
Curug Song merupakan salah satu destinasi wisata alam yang terletak di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Keindahan air terjun yang dikelilingi hutan pinus dan jati menjadikan tempat ini sebagai salah satu daya tarik wisata di wilayah selatan Banyumas. Meskipun cukup populer, keberadaan Curug Song sebenarnya sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat sekitar sebagai tempat yang asri dan alami. Sebelum dikelola secara resmi, kawasan ini masih tergolong “liar” dalam arti belum memiliki fasilitas wisata yang layak. Barulah sekitar tahun 2015, masyarakat desa bersama pemerintah setempat mulai bergotong royong membuka akses jalan dan memperbaiki jalur menuju air terjun agar lebih mudah dijangkau. Upaya ini kemudian berlanjut hingga akhirnya pada tahun 2019 Curug Song mulai diresmikan dan dikelola secara lebih profesional sebagai objek wisata alam yang terbuka untuk umum.
Curug Song menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Banyumas karena selain memiliki panorama alam yang memukau, tempat ini juga menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat kegiatan edukatif, terutama dalam bidang literasi. Di era modern yang serba digital seperti sekarang, pendekatan literasi yang dikaitkan dengan alam dan budaya lokal menjadi langkah kreatif untuk menumbuhkan minat belajar masyarakat dengan cara yang menyenangkan.
Asal-usul nama “Curug Song” sendiri memiliki makna yang cukup menarik. Dalam bahasa lokal, kata “song” berarti lekukan atau cekungan. Penamaan ini diduga berasal dari bentuk aliran air di bawah air terjun yang membentuk semacam cekungan alami. Seiring waktu, masyarakat setempat terbiasa menyebutnya sebagai “Curug Song,” yang berarti “air terjun dengan cekungan.” Bukan berarti song dalam bahasa inggris yang artinya bernyanyi. Meski tidak banyak sumber tertulis mengenai asal nama tersebut, sebutan ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas khas bagi kawasan wisata tersebut.
Curug Song yang memiliki air terjun utama dengan ketinggian sekitar 45 meter berdiri gagah di tengah kawasan hutan pinus yang rindang. Suara air yang jatuh dari ketinggian berpadu dengan semilir angin menciptakan suasana damai yang sulit ditemukan di perkotaan. Tak hanya menjadi tempat wisata, Curug Song juga kerap menjadi lokasi pertunjukan seni tradisional seperti ebeg atau kuda lumping, yang menjadi wujud nyata pelestarian budaya Banyumas. Kehadiran budaya lokal di tengah alam inilah yang menjadikan Curug Song bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga ruang interaksi antara manusia, alam, dan budaya.
Curug Song sebenarnya bisa menjadi pusat pengembangan literasi alam dan budaya. Melalui kegiatan seperti jelajah alam, pengamatan flora dan fauna, atau menulis catatan lapangan sederhana, oleh pengunjung terutama pelajar. Mulai dari belajar banyak hal tentang pentingnya menjaga ekosistem hingga memahami hubungan manusia dengan lingkungannya. Literasi tidak lagi terbatas pada membaca buku di ruang kelas, tetapi juga membaca alam secara langsung. Di sinilah nilai literasi lingkungan bisa ditanamkan dengan cara yang lebih menyenangkan dan bermakna. Anak-anak dapat belajar bagaimana air mengalir, apa fungsi hutan, dan bagaimana keseimbangan alam harus dijaga agar tetap lestari.
Selain literasi alam, kawasan Curug Song juga membuka peluang besar untuk mengembangkan literasi budaya. Pertunjukan seni lokal seperti kuda lumping, tembang Banyumasan, atau cerita rakyat yang hidup di sekitar masyarakat bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur. Masyarakat setempat dapat diajak untuk menjadi pemandu budaya yang tidak hanya mengenalkan keindahan tempat, tetapi juga kisah dan filosofi yang ada di baliknya. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga “membaca” nilai-nilai kehidupan yang tersimpan dalam budaya Banyumas
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga memberikan peluang besar untuk menumbuhkan literasi digital di kawasan wisata ini. Banyaknya spot foto menarik di Curug Song membuat pengunjung terdorong untuk mengabadikan momen mereka dan membagikannya di media sosial. Dengan demikian, literasi digital tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
Kegiatan yang menghubungkan Curug Song bukan sekadar wisata, tetapi tempat belajar, karena literasi tidak hanya menumbuhkan kecintaan terhadap buku dan pengetahuan, tetapi juga mempererat hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Bayangkan saja, membaca buku di bawah rindangnya pohon pinus sambil mendengar suara air terjun, tentu pengalaman seperti itu akan meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang mengalaminya.
Melalui pengembangan literasi berbasis wisata alam seperti Curug Song, masyarakat Banyumas tidak hanya diajak untuk mencintai alam dan budaya mereka, tetapi juga untuk berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan dukungan berbagai pihak dan semangat kebersamaan, Curug Song dapat menjadi contoh nyata bagaimana sebuah destinasi wisata dapat berperan sebagai ruang pembelajaran, tempat berbagi ilmu, sekaligus wadah pelestarian budaya. Pada akhirnya, Curug Song bukan hanya tempat untuk berlibur dan melepas penat, melainkan juga sumber inspirasi bagi tumbuhnya gerakan literasi yang berakar pada kearifan lokal Banyumas.
Melalui perpaduan alam dan budaya tersebut, Curug Song dapat menjadi ruang pembelajaran yang hidup. Di kawasan ini, masyarakat dan pengunjung dapat mengembangkan literasi alam dan lingkungan dengan memahami ekosistem sekitar, peran hutan, serta pentingnya menjaga kebersihan dan keseimbangan alam. Selain itu, literasi budaya juga dapat berkembang melalui interaksi dengan seni dan tradisi lokal, di mana masyarakat tidak hanya menampilkan pertunjukan, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai dan filosofi budaya Banyumas kepada pengunjung.
Agar upaya pengembangan literasi di Curug Song berjalan optimal, diperlukan sinergi antara pengelola wisata, pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas literasi. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas, misalnya, dapat berkolaborasi dengan pengelola Curug Song untuk mengadakan kegiatan seperti Festival Literasi Alam, pelatihan menulis, atau pembacaan karya sastra di alam terbuka. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat minat baca masyarakat, tetapi juga menjadikan wisata sebagai media pembelajaran yang menyenangkan.
Dengan strategi dan dukungan yang berkelanjutan, Curug Song dapat menjadi contoh nyata bagaimana literasi dapat tumbuh dari alam dan budaya lokal. Wisata ini bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan juga ruang untuk belajar, membaca, menulis, dan berkreasi. Pengembangan literasi di Curug Song pada akhirnya akan memperkuat identitas Banyumas sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan pesona alam, tetapi juga berkomitmen terhadap pendidikan, kebudayaan, dan kesadaran lingkungan.
Faiza Aulia Qonitatunnisa’, lahir di Banyumas tahun 2003. Ia merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman. Menurutnya menulis, lebih tepatnya menulis puisi adalah kehidupan seni paling indah. Bahkan tanpa puisi dunia akan terasa abu-abu dan sunyi. Halo saja di Instagram @faizaaulq.




