
Petang lalu Timore berjanji akan memberiku sebuah kalung cantik dari batuan langka yang ia cari di Sungai Deak. Ibu Tesso berkali-kali meledekku kalau Timore merangkai kalung batu indah itu semalaman hanya untukku. Tapi hari ini, hari di mana aku semestinya berjumpa dengan Timore dan menerima kalung istimewa itu, aku justru melihat lelaki terkasihku pergi dengan cara mengerikan yang tak pernah kubayangkan terjadi.
Batu-batu dan segelondongan kayu besar menghantam kekasihku tepat di depan mataku. Kepalaku mendidih, seluruh tubuhku kaku, aku menjerit dan ingin terus menjeritkan namanya barangkali hingga urat leherku putus dan mencoba segera berlari untuk menggapainya. Tetapi seluruh warga adat menahanku untuk tetap di Rumah Tinggi. Aku melihat Ibu Tesso terkulai lemas melihat anaknya tercinta tubuhnya hancur, hanyut dan hilang entah ke mana.
Namaku Kenanga, orang biasa memanggilku Kenang. Aku adalah seorang pelukis yang tentu saja aku gemar berkelana untuk melihat dan menemukan inspirasi untuk lukisan-lukisanku. Sudah sekitar dua bulan aku tinggal di sebuah daerah suku pedalaman di tengah hutan untuk melukis berbagai hal indah yang tidak mudah kutemukan di kota. Daerah yang kusinggahi ini memang sangatlah indah. Penduduk Suku Mewa adalah penduduk tradisional yang masih menjaga keseimbangan semestanya dengan baik.
Para penduduk Mewa setiap pagi-pagi sekali datang ke Sungai Deak untuk meletakkan sesaji di pohon-pohon besar yang berada di bantaran sungai. Bagi kepercayaan Suku Mewa pemberian sesaji adalah bentuk syukur kepada Tuhan atas keberlimpahan makanan dan tempat berteduh, selain itu sesaji-sesaji itu juga bentuk sedekah kepada hewan-hewan di sekitar pohon dan sepanjang sungai. Setelah meletakkan sesaji, mereka merendamkan diri ke dalam air Sungai Deak yang masih sangat jernih. Kegiatan itu mereka sebut sebagai Keling. Dalam proses itu, mereka tidak diperkenankan berbicara atau mengeluarkan suara apapun. Aku melihatnya sebagai bentuk meditasi.
Aku sangat senang bisa bertemu dengan masyarakat Mewa yang sangat menakjubkan ini. sejak pertama kali datang, mereka menyambutku selayaknya aku adalah tamu besar. Padahal aku hanya datang untuk kepentinganku sendiri. Mereka bukan hanya saling menghormati kepada sesama manusia. Kepada hewan-hewan yang tinggal di sana pun mereka sangat menghormati. Mereka tidak pernah mengusir tikus, ular atau hama yang datang ke perkebunan mereka. Bagi mereka tanah ini juga milik para hewan. Jika mereka sebagai manusia bisa menanam dan memanin lagi, maka tidak masalah jika para hewan mengambil sebagian dari milik mereka.
Suatu hari saat aku berkeliling, aku menemukan sebuah tempat indah tidak jauh dari wilayah Mewa. Di tempat itu pohon-pohon besar dan rimbun berjajar, di bawahnya terlihat semak-semak tertata rapi dan jalan-jalan berupa rumput hijau menghampar. Tidak ada seorangpun di sana. Hening, sejuk, dan tenang. Saat aku hendak melangkah memasuki tempat itu, seorang lelaki bertubuh kekar, berambut panjang diikat, menarik tanganku hingga membuatku sedikit terkejut dan berteriak.
“Sstt.. Jangan berisik Nona Kenang, anda mengganggu penghuni Hutan Ramat”
Kedua tangan lelaki itu menggenggam lengan atasku, ia sedikit membungkuk dan menatap mataku. Aku tidak mengenali lelaki ini, selama beberapa hari keberadaanku di Mewa aku baru menjumpainya. Dari mana ia tahu namaku?
“Anda siapa?” tanyaku.
Belum saja ia menjawab pertanyaanku, ia menarik tanganku dan membawaku menjauh dari pintu tempat yang ia sebut sebagai Hutan Ramat menuju sebuah pohon besar yang diatasnya terdapat Rumah Tinggi berukuran kecil.
“Saya Timore, saya adalah penjaga Hutan Ramat, jika nona ingin berkunjung ke Hutan Ramat nona harus menemui saya terlebih dahulu, nanti saya antarkan. Tapi jika nona berkunjung sekarang ini bukan waktu yang tepat”
“Tunggu, bagaimana anda tahu nama saya? Lalu kenapa saya harus meminta anda menemani saya berkunjung ke tempat ini?”
“Mari, nona duduk terlebih dulu, saya akan jelaskan”
Timore mengajakku duduk di sebuah batu yang serupa kursi dan batu besar di tengahnya serupa meja.
“Saya adalah putra Ibu Tesso, tempat di mana anda tinggal di Kampung Mewa. Saya tahu nama anda karena ibu saya selalu menceritakan anda setiap ia mengantar makanan untuk saya ke sini”
“Wah, jadi anda putra Ibu Tesso yang sering diperbincangkan oleh masyarakat Kampung Mewa itu?”
Akhirnya aku tahu mengapa para gadis di Kampung Mewa setiap hari hanya membicarakan nama Timore, rupanya, Timore adalah lelaki yang sangat tampan, caranya berbicara denganku juga lembut, matanya teduh terlebih tubuhnya cukup atletis.
“Ya saya putra Ibu Tesso, ah, apakah saya jadi perbincangan di kampung, nona?”
“Ooo salam kenal ya Timore, panggil saja saya Kenang. Betul Timore, saya sering mendengar anda. Oiya saya ingin tahu ke dalam Hutan Ramat, saya sepertinya ingin melukisnya, apakah boleh?”
“Tentu saja boleh nona, tetapi sekarang para penghuni Hutan Ramat sedang tidur siang, jika nona mau, kita harus perlahan-lahan memasukinya, atau mungkin jika nona mau, nona bisa berkunjung pagi dan sore hari, para penghuni sedang bekerja saat itu”
“Penghuni?”
“Ya. Oh maksud saya para gajah dan hewan-hewan lainnya. Hutan Ramat adalah tempat tinggal mereka. Merekalah yang menjaga tempat tinggal kami agar tidak rusak. Mereka merawat pohon-pohon, semak belukar dan sungai. Tanpa mereka kampung Mewa mungkin sudah habis. Kami sangat menyayangi mereka, karena mereka juga sangat menyayangi kami”.
Sejak pertemuanku dengan Timore, aku semakin banyak mendapat inspirasi melukis. Ia mengenalkanku pada tempat, benda, dan satwa-satwa yang sangat indah dan jarang kutemui di kota. Aku juga mengenalkan padanya lukisan-lukisanku. Kami semakin sering berjalan bersama sampai-sampai warga Kampung Mewa menyebut kami sangat serasi.
Di suatu senja, saat kami duduk melihat pemandangan gajah-gajah bermain di Hutan Ramat dari Rumah Tinggi, Timore menatapku dalam waktu yang cukup lama. Ia tersenyum dan merapikan rambut poniku yang terkibas oleh angin. Tangannya mulai menyentuh pipiku, wajahnya mulai mendekat ke arahku.
“Bisakah nona tidak usah kembali dan tetap tinggal di sini bersama saya? Sepertinya saya jatuh cinta kepada nona”
Aku hanya terdiam, kami masih saling menatap. Tangan Timore mulai berpindah dari pipi menuju sela-sela rambutku, dia semakin dekat. Lalu saat aku menganggukkan kepala, ia mendaratkan bibirnya ke bibirku. Sekejap kami memejam mata dan berkelindan, menambah titik didih dalam jantung kami. Dengan penuh kelembutan kami bercumbu di hadapan Senja Hutan Ramat yang hening dan indah. Lalu perlahan kami membuka mata dan saling berpeluk erat.
Sejenak kami menunduk, lalu kami tertawa. Aku tidak pernah menyangka akan jatuh cinta dengan seorang lelaki dari tengah hutan. Saat kami hendak turun dan pulang menuju kampung, kami mendengar suara derum gajah yang mengerang bersaut-sautan kencang sekali. Seketika Timore berlari menuju Hutan Ramat, dan ia mendapati seorang anak gajah terkapar di tanah dengan kaki bersimbah darah. Di kaki anak gajah itu terjepit sebuah besi tajam besar membuat anak gajah itu tewas. Para gajah besar menderum seperti menangisi anak mereka. Timore dengan sigap menenangkan gajah-gajah dan melepas besi tajam itu dan membasuh anak gajah dengan air.
Selanjutnya kami berjalan pulan menuju kampung. Timore yang semula berbunga-bunga kini tampang murung. Ia terdiam sejak keluar dari Hutan Ramat. Saat kami hampir sampai di kampung, Timore berhenti.
“Nona, ini semua salah saya. Seharusnya saya lebih berhati-hati dalam menjaga mereka, siapa yang melakukan ini? kenapa mereka sangat tega?”
Aku tak bisa menanggapi apapun pernyataan Timore, aku merasakan duka yang mendalam baginya yang telah bertahun-tahun menjaga Hutan Ramat dan seisinya. Aku hanya bisa memeluk dan mengusap bahunya.
“Timore, mari kita pulang dulu saja”
Kami pulang kembali ke rumah dengan penuh kesedihan. Sejak saat itu, Timore semakin sering memeriksa Hutan Ramat. Setiap hari ia menemukan sejumlah besi-besi berbahaya untuk menjebak gajah. Timore sudah melaporkan semua kepada kepala adat. Tetapi hingga beberapa bulan Timore masih terus menemukan jebakan itu.
Hingga di suatu hari saat aku dan Timore berkeliling di Hutan Ramat, kami menemukan sejumlah pohon yang telah ditebang. Timore tampak sangat khawatir, jika burung dan hewan-hewan terluka saat pohon-pohon besar tersebut ditebang. Timore mencoba berkali-bali melaporkan kejadian ini kepada kepala adat. Tetapi mereka hanya menyebut jika melalui izin kepala adat, sejumlah orang dari luar Kampung Mewa ingin meminta pohon-pohon bernilai mahal di Hutan Ramat. Menurut kepala adat, orang-orang itu hanya membutuhkan sedikit aja.
Sembari memandikan anak-anak gajah, Timore menggerutu.
“Sedari dulu, pimpinan adat Mewa telah mengucap sumpah kepada leluhur untuk menjaga semesta Mewa. Hutan Ramat mulai dijaga dengan ketat oleh saya karena hutan-hutan lainnya sudah hampir habis, kami sedang berusaha untuk merawatnya kembali dengan para gajah. Tetapi pimpinan adat seperti lupa dengan janjinya”.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan Timore?”
“Entahlah, para pimpinan adat sangat keras kepala. Kelestarian Mewa tidak lain adalah berkat ketekunan masyarakat Mewa dan para satwa. Pimpinan nyaris tidak pernah terlibat. Jika ada dari kami yang melawan, mereka akan menumpas kami”
Selama beberapa hari, kami melihat orang-orang kota berkunjung ke rumah pimpinan adat Suku Mewa. Timore dan sejumlah pemuda masyarakat Mewa mendesak pimpinan adat untuk tidak perlu terlalu dekat dengan masyarakat luar. Terlebih mereka-mereka yang berniat merampas hutan. Akhirnya dari desakan masyarakat, orang-orang kota itu tidak lagi terlihat datang ke kampung Mewa.
Hari berlalu, kerisauan masyarakat Mewa mulai mereda. Tetapi suatu ketika di tengah malam aku dan Ibu Tesso serta masyarakat Mewa lainnya mendengar suara mesin penebang pohon dari arah Hutan Ramat. Seluruh masyarakat keluar dari rumah dan bertanya-tanya mengenai suara itu. Tidak lama dari kami meributkan suara itu di luar, Timore datang dengan wajah penuh amarah menuju rumah pimpinan adat.
“Keluar, keluarlah bapa. Apa yang anda lakukan kepada tanah anda sendiri. Kehancuran sudah tiba. Anda harus bertanggung jawab”
Pimpinan adat akhirnya keluar dan mulai berbicara
“Maafkan saya, sebelumnya saya telah berusaha menolak orang-orang asing untuk datang kesini, saya pikir mereka tidak akan merusak”
Masyarakat geram, mereka bersorak-sorak menyumpahi pimpian adat. Saat suasana semakin riuh, tiba-tiba dari kejauhan tampak asap dan kobaran api menyala. Hutan Ramat telah terbakar. Timore dan para lelaki masyarakat Mewa segera lari menuju hutan menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.
Pagi keesokan hari, tidak seperti pagi biasanya, masyarakat mewa melakukan persembahan besar ke Sungai Deak. mereka memohon ampunan dari leluhur atas serangkaian musibah yang terjadi. Di hari itu aku turut bersama Timore melakukan doa dan Keling bersama dalam air Sungai Deak. saat merendamkan diri di sungai, tanganku menggenggam sebuah batu yang saat kuangkat keluar, batu itu terlihat sangat indah berwarna hijau dengan corak abstrak. Aku menimpannya dalam saku. Setelah prosesi selesai, Timore berkata padaku soal batu yang kutemukan.
“Masyarakat Mewa percaya, jika seorang menemukan batu indah dari sungai saat prosesi Keling, maka orang tersebut mendapat amanah untuk menjaga alam di Mewa, artinya nona telah terpilih menjadi seorang yang juga harus menjaga tanah kami”
“Sungguh?”
“Ya betul. Sebenarnya di dasar Sungai Deak tersimpan emas dan batuan berharga. Jika nona mau, besok atau lusa akan saya buatkan kalung dari batuan cantik itu. saya akan mencarikan batu yang paling indah”
Aku sangat menanti-nanti hari dimana aku bisa memakai kalung yang Timore buat. Akhirnya hari itu tiba, sore ini masyarakat Mewa akan berkumpul untuk makan bersama di Rumah Tinggi Ibu Tesso. Makanan, minuman dan sesaji telah disiapkan. Sebagian masyarakat juga telah berkumpul. Tapi Timore yang kunanti belum juga datang. Aku khawatir jika ia datang terlalu petang akan turun hujan badai seperti beberapa hari belakang.
“Tenang nona, sebentar lagi Timore akan tiba. Dia bilang akan memberi nona sebuah kalung batu Sungai Deak, jadi dia pasti datang” ujar Ibu Tesso menghiburku.
Hari mulai petang, para masyarakat mulai menyantap makan, tetapi Timore belum juga tiba. Benar saja, hujan besar turun bersama angin. Setelah menunggu beberapa waktu dengan penuh kekhawatiran, akhirnya aku melihat Timore berjalan menuju Rumah Tinggi Ibu Tesso. Tapi tiba-tiba kami mendengar suara bergemuruh mengerikan. Aliran air deras berwarna cokelat pekat datang seketika dari tebing Hutan Ramat. Air itu datang begitu cepat dan mulai berada di belakang tempat Timore berjalan menuju kami. Semua orang yang berada di Rumah Tinggi berteriak. Angin semakin besar.
“Timoree.. larilah-larilah Timore, cepat”
Timore telah lari sekencang mungkin tetapi air akhirnya menyambar tubuh Timore, kami melihat Timore berpegangan kepada sebuah pohon. Aku ingin berlari turun dan menggapainya, tetapi bagaimana bisa? Air telah merendam sebagian kaki Rumah Tinggi. Apa aku biarkan saja jika nyawaku menghilang biarlah ia menghilang bersama Timor, atau aku harus bagimana?.
Sekejap kami berdoa, sejekap kami berteriak, sekejap kami menangis merintih, apa yang harus kami lakukan, Timore masih berusaha mencari dahan atau benda yang bisa membantunya bertahan. Lalu dalam waktu yang singkat, kami menyaksikan, banjir membawa batu-batu dan segelondongan kayu besar. Timore kami terhantam batu besar saat dirinya memeluk sebuah pohon. Seketika itu jeritan kami semakin kencang. Timore telah mengapung dan terbawa deras air.
Kampung Mewa telah habis oleh banjir. Hutan Ramat sudah tidak tampak seperti hutan, Sungai Deak penuh dengan bebatuan besar dan kekasihku Timore, hilang entah kemana. Aku telah bersaksi, masyarakat Timore sangat mencintai semestanya, selama ini mereka telah menjaga tanahnya, menjaga satwa, menjaga semua makhluk hidup yang ada. Tapi kini yang kulihat, kejahatan tangan-tangan haus dunia telah menghancurkan mereka.
Lukisan-lukisan yang kubuat menjadi saksi betapa indahnya suku dan wilayah ini. Aku mengakhiri perjalanan melukisku di Mewa dengan lukisan memilukan. Orang-orang berkuasa melakukan hal semaunya, mereka melupakan kehidupan makhluk lainnya.
Tania Rahayu, lahir di Purbalingga pada tahun 2001. Ia menempuh pendidikan di program studi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Gadis asal Desa Bantarbarang ini aktif mengasah kemampuannya melalui Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP). Untuk menjalin silaturahmi, Tania dapat dihubungi melalui Instagram @tanya.rahayu.




