
“Barangkali Mbah Markesot benar. Bahwa peradaban manusia kembali mundur” Yans nyeletuk.
“Mundur gimana to maksudmu?” tanya Yannay.
“Kebanyakan dari mereka sudah tidak mampu melihat bahwa semua komplikasi masalah masyarakat zaman sekarang tidak berdiri sendiri secara kejadian, secara ruang maupun waktu”
‘Mulai lagi nih Si Yans.’ Yannay membatin. Yannay sudah hafal ritme Yans yang suka ngelantur kesana kemari saat ngopi berdua bersamanya. Terutama kalau sedang cerita perkara mbahnya, Mbah Markesot. Dan ketika saat itu datang, Yannay harus bersiap untuk menggali lebih jauh, ilham apa yang masuk ke kepala Yans. Karena terkadang Yans sendiri tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan.
“Jangankan menemukan ribuan garis korelasi komprehensif antara suatu kejadian dan konteks-konteks yang sebenarnya multidimensional. Para pencatat sejarah saja kelelahan sehingga hanya sekadar mencatat kejadian saja. Apalagi masyarakat umum” Yans meneruskan celotehnya.
“Okei, Yans. Sekarang perlahan-lahan. Turunlah kamu dari cakrawala pikirmu. Apa yang kau lihat di sekitarmu tentang ini?”
“Bagaimana mungkin anak muda sekarang membangun peradaban di atas tanah mereka sambil meremehkan nilai yang diwariskan oleh para nenek moyangnya?”
Yannay mengernyitkan dahi.
“Kita lihat saja fenomena malam ini. Orang-orang melupakan sebuah warisan luhur berupa sebuah kalimat, Manunggaling kawula lan gusti”
“Apa pula hubungan antara perayaan malam tahun baru di alun-alun itu dengan Manunggaling kawula lan gusti? Kamu gak lagi mengigau kan?” Yannay makin kebingungan.
Yans malah tersenyum, dan menyeruput kopi yang setengah dingin di depannya.
Yans selalu seperti itu saat berbagi isi kepala dengan Yannay, bahkan mungkin dengan semua orang. Yans tidak suka ‘berdiri frontal’ di depan lawannya. Ia lebih suka menata ulang ‘medan perang’ yang harus dilayaninya. Berlari ke kiri ke kanan dan melingkar. Karena Yans selalu ingat kata mbahnya “Kalau belum mampu tawaf di Ka’bah, paling tidak tawaf-i masalahmu. Lihat masalahmu dari semua titik lingkaran yang mungkin” Ini juga dalam perhitungan strategi komunikasi Yans sebagai usaha agar lawan bicaranya mengalami dialektikanya. Tidak hanya menerima kucuran narasi Yans seperti garis lurus.
“Memang kenapa dengan Manunggaling kawula lan Gusti, Yannay kekasihku?” Yans menggoda
“Hei, janganlah kau menggodaku setelah mencoba meledakkan kepalaku ya!” Yannay menaikkan suaranya, namun diam-diam tersenyum.
Yans malah tertawa seperti habis menang undian jalan sehat. Namun, Yans ahli mengubah wajahnya. Sesaat setelah tertawa, mukanya langsung kembali penuh kedalaman sekaligus keteduhan memandang Yannay. Ia menanti jawaban Yannay.
“Bagaimana kau akan menghubungkan antara penyatuan (manunggaling) diri manusia (kawula) dan (lan) Tuhannya (Gusti), dengan perayaan malam tahun baru di kota, bahkan negeri kita?”
“Tepat di situ Yannay. Itulah titik pijakan di mana hampir kita semua terpeleset”
“Jelaskan lebih banyak, Yans. Aku belum mengerti arahmu” Yannay bangun dari sandaran kursinya, memajukan badan.
“Kata mbahku, Markesot, kawula punya dua lapis makna, yaitu ‘aku’ dan ‘hamba’, ‘rakyat’ atau apapun yang posisinya di bawah dalam struktur sosial. ‘Menyatunya aku dan Tuhan’ dalam konteks individu, biarlah menjadi pengalaman spiritual masing-masing. Tapi yang bisa kita temukan silaturahminya adalah tadabbur dalam konteks sosialnya.”
Yannay masih mendengarkan, tapi kali ini sambil nyeruput kopi milik Yans.
“Menyatunya (manunggaling) rakyat (kawula) dan (lan) Tuhan (Gusti) menjadi bentuk tadabbur lain atas kalimat itu. Maknanya, mata dan hati kita perlu melihat bahwa rakyat, manusia dan Tuhan adalah satu kesatuan. Jika kita melihat dunia dengan disiplin seperti itu, maka kita tak akan menyakiti manusia karena tak mau Tuhan marah, dan kita tidak akan ingkar pada Tuhan karena kita tak ingin laknat Tuhan pada kita menjadi bencana bagi manusia lain”
Tiba-tiba Yans menghela napas. Wajahnya berubah murung.
“Bagaimana bisa Yannay, di kota kita, bahkan di banyak kota lain dalam negeri ini, orang-orang saling beradu nyala kembang api di malam tahun baru ini, padahal di pulau lain di negeri kita, saudara-saudara kita sedang dilanda bencana? Menurutmu apakah itu baik Yannay?” Yans balik menanyai Yannay
“Baik tidaknya tindakan itu tergantung dari titik mana kita berdiri melihat fenomena ini. Akan ada titik pijak yang bisa memunculkan pendapat ‘Memang kenapa? Toh aku tidak mengganggu mereka yang terkena bencana’. Tapi dari titik pijak yang aku pilih, aku bertanya, bagaimana bisa mereka tidak ‘merasa’? Misalnya, apakah mereka tidak membayangkan rasanya jika diri mereka ada di posisi terdampak bencana dan melihat teman-teman satu negerinya saling menyalakan langit dengan kembang api, sedangkan mereka hanya bisa menyalakan malam dengan kecemasan dan doa?”
“Itu dia Yannay. Masyarakat Jawa sekarang hanya memiliki kemampuan rumangsa bisa dan kehilangan bisa rumangsa. Mereka dengan pongah berdiri tanpa ngrumangsani apakah aku akan tetap bisa tegap ketika semua itu menimpa diriku?”
“Bukankah beberapa pihak besar dari Negeri kita sudah menghimbau untuk tidak mengadakan perayaan Yans?”
“Yannay, bukankah sejak dulu segala imbauan di Negeri kita hanya menjadi selebaran yang berlalu begitu saja?”
“Betul juga Yans.” Yannay kembali bersandar, dan mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
“Kecuali himbauan yang akan menambah tebal dompet para penguasa itu. Ups.” Yannay berlagak menutup mulutnya.
“Lalu bagaimana pendapatmu terhadap pembagian puluhan ribu porsi makanan gratis di pusat kota malam ini Yans?” Yannay bertanya sambil menatap sorot-sorot lampu yang menembak langit. Nyala itu berasal dari lampu perayaan tahun baru di alun-alun. Dan mereka memilih menatap lampu-lampu itu dari kejauhan, di suatu tempat ngopi sederhana.
Sepasang kekasih ini, Yans dan Yannay, memang suka menepi dari keramaian. Memandang kembali kejadian demi kejadian dengan jarak. Berlainan arah dari orang-orang yang memperebutkan kuasa dan harta. Mereka hidup hanya secukupnya. Bukan berarti tak mencari uang dan miskin, apalagi fakir. Mereka hanya cukup.
Merespon pertanyaan Yannay, Yans membuka media sosialnya, dan menemukan video dari status teman-temannya yang memperlihatkan suasana di pusat kota.
Orang-orang berebut makanan. Saling dorong sana-sini. Satu orang meraup dua porsi. Bahkan ada yang lima.
Kebahagiaan terlihat menyala di wajah orang-orang yang sekedar jalan-jalan di pusat kota. Padahal, mungkin itu hanya kesenangan sesaat. Mereka jalan-jalan di pusat kota karena tak menemukan kedamaian di rumah dan di dalam dirinya sendiri untuk menutup hari terakhir di tahun ini.
Begitupun para penjual makanan itu. Mereka mendapatkan sensasi senang karena dagangannya bisa ludes dalam waktu kurang dari 5 menit. Untuk kembali lagi pada suasana menunggu pembeli yang sepi di hari-hari berikutnya.
“Lihatlah Yannay. Betapa berantakan mereka. Sedekah berubah menjadi arena sikut-sikutan demi kenyang sesaat. Bukankah martabat mereka akhirnya terbukti bisa kalah oleh kelaparan?” Yans menunjukkan ponselnya pada Yannay
“Tapi Yans, manusia kan memang butuh makan?” Mata Yannay masih menatap video di ponsel Yans
“Manusia butuh makan. Tapi manusia sebenarnya tak butuh saling sikut untuk mendapatkan makanan di event gratisan bukan? Kenapa mereka tak sabar mengantre? Kenapa tak ada regulasi atau pengawalan yang solid dari penyelenggara? Apakah mereka melihat rakyat hanyalah hewan yang perlu diberi makan malam? Kalau masyarakat punya kesadaran tentang sandang, pangan lan papan, mereka bahkan tak akan berebut meskipun tanpa pengawalan”
Yannay kembali mengernyitkan dahi. Kali ini ia menatap Yans.
“Bagaimana bisa kau tiba-tiba meloncat ke sandang, pangan lan punk-punk an? Eh, maksudnya papan. Apa garis singgungnya?” Yannay menagih penjelasan sambil mengetuk-ngetuk meja lagi
“Lihatlah pola urutannya Yannay. Sandang ditempatkan pertama, disusul pangan, baru kemudian papan. Aku rasa ini disebabkan manusia di masa itu sudah menemukan ‘martabat’. Mereka menempatkan sandang yaitu pakaian dalam urutan pertama. Kau lebih baik tidak makan sehari daripada tidak bisa berpakaian sehari bukan?”
“Aku rasa begitu, Yans. Lanjutkan”
“Pakaian bukan hanya tentang kain yang kita kenakan. Tapi sikap dan perilaku kita, tutur kata kita, akhlak kita, itu semua bagian daripada pakaian. Hal-hal semacam itulah yang akan menjaga ketertiban peradaban manusia. Baru kita pentingkan makan. Karena makanan adalah bahan bakar kita untuk tetap hidup. Kenapa papan diletakkan terakhir? Karena toh sejatinya manusia berawal dari kebiasaan nomaden. Bagian itu masih bisa diakali. Yang penting bisa berpakaian dengan baik, dan bisa makan” Yans lebih ekspresif kali ini. Ia menjelaskan sambil menggerakkan tangannya.
“Hubungannya dengan ketertiban pembagian makanan tadi, lewat mana Yans?”
“Jika orang-orang mengutamakan akhlaknya dibandingkan makanannya, mereka akan antre secara tertib dengan sendirinya. Karena mereka sadar, tak perlu sikut sana-sini demi sebungkus nasi. Toh kalau kehabisan, mereka bisa ke kios lain. Kalau tak ada? Mereka bisa berpuasa. Lebih jauh lagi, jika semua orang mengutamakan ‘pakaian’ akhlaknya, orang lain akan membagi makanannya dengan sukarela ketika melihat mereka benar-benar kelaparan dan kehabisan jatah ketika mengantre”
Saat Yans berhenti bicara, Yannay menatapnya lama.
Ada kagum, ada resah, ada cinta yang tidak diucapkan.
“Ternyata, banyak sekali kekeliruan kita dalam bersikap ya, Yans. Dalam keilmuan, kita punya banyak nilai luhur seperti yang kau jelaskan, tapi kita malah berkiblat penuh kepada Barat. Dalam bermasyarakat, kita bahkan tak bisa berempati pada saudara kita yang katanya sebangsa dan setanah air. Lalu bagaimana bisa kita merasa bangga pada diri kita sendiri?”
“Yah, begitulah Yannay. Maka, lebih baik sekarang kita sempatkan berdoa sejenak untuk saudara-saudara kita di seberang sana, dan kembali merenungi diri kita di penghujung tahun ini. Mungkin kita tak bisa memberikan bantuan materi pada daerah bencana itu, tapi do’a kecil yang tulus aku rasa lebih baik daripada tidak sama sekali. ”
“Setelah itu Yans? Mau bicara apa lagi kita?”
Yans berpikir sejenak, kemudian nyengir
“Kita bahas kembali rencana bisnis dan pernikahan kita aja, gimana?”
“Ih, mau banget Yans! Ayok dah ayok!”
“Eitss, sebelum itu, kita berdoa dulu yaa”
“Mari Yans, Mariii”
Sepasang kekasih ini kemudian berdoa sejenak. Mereka menutup mata. Menautkan rasa dalam hening. Yans memegang dadanya sendiri, menunduk. Yannay menyatukan tangannya, mengaitkan jemarinya.
Mereka bukan pemuda yang terjajah simbol-simbol. Mereka percaya bahwa berhasil atau tidaknya sebuah do’a untuk menembus langit, tidak bergantung pada seberapa sempurna mereka memasang pose do’a. Tapi bergantung pada seberapa tulus dan nyawiji rasa mereka dengan Sang Mah Kuasa.
“Nah, udah selesai berdo’a. Kita bahas bisnis dan nikahnya kita yok!” Yannay begitu semangat kali ini.
“Nanti ah, aku mau pesen makan dulu”
Yans bangkit dari kursinya.
“Ih, Yans gimana sih!” Yannay menggerutu, kesal.
“Nona, kita mau membahas perkara serius. Kalau perut kosong, nanti ga fokus dong” Yans nyengir sambil terus berjalan.
“Yaudah ih, aku ikut pesen juga. Tungguin!”
Yannay lari kecil menyusul Yans.
Si Yannay itu. Udahlah pendek, ngejar Yans pake lari kecil. Menggemaskan.
Dyan Uki Widyatmaja adalah penulis kelahiran Kebumen tahun 2005. Ia aktif di komunitas Kebumen Book Party dan Kincir Ilmu. Bisa di halo-halo lewat Instagram: @dyan.uki.




