
Ia mengakhiri tugasnya sebagai Juru Imunisasi (Jurim) tepat di akhir tahun desember 2021. Tugas yang telah ia lakoni sejak 2007 silam. Bukan waktu sebentar, tentu telah banyak mencicipi asam manis dunia imunisasi. Sebut saja namanya Kak Bunga.
Selama 14 tahun, Kak Bunga telah mengunjungi Posyandu di lorong-lorong kota Kabupaten Bantaeng hingga ke pelosok desa. Berhadapan dengan keragaman karakteristik warga, beragam bentuk penolakan terhadap imunisasi. Bentuk penolakan yang sangat membekas menurut Kak Hasna, ketika dia ditolak dan diacungkan parang oleh salah satu orang tua target posyandu.
Saat itu Kak Bunga dan tim akan melakukan imunisasi kejar. Imunisasi kejar merupakan upaya meningkatkan cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) melalui kunjungan rumah target imunisasi posyandu yang tidak mendapat vaksin saat waktu pelaksanaan posyandu biasa karena ketidakhadiran ibu bayi atau bayi sedang sakit sehingga tidak mendapat vaksin saat pelaksanaan posyandu. Ketika Kak Bunga melakukan kunjungan ke rumah bayi target imunisasi IDL, disitulah salah satu orang tua bayi marah-marah sambil menodongkan parang kepada petugas imunisasi. Meskipun tidak sampai berujung pada tindakan kekerasan tapi tindakan salah satu warga tersebut seketika itu memukul niat Kak Bunga dan tim untuk melanjutkan imunisasi.
Berkat komunikasi yang baik dengan pemerintah desa, dan adanya bantuan dari kepala desa akhirnya memediasi antara tim imunisasi dengan salah satu warga akhirnya warga tersebut tenang dan menyurutkan amarahnya. Berkat mediasi, Kak Bunga juga mengetahui alasan di balik tindakan warga tersebut. Hal itu didasari atas informasi hoax yang massive bertebaran di masyarakat di kala pandemi hingga pasca pandemi dan ketidaktahuan warga tentang IDL, salah satu informasi hoax yang berseliweran di masyarakat “bahwa yang disuntikkan saat posyandu itu adalah vaksin covid-19”.
***
Lima tahun terakhir penyakit asma yang dideritanya semakin parah, dan obat asma tak boleh absen di dalam tasnya. Di jam-jam tertentu sakit asmanya kadang kambuh dan menjadi lebih intens. Tanggung jawab sebagai Jurim bertambah sejak pandemi melanda Indonesia. Tidak hanya menyuntik anak pada imunisasi-imunisasi rutin dan imunisasi anak sekolah, ia juga harus menjadi juru suntik pada vaksinasi covid-19 untuk wilayah kerja Puskesmasnya.
Sejak Indonesia dilanda pandemi covid-19 sejak 2020 lalu. Pelaksanaan imunisasi rutin tetap diupayakan untuk dilaksanakan dengan beberapa syarat. Dengan memastikan anak harus tetap mendapatkan hak sehatnya melalui imunisasi. Maka proses imunisasi dilakukan secara door to door dengan protokol kesehatan yang ketat.
Sebenarnya proses pelaksanaan imunisasi dilakukan sama saja dengan sebelum pandemi melanda. Sebelum terjun ke lapangan untuk posyandu dan imunisasi, Kak Bunga terlebih dahulu memastikan ketersediaan dan ketercukupan logistik imunisasi: terdiri dari vaksin (IDL), cold chain equipment, dan perlengkapan imunisasi. Ketika Ketersediaan logistik imunisasi dirasa kurang, maka untuk memenuhi itu ia akan menyusun microplanning imunisasi. Setali dengan itu, ia juga menyusun tim untuk imunisasi.
Ketika menyusun microplanning Kak Bunga harus mengumpulkan data sasaran dari kader-kader kesehatan di desa-desa atau kelurahan dan menyurati SD/TK/Paud untuk memperoleh data sasaran siswa yang ada di wilayah kerja Puskesmasnya. Setelah proses pengumpulan data, kemudian Kak Bunga menghitung, menyusun kebutuhan vaksin dan perencanaan lainnya. Ketika microplanning telah rampung barulah Kak Bunga melakukan permintaan logistik imunisasi ke Dinas Kesehatan Bidang P2P Seksi Imunisasi dan Surveilance.
Setelah permintaan di approve, saat itu juga Kak Bunga siap-siap untuk ke Dinas Kesehatan mengambil logistik imunisasi. Kadang Kak Bunga harus sendiri berangkat dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan yang berjarak lebih kurang 15 km dengan mengendarai motor dinasnya.
Setelah logistik imunisasi rapi pada tempatnya, Kak Bunga kemudian bergegas kembali ke Puskesmas. Kak Bunga mengendarai motor dinasnya dengan penuh kehati-hatian. Tak berselang lama, ia pun tiba di Puskesmas. Sesampainya di Puskesmas, Kak Bunga kemudian mensortir sesuai kebutuhan imunisasi.
***
Pandemi mengubah wajah imunisasi Indonesia khususnya di Kabupaten Bantaeng, baik dari teknis pelaksanaan hingga capaian imunisasi rutin dan imunisasi anak sekolah/imunisasi lanjutan. Kak Bunga menerangkan pelaksanaan imunisasi di masa pedemi sangat jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat pandemi secara teknis pelaksanaan imunisasi dilakukan secara door to door rumah warga.
Sebelum pelaksanaan imunisasi di sekolah, lazimnya Kak Bunga harus bersurat ke pihak sekolah tentang pelaksanaan imunisasi anak sekolah. Surat imunisasi tersebut dikirimkan melalui media whatsapp. Selanjutnya pihak sekolah meneruskan ke group-group whatsapp parenting.
Dari surat yang telah tersebar ke group-group whatsapp yang di dalamnya terdapat orang tua siswa. Kak Bunga mengatakan tidak sedikit orang tua siswa yang menanyakan perihal imunisasi anak sekolah yang akan dilaksanakan. Melalui guru wali kelas, pertanyaan pun dilayangkan ke Kak Bunga, dan segera ditanggapi oleh Kak Bunga.
Sebelum bergerak ke sasaran, Kak Bunga mendapat pesan whatsapp dari pihak sekolah. Bahwa pihak sekolah melalui guru wali kelas akan mendampingi petugas imunisasi untuk kunjungan door to door di rumah-rumah siswa. Ketika tiba jadwal kunjungan sasaran imunisasi, sembari membawa cool box Kak Bunga membonceng guru wali kelas menuju sekolah sasaran yaitu rumah salah satu siswa kelas 1 di SD.
Selama proses imunisasi, ia dan tim mesti berpindah dari kelurahan yang satu ke kelurahan yang lain, untuk mengunjungi rumah-rumah siswa sasaran. Dan Kak Bunga harus mengunjungi sebanyak 33 siswa kelas 1. Dan masih ada siswa kelas 2 dan 5 dengan jumlah siswa sasaran 78 siswa untuk satu SD dan masih ada beberapa TK-PAUD/SD di wilayah kerja puskesmasnya.
Kak Bunga sedikit was-was selama kunjungan ini. Di pipinya meneteskan biji-biji keringat dan membasahi maskernya. Terbesit dalam hatinya bagaimana jika sakit asma yang dideritanya kambuh selama kunjungan ini. Meski ia telah menyiapkan obatnya, namun itu tidak cukup membuang perasaan was-wasnya.
Saat berpindah antar kelurahan, ia juga mesti berjalan kaki ketika kendaraannya tidak bisa mengakses rumah-rumah siswa sasaran. Dan moment-moment itulah sakit asmanya kambuh.
Kak Bunga tidak hanya berhadapan dengan fakta bahwa sakit asma pasti akan kambuh saja, namun ia juga menjumpai orang tua siswa yang menolak anaknya untuk disuntik. Dari beberapa orang tua siswa yang menolak anaknya untuk disuntik, salah satu berdalih bahwa vaksin yang akan diberikan ke siswa SD adalah vaksin covid-19. Namun, Kak Bunga tidak membiarkan pemahaman itu terus bersarang dipikiran orang tua siswa dan segera ia menerangkannya.
Ia kemudian menjelaskan ke orang tua siswa bahwa “Bukan vaksin covid-19 Bu, karena kalau ada vaksin covid-19 saya mi yang pertama divaksin karena saya Nakes-nya, ini saja saya tidak pernah liat bentuknya botolnya saja tidak pernah liat”. Mencari rumah siswa sebanyak 110 buah rumah, Kak Bunga merasakan sesak semakin menjadi-jadi. Namun, ia tetap bersikukuh untuk menuntaskan Tugasnya. Kerena ia yakin, bahwa setiap anak berhak untuk sehat dan setiap Jurim harus memfasilitasinya.
Firnasrudin Rahim adalah penulis yang berasal dari Desa Wapaejaya Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Selain membaca buku ia gemar berburu buku promo di toko buku kesayangan, Dielaktika Bookshop. Silakan disapa melalui Instagram @firnas_id.




