereka yang “hidupnya” di kantor. Sebagai seorang Direktur Utama beliau tetap melakukan kerja editorial dan perintah reportase langsung. Bahkan kepada wartawan yang masih muda. Mengecek ke agen-agen bahkan sampai ke percetakan. Pernah dalam sebuah tulisan beliau mengatakan akan tetap jadi wartawan. Sampai beliau terkena penyakit liver. Yang mengharuskannya cangkok hati.       

Setelah dari Jawa Pos – sejak 1982 sampai 2009— kemudian Dirut PLN dan Menteri BUMN, hal yang tidak hilang darinya adalah menulis. Setiap hari. Bahkan sampai hari ini –ketika menjadi tersangka atas pelaporan direksi perusahaan yang beliau besarkan, kita masih bisa membaca catatan-catatannya. Awalnya saya membaca di Facebook. Kini catatan itu, menjadi sebuah media tersendiri. Disway namanya. Akronim dari Dahlan Iskan Way. Terbit perdana 4 Juli 2020. Baru 5 tahun yang lalu. Malah sekarang menjadi sebuah jejaring media daring yang bisa menyentuh sampai tingkat kabupaten. Tentu hal itu mudah dilakukan. Karena pengalaman membesarkan media cetak Jawa Pos dengan modal dan asset minim. Dan sekarang dihadapkan dengan arena media daring. Tentu costnya tidak seperti dulu. Lebih mudah.

Atas kasus yang membelitnya di usia 74 tahun –yang sebenarnya masih tahap penyidikan dan belum gamblang, agaknya kita perlu belajar. Membesarkan sebuah bisnis haruslah cermat. Karena bisa jadi, saat di usia senja, malah itu yang menjadi penjerat. Masa senja menjadi repot sendiri. Dan sebenarnya kita tahu, beliau ingin berkontribusi lebih untuk masyarakat. Sehingga masuk ke politik. Itulah jerat yang sebenarnya beliau sudah bisa menangkap sinyalnya.

Sambil terus menunggu kabar terbaru. Saya merapalkan do’a sebisa saya untuknya. Sekali lagi, meskipun tidak ada hubungan atau riwayat apapun, beliau tetap menjadi inspirasi bagi saya saat belajar menulis. Dari gaya penulisan. Memulai kalimat pertama. Dan memberikan penutup yang kadang terbuka. Tidak final dalam membuat kesimpulan.

Baik Dahlan Iskan ataupun yang lain. Jika sedang tersandung masalah hukum. Baik itu perdata ataupun pidana. Saya tidak akan buru-buru berburuk sangka. Ada hak asas praduga tak bersalah. Semua manusia pernah punya sisi buruk. Meskipun beliau tersandung masalah hukum dan bisa jadi salah. Saya selalu mengawali dengan sudut pandang. Bisa jadi salah, tapi belum tentu jahat.

Apalagi saat ini. Saya mencoba belajar dari para pendiri media. Meskipun jauh dari zamannya. Saya hanya akan mengambil saripati etos kerjanya. Karena saya tahu, pola media cetak dan daring itu berbeda. Caranya beda. Ilmunya beda. Tapi saya yang berasal dari dalam goa ini tetap ingin belajar ke mereka. Saya belajar dari Dahlan Iskan membesarkan Jawa Pos. Dari Goenawan Mohammad menjaga TEMPO. Dan Jakoeb Oetama membawa KOMPAS. Dan tentunya, belajar ikhlas darinya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top